Cinta Benci


Suatu hari aku pernah sangat mencintai, tetapi aku kehilangan. Aku kehilangan untuk selamanya bukan karena taklagi saling mencintai, tetapi Tuhan-lah yang lebih mencintainya. Kupikir cinta yang lebih besarlah yang akan mendapatkan apa yang cinta itu mau.

Kemudian aku mencari untuk mencintai, tetapi aku terluka. Ketika kupikir dengan mencintai lebih besar walaupun aku berjuang sendirian akan kudapat cinta yang kumau, ternyata tidak. Cinta yang besar itu melukaiku, sangat dalam. Cinta itu berubah benci.

Aku mulai berperasangka lagi tentang cinta. Kemudian aku bertemu dengan cinta yang lainnya. Kita saling mencintai, tetapi terpisahkan. Perpisahan yang ada karena kita mencintai Tuhan yang kita menyebutnya berbeda.

Aku taklagi mau merapal apapun tentang cinta. Aku taklagi berusaha mempersatukan cinta yang berbeda. Tapi suatu hari yang takkusangka, ada satu cinta yang menyapa. Cinta yang pernah hadir di waktu lama kemudian kulupa. Cinta yang aku kenal bukan ketika aku mencintai, tetapi ketika aku membenci. Jemari Tuhan mulai merangkaikan perasaan. Saat aku lelah, saat aku menyerah, Tuhan hadirkan dia.

Ketika aku membenci, saat itu berarti aku sangat mencintai. Perlahan dan pasti kebencian itu mengalahkan perjuangan mempersatukan jarak yang sangat jauh diantara cinta yang nyatanya dekat. Aku mulai mencintai cinta yang Tuhan kirimkan untukku. Cinta yang sesungguhnya. Benci itu taklagi ada, benci itu taklagi padanya, karena benci itu membuatku mengerti satu cinta yang penuh arti. Cinta itu hadir mengucap janji suci, bukan lagi saling membenci tetapi untuk tetap selalu mencintai.

Ayu Ratu Nagari.

Langkah


Mungkin dengan menuliskan tentang dirimu adalah satu cara untukku menyembunyikan rindu yang bahkan sesekali juga aku masih menyebut namamu dalam setiap doaku, berharap Tuhan selalu menyampaikannya kepadamu karena angin taklagi bisa membisikkannya di telingamu.

Rinduku bukan lagi atas cintaku, rinduku adalah caraku perlahan melupakanmu. terimakasih pernah menjadi bagian terindah dalam hatiku. Terimakasih pernah selalu ada untukku. Terimakasih pernah selalu menjadi pendengar terbaik dalam keluh kesahku. Satu hal lagi yang ingin ku ceritakan padamu, seandainya kau bisa lihat dari sana, seseorang telah mempersuntingku. Seseorang yang tak pernah kupinta seperti sosokmu, yang bahkan mencintaiku sepertimu pun juga melebihi dirimu. Seseorang itu adalah suamiku.

Terimakasih masalalu,, terimakasih cinta pertamaku. Langkahku telah berjalan jauh beriringan dengan melepasmu. Kuharap disana, kau bahagia selalu…

 

 

remembering… R.I.P

7 Februari 2009 – 2016

Dia yang Pertama


cinta dalam labyrinth

 

Seseorang menegurku lembut, bertanya meminta pertolongan. Ia tersenyum manis, tatapannya teduh menatapku. Berterimakasih.  Aku tersenyum membalasnya. Pertemuan pertamaku.

Ia melangkahkan kaki ragu-ragu, mengambil tempat di sebelahku. Mengulurkan tangan berjabat denganku, menyebut namanya dan kusebut namaku. Senyumnya yang kedua, perkenalanku yang pertama.

Seseorang itu duduk disampingku setiap harinya dengan wajah ayu dan senyum manisnya  yang sejak pertama membuatku salah tingkah. Aku tak pernah berani menatap matanya danpun jua menyapanya. Dia dengan keanggunan sikapnya yang membuatku mengaguminya diam-diam, dia dengan senyumnya yang menawan membuatku berangan seolah membunuh harapan untuk suatu kedekatan. Untukku, dia terlalu istimewa.

Aku bukan pendiam juga bukan lelaki banyak bincang. Dan dia yang penuh dengan keistimewaannya, seseorang yang dengan keacuhannya membuatku salah tingkah setiap didekatnya, diam seribu bahasa. Aku hanya selalu menyapanya dalam doa-doa saja. Berharap Tuhan mendengar tentang sebuah harapan yang dalam pikirku saja itu terlalu tinggi. Dia bukan yang pertama membuatku suka, tapi dia yang pertama membuatku mengagumi seseorang dengan salah tingkah, yang pertama membuatku diam dengan kikuknya dihadapan wanita,  yang pertama membuatku jatuh cinta dengan segala perjuangan dan pengorbanan dan dia yang pertama membuatku diam-diam menyukainya. Yang aku tahu, nyatanya dia memang seseorang yang berbeda dari sekian wanita.

Seseorang yang istimewa itu, sekarang ada didekatku. Tersenyum jauh lebih manis dari pertama dulu. Aku yang tak pernah berani menatap matanya dulu, kini terlarut dalam memandangnya. Tangannya lembut menggenggam tanganku. Tuhan mendengar doa-doa pengharapanku yang kurasa mustahil itu, dirajutNya benih-benih asmara diantaraku dan dia dari jauh,  merangkainya dengan indah dalam sebuah ikatan. Seseorang itu bukan yang pertama mengisi hidupku, tapi dia seseorang yang pertama kali membuatku menjadi lelaki yang lebih bahagia dan berguna, menjadi diriku yang apadanya, seseorang yang pertama menjadi bagian di keluargaku dan kehidupanku yang lebih indah, seseorang yang pertama mengajarkanku menjadi lebih dewasa, membuat hari-hariku selalu bahagia dengan tawa-tawanya. Dia adalah sesorang wanita yang dengan segala kekurangan dan kelebihannya mampu membuatku mencintainya karenaNya.

 

 

Aku, lelaki yang dulu selalu merasa mustahil memlikinya.

Aku, lelaki yang mencintainya.

Ayu Ratu Nagari

Seseorang dan Keajaiban Dhuha


 

cinta dalam labyrinth

 

Secangkir coklat panas pagi ini begitu nikmat, menghirup udara sejuk diserambi depan dengan hijau daun-daun yang masih basah oleh embun. Burung-burung pipit terbang beramai-ramai beberapa diantaranya mendarat dan mematuk makanan-makanan dari rumput di halaman depan rumahku. Coklat panas yang kuseduh manis terasa. Hari minggu ini masih terlalu pagi.

Aroma coklat yang menyatu dengan sejuknya embun perlahan membawa  pikirku melayang pada silam. Mengingat tentang sebuah pertemuan yang menakjubkan antara aku dan seseorang. Seseorang yang pernah sepintas kuharap dalam angan dan kusebut dalam doa.

Aku ingat ketika dhuha berjamaah pagi itu, entah apa yang sedang kupikirkan. Kulihat dia yang berada di barisan jemaah lelaki bersiap. Aku menunduk ditatapnya, bukan saatnya untuk memandang. Entah pula yang kusebut dalam doa, berharap seseorang dengan khusyuknya. Sekali , dua kali, entah kurasa aku tak selalu banyak menyebutnya.  Hanya sesekali dalam diam, dalam ketidak tahuan mendoakan seseorang, menyebutnya sebagai sebuah harapan.

Mungkin doa- doa sunyi itu yang kini Tuhan kabulkan, keajaiban Dhuha yang begitu menakjubkan. Mempertemukan aku dengan seseorang  dan menyatukan kita dalam sebuah ikatan. Seseorang terhebat yang Tuhan berikan.

 

 

Untuk seseorang yang diam-diam pernah kusebut dalam doa.

Yang mengukir senyum untukku setiap harinya. T.H

Ayu Ratu Nagari 

me, myday, bornday


for the first time iwanna say thankfull to Allah till today .

terimakasih untuk semua perjalanan hingga umur ke 22 tahun ini . terimakasih Allah, segalanya begitu indah di hidup saya.

terimakasih ibu dan bapa , orang tua tercinta saya yang sudah membesarkan saya hingga menjadi seperti sekarang . hal – hal indah yang selama 22 tahun ini beliau berikan kepada saya. membuat saya sanggup berdiri lebih kokoh , mengajarkans aya banyak hal.

terimakasih sahabat , kalian adalah orang-orang lebih hebat yang selalu membuat saya merasa saya tidak sendiri. kalian yang membantu saya susah senang bersama . :’)

terimakasih pengalaman yang menjadi guru paling hebat dihidup saya.

dan terimakasih pendamping paling berarti sekarang dan insyaallah selamanya untuk saya , Tendy Hermawan. terimakasih mengajarkan saya merasakan segala yang indah bersama keluargamu dan keluarga kita, semoga segera terlaksana yang kita nantikan. terimakasih semuanya, hal terindahnya , semoga Allah selalu merestui kita. amin

ImageImage

 

 

 

ImageImage

IMG_20140614_123041

muka bantal ya ini 😀 – pas lagi sakit juga . terimakasih semuaaa :*

Bukit Bintang


   cinta dalam labyrinth

              Rintik hujan malam itu berangsur reda, jalanan kota dan perbukitan berhiaskan dian-dian dengan cahaya sederhana yang indah bergemerlap jingga. Kau selalu bercerita padaku tentang pelangi sehabis hujan, kau selalu bercerita padaku tentang hujan dan romantika ceritanya juga alunan rintiknya yang merdu. Kau takpernah membenci hujan seberapapun derasnya menghujammu, sehebat apa gemuruh yang selalu hadir bersamanya, kau begitu yakin akan melihat pelangi dibulir terakhirnya. Seumur hidupku, aku hanya melihat pelangi dua kali, namun ketika bertemu denganmu, aku melihat pelangi diakhir hujan setiap kali, bahkan dengan cerdasnya kauciptakan sendiri pelangi kecil ketika matahari takbisa menepati janjinya membias pelangi di rintik terakhir hujan beberapa kali. kala itu, kaukatakan padaku bahwa pelangi-pelangi itu kini membias nyata berwujud rupa, aku.

Laju roda mobilmu berhenti disuatu dataran tinggi pedesaan sunyi. Jemarimu menggenggam tanganku membawa langkahku menuruni jalanan sepetak dan membiarkan Honda jazz merahmu terparkir dipinggir jalan. Ditempat ini begitu jarang rumah penduduk. Kulempar pandang melihat sekeliling, sepasang suami istri lanjut usia menyapamu akrab, senyum terurai dari wajahmu seraya taksabar mengajakku kesuatu entah sembari kau balas sapa mereka dengan hangat, keherananku menguap seketika dalam langkah panjangku mengikuti langkahmu hingga terhenti di suatu halaman kosong tepat dibalik rumah berbilik bambu yang didiami sepasang suami istri yang kujumpai di awal jalan.

Hanya seluas delapan meter persegi, rumput-rumput liar tumbuh takberaturan. Pandangku terkesima melihat dataran rendah dibawah kaki kita terhampar begitu luas berhiaskan cahaya lampu-lampu yang begitu megah. Kau mengajakku duduk beralas tanah yang sedikit basah oleh embun dingin angin pegunungan. Tak sedikitpun pandangku beralih dari lautan cahaya yang sangat indah, pertama kali kulihat ribuan bintang berhamburan di atas langit luas tak terhalang. Parodi-parodi keindahan yang dimiliki alam dikehidupan malam yang jarang terjamah.

“Kukira kau akan menunjukkanku lagi bagaimana ajaibnya kau mencipta pelangi bahkan dimalam hari”, ucapku pada lelaki yang sedang duduk dengan tenang memandang hamparan cahaya dari atas bukit ini.

“Ini salah satu yang sama indahnya dengan pelangi, sayang”, ia menjawab lembut sembari membenarkan kacamatanya. “ini adalah Bukit Bintang yang pernah kuceritakan padamu, kaubisa melihat kota Jogja dari atas sini, melihat ribuan bintang tanpa terhalang”.

Aku terdiam, menikmati jutaan cahaya yang terhampar indah. Setetes air jatuh di tanganku, kupandang langit tepat di atas kepalaku, takada hujan. Kuraba disudut mataku, setitik air masih tersisa dipelupuknya.

“Esok, kau akan pergi ke kota barat, pandangkupun tak menjangkau mu. Terima kasih untuk kado terindahnya..”, suaraku melemah, aku tertunduk. Aku meliriknya sepintas, rahang tegasnya, hidungnya yang mancung, mata sipitnya yang terbingkai kacamata, pantulan cahaya bulan yang menerpa kulit wajahnya, si cina yang membuatku selalu mengaguminya. Dia adalah kekasih yang Tuhan kirimkan untukku dengan segala kesempurnaanya. Yang mencintaiku dengan ketulusannya dan menerima aku apa adanya. Aku adalah wanita yang sangat bersyukur memilikinya.

“Selamat ulang tahun, jagoan cantik”, ia mengeluarkan kalung dengan liontin bintang berwarna biru terang dari saku bajunya, memasangkannya dengan manis di leherku. Ia memelukku erat dan berakhir dengan kecupan lembut yang mendarat dikeningku. “Nanti, ketika aku taklagi bisa menghadirkanmu pelangi diakhir hujan, bintang-bintang ini akan menggantikannya menjadi keindahan di rintik terakhirnya”, pandang kami beradu, bersamaan menatap liontin bintang yang kini dengan anggun tergantung diam di dadaku. Ada sesak yang berdesir lirih mengalir bersama laju darahku, mencoba meresapi ucapannya yang aku masih takmengerti.

Bukit Bintang dengan hamparan luas kota Jogja, 14 Juni 2007.

Pertanyaan Bisu


Selamat malam seseorang yang masih selalu diam dipikirku. Ini minggu kesekian sejak kita bertemu lagi, sudah jutaan menit kitalalui dengan cerita yang silih berganti. Wahai kauseorang lelaki, tanpapun kaumengerti, aku masih selalu menulis namamu di lembaran putihku, mengukir namamu di hatiku, dan menyebut namamu dalam setiap doaku.

Masih kauingat kitapernah mengukir mimpi berdua didunia ini? Mimpi dan harapan-harapan yang pernah kitabuat dan kitagantungkan dalam setiap cerita dan doa malam kita pada Tuhan yang kita menyebutnya dengan nama berbeda. Sekarang, kurasa seolah mimpi dan harapan itu tertiup angin, berhambur, terbang kemudian hilang. Hanya serpihan kecil yang tersisa kemudian tersapu hingga terlupa.

Aku selalu tersenyum setiap kali melihat pesan singkatmu di handphoneku, sesering itu kita bertukar kabar kemudian berbagi cerita seharinya hingga larut malam. Entah, akhir-akhir ini pesan singkatmu adalah hal yang menjadi ketakutanku tersendiri. Setiap ketikan kata-katamu membuatku sadar, aku kehilangan kamu yang dulu. Aku selalu mencoba mengembalikan dirimu seperti dulu, berusaha mengingatkanmu pada mimpi-mimpi  dan harapan-harapan kita yang dulu, membuatmu memahami bahwa ada seorang wanita yang takkan pernah diam melihatmu seketika menjadi orang yang berbeda.

Kauselalu berucap lelah dalam pesan-pesan singkat yang kaukirimkan padaku, lelah memperjuangkan kita dan bosan dengan sikapku. Kaulebih memilih diam kemudian menghilang. Hingga malam lalu aku bertemu denganmu, ada segudang tanya yang membebaniku beberapa hari itu, tentang kabar burung yang sempat mampir di telingaku, seandainya kautahu sesak yang menyelinap setiap mendengar apapun tentangmu. Aku hanya seorang wanita biasa, pun-aku bisa merasa kecewa dan terluka. Sedang aku takpernah mendapat penjelasan serupa. Apakah aku egois untuk meminta penjelasan darimu?

Sinar matamu ketika menatapku pekat, mengusap kepalaku, tersenyum kearahku dan memelukku, kebahagian yang semakin membuatku ragu. Kemudian sejenak bisu. Hingga akhirnya kaumembuka ucapan, bertanya padaku tentang kabar itu, tentang wanita itu. Bibirku membeku, bukan, bukan aku tak ingin bertanya namun, terlebih dulu hadir rasa sakit yang menjalar begitu cepat hingga membuat lidahku kelu. Kaubercerita dengan seolah takmengerti perasaanku, tawapun tersungging mudah dibibirmu. Hingga seucap kata mampu terlontar dari mulutku, membuatmu geram dan menyudutkanku. Apakah aku egois untuk meminta sedikit pengertian darimu?

Sayang, sudah kutinggalkan semua lelaki-lelaki itu sesuai keinginanmu, kulepaskan semua demi pintamu yang kupikir kauyang akan membahagiakan aku. Meski takpernah ada lagi pembahasan tentang perasaan dan kejelasan status. Kaumemintaku mengertikanmu, kulakukan pintamu, mengertikanmu dalam kesibukanmu dan sebatas waktumu hingga harus kusimpan diam rindu yang membelenggu. Kaumemintaku membuktikan padamu dan meyakinkanmu? Sayang, mengapa sampai saat ini kausulit percaya pada perasaanku? Kauselalu saja menuduhku dengan banyak lelaki yang sesungguhnya mereka semua taklebih dari seorang teman dihidupku? Tidakkah kaulihat semua usahaku, aku sudah memilihmu dan meninggalkan semua  yang kaubenci demi memintamu mengerti. Tapi, kaulebih memilih bersembunyi dibalik ego dan emosi.  Lucu, pikirku, bagaimana mereka takmendekat pada kita jika yang mereka tahu adanya kau dan aku takmenjalin hubungan istimewa? Kemudian kita cemburu dan marah ketika kita tahu mereka mungkin menginginkan kita? Entah, siapa yang nantinya akan kausalahkan.

Selamat malam seseorang yang masih selalu diam dipikirku. Tidakkah kauingat bagaimana kita menyukai suatu angka dan keunikan berdua, seperti ketika kita berucap rindu tepat pukul 00.00 atau 11.11 kemudian kau berteriak “Flipflop” dengan nada riangmu. apa mungkin kaulupa bagaimana kita tertawa dengan bermacam canda dan cerita jenaka ketika bercengkerama? ataukah semua hanya perkiraanku saja akrena semua kepura-puraanmu semata?Entahlah. Aku merindukan dirimu dengan wajah bersemu malu ketika mata kita beradu.

Kaulelaki yang masih diam dipikirku. Aku menulis ini dengan hati yang berkecamuk-remuk. Dengan pertanyaan-pertanyaan yang masih takmampu terucap dan menimbun di benakku. Masih kuingat bagaimana semudah itu kauucap padaku semua sikapmu adalah agar aku mengerti perasaanmu, tidakkah kaucoba mengerti perasaanku jua? Kau hentikan? Tidak! Kaumempertahankan pendapatmu yang menurutmu benar untukmu, kemudian kaumemelukku seperti tiada yang terjadi mengakhirinya dengan ciuman kecil di keningku, meninggalkanku yang masih terdiam menatapmu kelu. Air mataku jatuh.

Seandainyapun itu keputusan dan pilihanmu, berbahagialah dengan pilihanmu, kuharap ia memahami segala sikapmu seperti aku memahami amarah dan cemburumu. Dan aku taktahu, apakah kepergianmu karena kautakut pada kesetiaanku menghadap Tuhanku lima waktu sedangkan kauingin mengajakku pergi menghadap Tuhan setiap hari minggu? Karena perbedaan itukah kauberhenti memperjuangkan perasaanmu dan perasaanku juga mimpimu dan mimpiku?

dariku yang masih menyimpan pertanyaan-pertanyaan bisu,

dariku yang diam-diam mengumpulkan puing asa yang berlalu…

Ayu Ratu Nagari