Selamat Jalan, Ibu

18:05 –

Jam digital di langit-langit bus itu terpampang. Kualihkan pandang keluar jendela, ramai jalan seolah takberarti apapun. Pikiranku entah kemana seolah mengingat semua kenangan masa kecil sebuah keluarga sederhana yang harmonis dan bahagia. Mataku terpejam lagi, tertidur.

20:20 –

aku terbangun, lagi, kulempar pandang pada jam digital bus itu dari tempat dudukku. Kulirik suamiku disampingku, masih memelukku, memandangku dan mengusap kepalaku penuh kasih. Resah, kulempar pandang lagi keluar jendela, pikirku masih pada Ibu. Air mataku mengalir dengan sendirinya, sedih, gelisah, rindu, entah apa yang sebenarnya. Lamunku berkepanjangan, lamunan untuk ibu. Bibirku mengucap doa, batinku merapal nama ibu, pikirku membayang ibu. Sakit.. ibu kesakitan. Susah.. ibu pasti kesusahan. Lagi, aku terlelap.

23:11 –

Selalu, saat terbangun arah pandangku pada jam digital di dalam bus itu. seolah waktu terlalu lama mengantarku pada ibu. Bagiku hanya ibu sedang menungguku, cemas. Air mata itu mengalir kembali dengan sendirinya. Suamiku, dengan lembut dan sabarnya menghapus lelehan air mata yang terus menerus, mencoba menenangkan. Ibu… tunggu anakmu segera sampai. Lagi, aku terlelap lelah.

01:34 –

masih tetap saat terbangun pandangku pada jam digital didalam bus yang berusaha melaju dengan sangat cepat itu. Sudah dekat. Kubangunkan lelaki tangguh yang setia menjagaku. ‘Bersiap, didepan segera turun’, ucapku lemah. Sesaat, Kondektur bus itu memberitahu kami sampailah pada pemberhentian. Aku berusaha berjalan gegas, namun ternyata langkahku lemah, sadar aku baru saja melahirkan tentu kondisiku belum sebaik sebelumnya. Dengan 2 motor ojek kami melaju ke rumah sakit daerah itu. IGD , langkahku semakin melemah. Adik lakiku menuntun kami memasuki ruangan ibu terbaring kritis. Langkahku terhenti, kaku.

Entah sudah jam berapa, aku taklagi butuh melihat waktu. Waktuku sudah terhenti saat menatap ibuku terbaring lemah dengan segala peralatan medis di tubunya. Melihatku pun tidak, ibu tidur dengan oksigen berlapis untuk membantunya bernafas melalui kerongkongannya. Kucium keningnya, kuusap rambutnya yang mulai memutih, kupeluk tubuh takberdaya nya. Tak ada gerakan, tak ada suara, tak ada pandangan. Ibu tak mampu membalas pelukku, tak mampu membalas salamku, tak mampu memandangku. Hanya air mata yang beberapa kali menetes dari ujung mata kirinya, ku usap lembut, aku tahu ibu mendengarku.

Seperti aku taktahu harus berbuat apa. Kosong, sedih, bingung. Aku takpernah melihatnya sedemikian sakitnya hingga aku tak tahu merasakan apa untuk keadaannya. Kulihat darah itu sudah bercampur dengan air seninya mengalir melalui selang di bagian tubunya. Nafasnya yang masih terdengar tegas kemudian melemah. ‘Bacakan doa, bisikkan kalimah syahadat dan tuntun ibu perlahan’, suamiku menyadarkan aku yang terpaku. Segera, kupeluk tubuh ibu dengan tangan kiriku, kuusap kepalanya lembut dengan tangan kanan ku, perlahan kubisikkan ditelinganya ‘Asyhadualaa illaahaillallah, waasyhaduanna muhammadarrasulullah’, terucap tiga kali dari bibirku. Aku berharap ibu masih mendengarku. Air mataku masih tiada hentinya mengalir. Alarm dari salah satu alat medis di tubuh ibuku berdering nyaring, jantungku berdebar sesak. Nafas ibu tak lagi terdengar. Aku berteriak memanggil suamiku yang berjaga didepan, segera ia berlali memanggil petugas medis. Kulihat tubuh ibuku, badannya terhentak sekali waktu, hanya sekali itu, seolah tanganya terangkat kemudian jatuh. Jantungku seolah terhenti, aku tahu, itu sakaratul maut untuk ibuku. berharap masih mengalir air mata ibuku, nyatanya tidak. Hening. Jantung ibuku sudah taklagi berdetak. Apapun yang mereka lakukan untuk mencoba menenangkanku rasanya sia-sia, aku kehilangan selamanya, 03.30-

Disamping jenazah ibu, aku menangis tersedu. Air mata terus terurai membasahi pipiku. Rumahku ramai, bukan menyambut kami dengan bahagia tapi dengan duka, sesak –

Tubuh ibu terbujur kaku, wajahnya memucat, badannya dingin, terpejam sangat dalam. Kupeluk erat jasadnya untuk terakhir kalinya. Dipusaranya, kini Ibu tidur sendirian, terkubur tanah bertabur bunga. Ibu, aku kesepian-

Allah-

Semua yg berasal dariMu akan kembali lagi kepadaMu. Ada yang datang dan ada yang pergi. Hilang sudah 1 doa paling ijabah, doa seorang ibu.

Ibu-

Terimakasih sudah menjadi wanita paling tangguh selama 25 tahun umurku. Terimakasih semua kasih sayang luar biasa untuk anak-anakmu. Akan selalu kurindu sambutan hangat setiap pulangku, pelukan dan ciuman rindumu, dering telpon dengan nama mu, perhatian dan nasihatmu. Aku akan berusaha menjadi ibu sepertimu untuk anakku, cucumu.

Selamat jalan wanita dengan surga di telapak kakinya. Selamat jalan ibu. Allah lebih menyayangimu. Allah hapus dosa2 mu dari perjuangan sakitmu. Doa ku akan selalu untukmu. I love you ibu… innalillahiwainailahirojiun

Purworejo, 16-08-2017.

Salam rindu, anak perempuanmu

Advertisements

2 thoughts on “Selamat Jalan, Ibu

  1. (“innaa lillahi waa innaa ilaihi raajiuun, Allahumma Ajirnii fii mushibati khairan waa akhlifnii khairan minha”)

    “Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan hanya kepada-Nya kita kembali, ya Allah berikanlah pahala atas musibahku dan gantilah dengan yang lebih baik”

    Semangat dan tabah mbak Rara 😀😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s