Kenangan Kemarin.


Rasanya waktu berputar terlalu cepat

Kemarin,

Kau masih menyambut pulangku dengan senyuman

Kemarin,

Aku masih menciummu dengan kerinduan

Kemarin,

Kau masih memelukku dengan cinta dan kehangatan

Kemarin,

Kau masih menatapku dengan tatapan teduhmu

Kemarin,

Kau masih tersenyum menatapku mengelus perut buncit bakal cucumu

Kemarin,

Kau masih bercerita tentang bapa dan segala rencana kalian

Kemarin,

Kau masih memanggilku dengan tutur halusmu
Sekarang,

Aku hanya bisa melihatmu dalam bingkai fotomu

Memelukmu dalam angan rinduku

Memanggilmu dalam doa-ku

Menyentuhmu dari nisan dan tanah kuburmu
Ibu,

Sekarang aku tahu kehilangan yang sesungguhnya

Kehilanganmu, ibu

Kehilangan hadir dan ragamu

Satu hal yang kau tinggalkan untukku, adikku, suamimu, cucumu dan orang-orang yang mencintaimu,

Kenangan tentangmu ibu..
surabaya, 22 September 2017

Anak perempuanmu, yang kehilanganmu-

Advertisements

Kubur


Tubuhmu terpendam didalam

Berbalut hangat kain kafan

Sendiri, terkubur tanah

Tersiram air, basah

Bertabur bunga semerbak mawar

Berhembus angin bersama kamboja

ibu,

Tidurlah yang tenang disana

Surabaya, 11 September 2017

-anak perempuanmu, yang merindukanmu-

Selamat Jalan, Ibu


18:05 –

Jam digital di langit-langit bus itu terpampang. Kualihkan pandang keluar jendela, ramai jalan seolah takberarti apapun. Pikiranku entah kemana seolah mengingat semua kenangan masa kecil sebuah keluarga sederhana yang harmonis dan bahagia. Mataku terpejam lagi, tertidur.

20:20 –

aku terbangun, lagi, kulempar pandang pada jam digital bus itu dari tempat dudukku. Kulirik suamiku disampingku, masih memelukku, memandangku dan mengusap kepalaku penuh kasih. Resah, kulempar pandang lagi keluar jendela, pikirku masih pada Ibu. Air mataku mengalir dengan sendirinya, sedih, gelisah, rindu, entah apa yang sebenarnya. Lamunku berkepanjangan, lamunan untuk ibu. Bibirku mengucap doa, batinku merapal nama ibu, pikirku membayang ibu. Sakit.. ibu kesakitan. Susah.. ibu pasti kesusahan. Lagi, aku terlelap.

23:11 –

Selalu, saat terbangun arah pandangku pada jam digital di dalam bus itu. seolah waktu terlalu lama mengantarku pada ibu. Bagiku hanya ibu sedang menungguku, cemas. Air mata itu mengalir kembali dengan sendirinya. Suamiku, dengan lembut dan sabarnya menghapus lelehan air mata yang terus menerus, mencoba menenangkan. Ibu… tunggu anakmu segera sampai. Lagi, aku terlelap lelah.

01:34 –

masih tetap saat terbangun pandangku pada jam digital didalam bus yang berusaha melaju dengan sangat cepat itu. Sudah dekat. Kubangunkan lelaki tangguh yang setia menjagaku. ‘Bersiap, didepan segera turun’, ucapku lemah. Sesaat, Kondektur bus itu memberitahu kami sampailah pada pemberhentian. Aku berusaha berjalan gegas, namun ternyata langkahku lemah, sadar aku baru saja melahirkan tentu kondisiku belum sebaik sebelumnya. Dengan 2 motor ojek kami melaju ke rumah sakit daerah itu. IGD , langkahku semakin melemah. Adik lakiku menuntun kami memasuki ruangan ibu terbaring kritis. Langkahku terhenti, kaku.

Entah sudah jam berapa, aku taklagi butuh melihat waktu. Waktuku sudah terhenti saat menatap ibuku terbaring lemah dengan segala peralatan medis di tubunya. Melihatku pun tidak, ibu tidur dengan oksigen berlapis untuk membantunya bernafas melalui kerongkongannya. Kucium keningnya, kuusap rambutnya yang mulai memutih, kupeluk tubuh takberdaya nya. Tak ada gerakan, tak ada suara, tak ada pandangan. Ibu tak mampu membalas pelukku, tak mampu membalas salamku, tak mampu memandangku. Hanya air mata yang beberapa kali menetes dari ujung mata kirinya, ku usap lembut, aku tahu ibu mendengarku.

Seperti aku taktahu harus berbuat apa. Kosong, sedih, bingung. Aku takpernah melihatnya sedemikian sakitnya hingga aku tak tahu merasakan apa untuk keadaannya. Kulihat darah itu sudah bercampur dengan air seninya mengalir melalui selang di bagian tubunya. Nafasnya yang masih terdengar tegas kemudian melemah. ‘Bacakan doa, bisikkan kalimah syahadat dan tuntun ibu perlahan’, suamiku menyadarkan aku yang terpaku. Segera, kupeluk tubuh ibu dengan tangan kiriku, kuusap kepalanya lembut dengan tangan kanan ku, perlahan kubisikkan ditelinganya ‘Asyhadualaa illaahaillallah, waasyhaduanna muhammadarrasulullah’, terucap tiga kali dari bibirku. Aku berharap ibu masih mendengarku. Air mataku masih tiada hentinya mengalir. Alarm dari salah satu alat medis di tubuh ibuku berdering nyaring, jantungku berdebar sesak. Nafas ibu tak lagi terdengar. Aku berteriak memanggil suamiku yang berjaga didepan, segera ia berlali memanggil petugas medis. Kulihat tubuh ibuku, badannya terhentak sekali waktu, hanya sekali itu, seolah tanganya terangkat kemudian jatuh. Jantungku seolah terhenti, aku tahu, itu sakaratul maut untuk ibuku. berharap masih mengalir air mata ibuku, nyatanya tidak. Hening. Jantung ibuku sudah taklagi berdetak. Apapun yang mereka lakukan untuk mencoba menenangkanku rasanya sia-sia, aku kehilangan selamanya, 03.30-

Disamping jenazah ibu, aku menangis tersedu. Air mata terus terurai membasahi pipiku. Rumahku ramai, bukan menyambut kami dengan bahagia tapi dengan duka, sesak –

Tubuh ibu terbujur kaku, wajahnya memucat, badannya dingin, terpejam sangat dalam. Kupeluk erat jasadnya untuk terakhir kalinya. Dipusaranya, kini Ibu tidur sendirian, terkubur tanah bertabur bunga. Ibu, aku kesepian-

Allah-

Semua yg berasal dariMu akan kembali lagi kepadaMu. Ada yang datang dan ada yang pergi. Hilang sudah 1 doa paling ijabah, doa seorang ibu.

Ibu-

Terimakasih sudah menjadi wanita paling tangguh selama 25 tahun umurku. Terimakasih semua kasih sayang luar biasa untuk anak-anakmu. Akan selalu kurindu sambutan hangat setiap pulangku, pelukan dan ciuman rindumu, dering telpon dengan nama mu, perhatian dan nasihatmu. Aku akan berusaha menjadi ibu sepertimu untuk anakku, cucumu.

Selamat jalan wanita dengan surga di telapak kakinya. Selamat jalan ibu. Allah lebih menyayangimu. Allah hapus dosa2 mu dari perjuangan sakitmu. Doa ku akan selalu untukmu. I love you ibu… innalillahiwainailahirojiun

Purworejo, 16-08-2017.

Salam rindu, anak perempuanmu

Cinta Benci


Suatu hari aku pernah sangat mencintai, tetapi aku kehilangan. Aku kehilangan untuk selamanya bukan karena taklagi saling mencintai, tetapi Tuhan-lah yang lebih mencintainya. Kupikir cinta yang lebih besarlah yang akan mendapatkan apa yang cinta itu mau.

Kemudian aku mencari untuk mencintai, tetapi aku terluka. Ketika kupikir dengan mencintai lebih besar walaupun aku berjuang sendirian akan kudapat cinta yang kumau, ternyata tidak. Cinta yang besar itu melukaiku, sangat dalam. Cinta itu berubah benci.

Aku mulai berperasangka lagi tentang cinta. Kemudian aku bertemu dengan cinta yang lainnya. Kita saling mencintai, tetapi terpisahkan. Perpisahan yang ada karena kita mencintai Tuhan yang kita menyebutnya berbeda.

Aku taklagi mau merapal apapun tentang cinta. Aku taklagi berusaha mempersatukan cinta yang berbeda. Tapi suatu hari yang takkusangka, ada satu cinta yang menyapa. Cinta yang pernah hadir di waktu lama kemudian kulupa. Cinta yang aku kenal bukan ketika aku mencintai, tetapi ketika aku membenci. Jemari Tuhan mulai merangkaikan perasaan. Saat aku lelah, saat aku menyerah, Tuhan hadirkan dia.

Ketika aku membenci, saat itu berarti aku sangat mencintai. Perlahan dan pasti kebencian itu mengalahkan perjuangan mempersatukan jarak yang sangat jauh diantara cinta yang nyatanya dekat. Aku mulai mencintai cinta yang Tuhan kirimkan untukku. Cinta yang sesungguhnya. Benci itu taklagi ada, benci itu taklagi padanya, karena benci itu membuatku mengerti satu cinta yang penuh arti. Cinta itu hadir mengucap janji suci, bukan lagi saling membenci tetapi untuk tetap selalu mencintai.

Ayu Ratu Nagari.

Langkah


Mungkin dengan menuliskan tentang dirimu adalah satu cara untukku menyembunyikan rindu yang bahkan sesekali juga aku masih menyebut namamu dalam setiap doaku, berharap Tuhan selalu menyampaikannya kepadamu karena angin taklagi bisa membisikkannya di telingamu.

Rinduku bukan lagi atas cintaku, rinduku adalah caraku perlahan melupakanmu. terimakasih pernah menjadi bagian terindah dalam hatiku. Terimakasih pernah selalu ada untukku. Terimakasih pernah selalu menjadi pendengar terbaik dalam keluh kesahku. Satu hal lagi yang ingin ku ceritakan padamu, seandainya kau bisa lihat dari sana, seseorang telah mempersuntingku. Seseorang yang tak pernah kupinta seperti sosokmu, yang bahkan mencintaiku sepertimu pun juga melebihi dirimu. Seseorang itu adalah suamiku.

Terimakasih masalalu,, terimakasih cinta pertamaku. Langkahku telah berjalan jauh beriringan dengan melepasmu. Kuharap disana, kau bahagia selalu…

 

 

remembering… R.I.P

7 Februari 2009 – 2016

Dia yang Pertama


cinta dalam labyrinth

 

Seseorang menegurku lembut, bertanya meminta pertolongan. Ia tersenyum manis, tatapannya teduh menatapku. Berterimakasih.  Aku tersenyum membalasnya. Pertemuan pertamaku.

Ia melangkahkan kaki ragu-ragu, mengambil tempat di sebelahku. Mengulurkan tangan berjabat denganku, menyebut namanya dan kusebut namaku. Senyumnya yang kedua, perkenalanku yang pertama.

Seseorang itu duduk disampingku setiap harinya dengan wajah ayu dan senyum manisnya  yang sejak pertama membuatku salah tingkah. Aku tak pernah berani menatap matanya danpun jua menyapanya. Dia dengan keanggunan sikapnya yang membuatku mengaguminya diam-diam, dia dengan senyumnya yang menawan membuatku berangan seolah membunuh harapan untuk suatu kedekatan. Untukku, dia terlalu istimewa.

Aku bukan pendiam juga bukan lelaki banyak bincang. Dan dia yang penuh dengan keistimewaannya, seseorang yang dengan keacuhannya membuatku salah tingkah setiap didekatnya, diam seribu bahasa. Aku hanya selalu menyapanya dalam doa-doa saja. Berharap Tuhan mendengar tentang sebuah harapan yang dalam pikirku saja itu terlalu tinggi. Dia bukan yang pertama membuatku suka, tapi dia yang pertama membuatku mengagumi seseorang dengan salah tingkah, yang pertama membuatku diam dengan kikuknya dihadapan wanita,  yang pertama membuatku jatuh cinta dengan segala perjuangan dan pengorbanan dan dia yang pertama membuatku diam-diam menyukainya. Yang aku tahu, nyatanya dia memang seseorang yang berbeda dari sekian wanita.

Seseorang yang istimewa itu, sekarang ada didekatku. Tersenyum jauh lebih manis dari pertama dulu. Aku yang tak pernah berani menatap matanya dulu, kini terlarut dalam memandangnya. Tangannya lembut menggenggam tanganku. Tuhan mendengar doa-doa pengharapanku yang kurasa mustahil itu, dirajutNya benih-benih asmara diantaraku dan dia dari jauh,  merangkainya dengan indah dalam sebuah ikatan. Seseorang itu bukan yang pertama mengisi hidupku, tapi dia seseorang yang pertama kali membuatku menjadi lelaki yang lebih bahagia dan berguna, menjadi diriku yang apadanya, seseorang yang pertama menjadi bagian di keluargaku dan kehidupanku yang lebih indah, seseorang yang pertama mengajarkanku menjadi lebih dewasa, membuat hari-hariku selalu bahagia dengan tawa-tawanya. Dia adalah sesorang wanita yang dengan segala kekurangan dan kelebihannya mampu membuatku mencintainya karenaNya.

 

 

Aku, lelaki yang dulu selalu merasa mustahil memlikinya.

Aku, lelaki yang mencintainya.

Ayu Ratu Nagari

Seseorang dan Keajaiban Dhuha


 

cinta dalam labyrinth

 

Secangkir coklat panas pagi ini begitu nikmat, menghirup udara sejuk diserambi depan dengan hijau daun-daun yang masih basah oleh embun. Burung-burung pipit terbang beramai-ramai beberapa diantaranya mendarat dan mematuk makanan-makanan dari rumput di halaman depan rumahku. Coklat panas yang kuseduh manis terasa. Hari minggu ini masih terlalu pagi.

Aroma coklat yang menyatu dengan sejuknya embun perlahan membawa  pikirku melayang pada silam. Mengingat tentang sebuah pertemuan yang menakjubkan antara aku dan seseorang. Seseorang yang pernah sepintas kuharap dalam angan dan kusebut dalam doa.

Aku ingat ketika dhuha berjamaah pagi itu, entah apa yang sedang kupikirkan. Kulihat dia yang berada di barisan jemaah lelaki bersiap. Aku menunduk ditatapnya, bukan saatnya untuk memandang. Entah pula yang kusebut dalam doa, berharap seseorang dengan khusyuknya. Sekali , dua kali, entah kurasa aku tak selalu banyak menyebutnya.  Hanya sesekali dalam diam, dalam ketidak tahuan mendoakan seseorang, menyebutnya sebagai sebuah harapan.

Mungkin doa- doa sunyi itu yang kini Tuhan kabulkan, keajaiban Dhuha yang begitu menakjubkan. Mempertemukan aku dengan seseorang  dan menyatukan kita dalam sebuah ikatan. Seseorang terhebat yang Tuhan berikan.

 

 

Untuk seseorang yang diam-diam pernah kusebut dalam doa.

Yang mengukir senyum untukku setiap harinya. T.H

Ayu Ratu Nagari