me, myday, bornday


for the first time iwanna say thankfull to Allah till today .

terimakasih untuk semua perjalanan hingga umur ke 22 tahun ini . terimakasih Allah, segalanya begitu indah di hidup saya.

terimakasih ibu dan bapa , orang tua tercinta saya yang sudah membesarkan saya hingga menjadi seperti sekarang . hal – hal indah yang selama 22 tahun ini beliau berikan kepada saya. membuat saya sanggup berdiri lebih kokoh , mengajarkans aya banyak hal.

terimakasih sahabat , kalian adalah orang-orang lebih hebat yang selalu membuat saya merasa saya tidak sendiri. kalian yang membantu saya susah senang bersama . :’)

terimakasih pengalaman yang menjadi guru paling hebat dihidup saya.

dan terimakasih pendamping paling berarti sekarang dan insyaallah selamanya untuk saya , Tendy Hermawan. terimakasih mengajarkan saya merasakan segala yang indah bersama keluargamu dan keluarga kita, semoga segera terlaksana yang kita nantikan. terimakasih semuanya, hal terindahnya , semoga Allah selalu merestui kita. amin

ImageImage

 

 

 

ImageImage

IMG_20140614_123041

muka bantal ya ini 😀 – pas lagi sakit juga . terimakasih semuaaa :*

Advertisements

Bukit Bintang


   cinta dalam labyrinth

              Rintik hujan malam itu berangsur reda, jalanan kota dan perbukitan berhiaskan dian-dian dengan cahaya sederhana yang indah bergemerlap jingga. Kau selalu bercerita padaku tentang pelangi sehabis hujan, kau selalu bercerita padaku tentang hujan dan romantika ceritanya juga alunan rintiknya yang merdu. Kau takpernah membenci hujan seberapapun derasnya menghujammu, sehebat apa gemuruh yang selalu hadir bersamanya, kau begitu yakin akan melihat pelangi dibulir terakhirnya. Seumur hidupku, aku hanya melihat pelangi dua kali, namun ketika bertemu denganmu, aku melihat pelangi diakhir hujan setiap kali, bahkan dengan cerdasnya kauciptakan sendiri pelangi kecil ketika matahari takbisa menepati janjinya membias pelangi di rintik terakhir hujan beberapa kali. kala itu, kaukatakan padaku bahwa pelangi-pelangi itu kini membias nyata berwujud rupa, aku.

Laju roda mobilmu berhenti disuatu dataran tinggi pedesaan sunyi. Jemarimu menggenggam tanganku membawa langkahku menuruni jalanan sepetak dan membiarkan Honda jazz merahmu terparkir dipinggir jalan. Ditempat ini begitu jarang rumah penduduk. Kulempar pandang melihat sekeliling, sepasang suami istri lanjut usia menyapamu akrab, senyum terurai dari wajahmu seraya taksabar mengajakku kesuatu entah sembari kau balas sapa mereka dengan hangat, keherananku menguap seketika dalam langkah panjangku mengikuti langkahmu hingga terhenti di suatu halaman kosong tepat dibalik rumah berbilik bambu yang didiami sepasang suami istri yang kujumpai di awal jalan.

Hanya seluas delapan meter persegi, rumput-rumput liar tumbuh takberaturan. Pandangku terkesima melihat dataran rendah dibawah kaki kita terhampar begitu luas berhiaskan cahaya lampu-lampu yang begitu megah. Kau mengajakku duduk beralas tanah yang sedikit basah oleh embun dingin angin pegunungan. Tak sedikitpun pandangku beralih dari lautan cahaya yang sangat indah, pertama kali kulihat ribuan bintang berhamburan di atas langit luas tak terhalang. Parodi-parodi keindahan yang dimiliki alam dikehidupan malam yang jarang terjamah.

“Kukira kau akan menunjukkanku lagi bagaimana ajaibnya kau mencipta pelangi bahkan dimalam hari”, ucapku pada lelaki yang sedang duduk dengan tenang memandang hamparan cahaya dari atas bukit ini.

“Ini salah satu yang sama indahnya dengan pelangi, sayang”, ia menjawab lembut sembari membenarkan kacamatanya. “ini adalah Bukit Bintang yang pernah kuceritakan padamu, kaubisa melihat kota Jogja dari atas sini, melihat ribuan bintang tanpa terhalang”.

Aku terdiam, menikmati jutaan cahaya yang terhampar indah. Setetes air jatuh di tanganku, kupandang langit tepat di atas kepalaku, takada hujan. Kuraba disudut mataku, setitik air masih tersisa dipelupuknya.

“Esok, kau akan pergi ke kota barat, pandangkupun tak menjangkau mu. Terima kasih untuk kado terindahnya..”, suaraku melemah, aku tertunduk. Aku meliriknya sepintas, rahang tegasnya, hidungnya yang mancung, mata sipitnya yang terbingkai kacamata, pantulan cahaya bulan yang menerpa kulit wajahnya, si cina yang membuatku selalu mengaguminya. Dia adalah kekasih yang Tuhan kirimkan untukku dengan segala kesempurnaanya. Yang mencintaiku dengan ketulusannya dan menerima aku apa adanya. Aku adalah wanita yang sangat bersyukur memilikinya.

“Selamat ulang tahun, jagoan cantik”, ia mengeluarkan kalung dengan liontin bintang berwarna biru terang dari saku bajunya, memasangkannya dengan manis di leherku. Ia memelukku erat dan berakhir dengan kecupan lembut yang mendarat dikeningku. “Nanti, ketika aku taklagi bisa menghadirkanmu pelangi diakhir hujan, bintang-bintang ini akan menggantikannya menjadi keindahan di rintik terakhirnya”, pandang kami beradu, bersamaan menatap liontin bintang yang kini dengan anggun tergantung diam di dadaku. Ada sesak yang berdesir lirih mengalir bersama laju darahku, mencoba meresapi ucapannya yang aku masih takmengerti.

Bukit Bintang dengan hamparan luas kota Jogja, 14 Juni 2007.

Pertanyaan Bisu


Selamat malam seseorang yang masih selalu diam dipikirku. Ini minggu kesekian sejak kita bertemu lagi, sudah jutaan menit kitalalui dengan cerita yang silih berganti. Wahai kauseorang lelaki, tanpapun kaumengerti, aku masih selalu menulis namamu di lembaran putihku, mengukir namamu di hatiku, dan menyebut namamu dalam setiap doaku.

Masih kauingat kitapernah mengukir mimpi berdua didunia ini? Mimpi dan harapan-harapan yang pernah kitabuat dan kitagantungkan dalam setiap cerita dan doa malam kita pada Tuhan yang kita menyebutnya dengan nama berbeda. Sekarang, kurasa seolah mimpi dan harapan itu tertiup angin, berhambur, terbang kemudian hilang. Hanya serpihan kecil yang tersisa kemudian tersapu hingga terlupa.

Aku selalu tersenyum setiap kali melihat pesan singkatmu di handphoneku, sesering itu kita bertukar kabar kemudian berbagi cerita seharinya hingga larut malam. Entah, akhir-akhir ini pesan singkatmu adalah hal yang menjadi ketakutanku tersendiri. Setiap ketikan kata-katamu membuatku sadar, aku kehilangan kamu yang dulu. Aku selalu mencoba mengembalikan dirimu seperti dulu, berusaha mengingatkanmu pada mimpi-mimpi  dan harapan-harapan kita yang dulu, membuatmu memahami bahwa ada seorang wanita yang takkan pernah diam melihatmu seketika menjadi orang yang berbeda.

Kauselalu berucap lelah dalam pesan-pesan singkat yang kaukirimkan padaku, lelah memperjuangkan kita dan bosan dengan sikapku. Kaulebih memilih diam kemudian menghilang. Hingga malam lalu aku bertemu denganmu, ada segudang tanya yang membebaniku beberapa hari itu, tentang kabar burung yang sempat mampir di telingaku, seandainya kautahu sesak yang menyelinap setiap mendengar apapun tentangmu. Aku hanya seorang wanita biasa, pun-aku bisa merasa kecewa dan terluka. Sedang aku takpernah mendapat penjelasan serupa. Apakah aku egois untuk meminta penjelasan darimu?

Sinar matamu ketika menatapku pekat, mengusap kepalaku, tersenyum kearahku dan memelukku, kebahagian yang semakin membuatku ragu. Kemudian sejenak bisu. Hingga akhirnya kaumembuka ucapan, bertanya padaku tentang kabar itu, tentang wanita itu. Bibirku membeku, bukan, bukan aku tak ingin bertanya namun, terlebih dulu hadir rasa sakit yang menjalar begitu cepat hingga membuat lidahku kelu. Kaubercerita dengan seolah takmengerti perasaanku, tawapun tersungging mudah dibibirmu. Hingga seucap kata mampu terlontar dari mulutku, membuatmu geram dan menyudutkanku. Apakah aku egois untuk meminta sedikit pengertian darimu?

Sayang, sudah kutinggalkan semua lelaki-lelaki itu sesuai keinginanmu, kulepaskan semua demi pintamu yang kupikir kauyang akan membahagiakan aku. Meski takpernah ada lagi pembahasan tentang perasaan dan kejelasan status. Kaumemintaku mengertikanmu, kulakukan pintamu, mengertikanmu dalam kesibukanmu dan sebatas waktumu hingga harus kusimpan diam rindu yang membelenggu. Kaumemintaku membuktikan padamu dan meyakinkanmu? Sayang, mengapa sampai saat ini kausulit percaya pada perasaanku? Kauselalu saja menuduhku dengan banyak lelaki yang sesungguhnya mereka semua taklebih dari seorang teman dihidupku? Tidakkah kaulihat semua usahaku, aku sudah memilihmu dan meninggalkan semua  yang kaubenci demi memintamu mengerti. Tapi, kaulebih memilih bersembunyi dibalik ego dan emosi.  Lucu, pikirku, bagaimana mereka takmendekat pada kita jika yang mereka tahu adanya kau dan aku takmenjalin hubungan istimewa? Kemudian kita cemburu dan marah ketika kita tahu mereka mungkin menginginkan kita? Entah, siapa yang nantinya akan kausalahkan.

Selamat malam seseorang yang masih selalu diam dipikirku. Tidakkah kauingat bagaimana kita menyukai suatu angka dan keunikan berdua, seperti ketika kita berucap rindu tepat pukul 00.00 atau 11.11 kemudian kau berteriak “Flipflop” dengan nada riangmu. apa mungkin kaulupa bagaimana kita tertawa dengan bermacam canda dan cerita jenaka ketika bercengkerama? ataukah semua hanya perkiraanku saja akrena semua kepura-puraanmu semata?Entahlah. Aku merindukan dirimu dengan wajah bersemu malu ketika mata kita beradu.

Kaulelaki yang masih diam dipikirku. Aku menulis ini dengan hati yang berkecamuk-remuk. Dengan pertanyaan-pertanyaan yang masih takmampu terucap dan menimbun di benakku. Masih kuingat bagaimana semudah itu kauucap padaku semua sikapmu adalah agar aku mengerti perasaanmu, tidakkah kaucoba mengerti perasaanku jua? Kau hentikan? Tidak! Kaumempertahankan pendapatmu yang menurutmu benar untukmu, kemudian kaumemelukku seperti tiada yang terjadi mengakhirinya dengan ciuman kecil di keningku, meninggalkanku yang masih terdiam menatapmu kelu. Air mataku jatuh.

Seandainyapun itu keputusan dan pilihanmu, berbahagialah dengan pilihanmu, kuharap ia memahami segala sikapmu seperti aku memahami amarah dan cemburumu. Dan aku taktahu, apakah kepergianmu karena kautakut pada kesetiaanku menghadap Tuhanku lima waktu sedangkan kauingin mengajakku pergi menghadap Tuhan setiap hari minggu? Karena perbedaan itukah kauberhenti memperjuangkan perasaanmu dan perasaanku juga mimpimu dan mimpiku?

dariku yang masih menyimpan pertanyaan-pertanyaan bisu,

dariku yang diam-diam mengumpulkan puing asa yang berlalu…

Ayu Ratu Nagari

antara cinta dan menaiki bis


Seperti orang yang menunggu bis. Sebuah bis datang, dan kamu bilang, “Wah.. terlalu penuh, sumpek, bakalan nggak bisa duduk nyaman neh! Aku tunggu bis berikutnya aja deh.”

Kemudian, bis berikutnya datang. Kamu melihatnya dan berkata, “Aduh bisnya kurang asik nih, nggak bagus lagi.. nggak mau ah..”

Bis selanjutnya datang, cool dan kamu berminat, tapi seakan-akan dia tidak melihatmu dan lewat begitu saja.

Bis keempat berhenti di depan kamu. Bis itu kosong, cukup bagus, tapi kamu bilang, “Nggak ada AC nih, bisa kepanasan aku”. Maka kamu membiarkan bis keempat itu pergi.

Waktu terus berlalu, kamu mulai sadar bahwa kamu bisa terlambat pergi ke kantor.

Ketika bis kelima datang, kamu sudah tak sabar, kamu langsung melompat masuk ke dalamnya.

Setelah beberapa lama, kamu akhirnya sadar kalau kamu salah menaiki bis. Bis tersebut jurusannya bukan yang kamu tuju ! Dan kau baru sadar telah menyiakan waktumu sekian lama.

Sering kali seseorang menunggu orang yang benar-benar ‘ideal’ untuk menjadi pasangan hidupnya. Padahal tidak ada orang yang 100% memenuhi keidealan kita. Dan kamupun sekali-kali tidak akan pernah bisa menjadi 100% sesuai keinginan dia.

Tidak ada salahnya memiliki ‘persyaratan’ untuk ‘calon’, tapi tidak ada salahnya juga memberi kesempatan kepada yang berhenti di depan kita.

Tentunya dengan jurusan yang sama seperti yang kita tuju. Apabila ternyata memang tidak cocok, apa boleh buat.. tapi kamu masih bisa berteriak ‘Kiri’! dan keluar dengan sopan.

Maka memberi kesempatan pada yang berhenti di depanmu, semuanya bergantung pada keputusanmu.

Daripada kita harus jalan kaki sendiri menuju kantormu, dalam arti menjalani hidup ini tanpa kehadiran orang yang dikasihi.

Hal ini juga berarti, kalau kebetulan kamu menemukan bis yang kosong, kamu sukai dan bisa kamu percayai, dan tentunya sejurusan dengan tujuanmu, kamu dapat berusaha sebisamu untuk menghentikan bis tersebut di depanmu, agar dia dapat memberi kesempatan kepadamu untuk masuk ke dalamnya. Karena menemukan yang seperti itu adalah suatu berkah yang sangat berharga dan sangat berarti. Bagimu sendiri, dan bagi dia.

Lalu, bis seperti apa yang kamu tunggu ????

Sendang Siena

Dalam Lelap


cinta dalam labyrinth

Tubuhku terbaring diatas brangcart patient, derit roda yang meliuk bergesekan dengan lantai rumah sakit bising kudengar. Pandangku kabur, kepalaku terasa sangat pusing. Langkah kaki mereka membawaku masuk pada suatu ruang putih, seorang wanita disampingku memasukkan cairan melalui selang di pergelangan tangan kiriku. Sekejap, mataku terpejam, ragaku lemah. Aku tertidur, namun aku sadar . Aku ingin terbangun, namun takberdaya. Tangan – tangan itu mengangkat tubuhku dan memindahkannya disuatu ranjang. Memasangkan berbagai benda di tubuhku yang aku tak tahu apa itu. Kurasakan sesuatu benda tajam runcing dan kecil itu menusuk kulitku menembus saluran darah, sesuatu mengalir dalam tubuhku, begitu cepat terasa menyakitkan. Sebisik suara takterdengar jelas, aku hanya merasakan sakit teramat sakit. Ini kali ketujuh sudah benda tajam itu menembus kulitku, aku ingin berteriak namun bisu, rasaku melemah kemudian hilang.

Dalam lelap aku sendiri di ruangan sunyi nun gelap,orang – orang itu hanya memandangku dengan senyum, tubuhku menggigil kedinginan hingga kulihat seorang lelaki diantaranya berjalan mendekatku, mendekapku dengan hangat.

Mataku mengerjap perlahan, aku terjaga dari tidur yang entah berapa lama. Dingin, aku merasa sangat dingin.  Kulempar pandang ke setiap sudut ruangan, berbeda dengan yang kulihat saat aku datang. Seorang pria paruh baya menghampiriku seketika, membelalakkan mataku kemudian cahaya yang sangat terang diarahkannya tepat di pupil mataku hingga menyempit.

“Dingin…”, aku mencoba berucap, sangat lirih, bibirku seakan bergetar.

Pria itu mengangguk, mengambil sebuah spuit dan mengisinya dengan cairan berwarna merah bening, diolesinya bagian dalam siku kiriku dengan kapas alcohol, disuntikkannya cairan itu melalu jarum yang menembus kulitku. Aku tak merasakan sakit kali ini.

Lirih suara gagang pintu kamar itu seakan terbuka. Seorang wanita berambut ikal berwarna hitam dengan seragam hijaunya berjalan ke arahku, wanita itu tersenyum manis. Jari-jari lentiknya mengusap kepalaku lembut, melepaskan ventilator  dari wajahku. Kepalaku terasa berat. Pria berkacamata yang sedari tadi berdiri di depanku berjalan meninggalkan kami berdua dengan tersenyum. Mataku melihat langkahnya yang berjalan keluar dan menghilang di balik pintu. Kualihkan pandang pada wanita yang masih mengusap rambutku, aku tersenyum padanya.

“Kau baik-baik saja , sayang?”, tanyanya penuh perhatian.

Kujawab dengan anggukan kepala, “sedikit pusing”.

“Alhamdulillah, tubuhmu merespon baik, semua berjalan lancar”, ucapnya penuh syukur.

Kulayangkan ingatan sebelum aku terbangun, therapy itu begitu menyakitkan. Namun, ada yang lebih sakit dari ini, mengingat seseorang yang dulu senantiasa menungguku dengan gelisah saat seperti ini. Sejenak, terasa jerih di hatiku.

“Jangan banyak pikiran, ingat pesan saya, ya, sayang”, Dokter Shinta meleburkan lamunanku.

“Aku ingin pulang…”, ucapku lirih menatap matanya.

Aku masih merasa dingin bahkan di hatiku, kupejamkan mata sejenak. Wajah-wajah itu berlalu lalang dipikiranku, gelap, sunyi, setitik air jatuh dari sudut mataku, aku merindukan seseorang …

 

Ayu Ratu Nagari

Bintang


A : ngapain disitu ?

B : sini deh, tumben ya ada bintang

A : iya, romantis banget ngeliatin bintang

B : aku udah lama gak lihat bintang disini , padahal lagi mendung .

A : nggak mendung kok

B : mendung yaa, tuh langit merah

A : aku kangen lihat bintang dari atap seperti ini

B : Nanti bangun rumah tanpa atap aja, bisa lihat bintang terus kan kita

A :  haha, cerdas

B : masuk angin, Sayang. Haha.

 ———————–

Selamat malam bintang-bintang di langit Surabaya 2 November 2013. Selamat malam, Pangeran, terimakasih bintangnya dan terimakasih menemani saya …

Hujan di Wajahku


cinta dalam labyrinth

Pandangku terpaku pada lelaki di sebrang tempat ku duduk, deretan buku yang tertata rapi di rak-rak berwarna coklat yang ada di toko buku ini tak membuatku beralih menatapnya. Kulihat ia sesekali membenarkan posisi duduknya yang berada tepat di depanku, membalik lembar-lembar buku yang tengah ia baca, ku lirik sampul bukunya “Tirai Embun Di Balik Jendela”.

Lelaki itu seperti tersadar ada yang meperhatikannya sedari tadi, bergegas ku alihkan pandang, aku salah tingkah membalik-balik buku yang sedari tadi ku baca. Aku menunduk, kemudian sesekali aku mencoba mengintip dengan menggeser sedikit ke bawah mata buku yang berjudul “Hujan Dari Kamarku” itu.

Seperti bias cermin, lelaki itu sungguh mengingatkanku pada seseorang yang telah berpulang. Tatapan matanya, tubuhnya dan garis wajahnya cerminan indah lukisan Tuhan yang pernah kumiliki sebelumnya. Kedua bola mataku enggan beralih dari menatapnya.

Lelaki itu menutup bukunya kemudian tersenyum ke arahku. Dengan kikuk aku membalas senyumnya. “Tuhan..” , aku mendesar lirih, ada desir di dadaku yang enath kutak tahu apa itu.

Seolah aku gelisah, ada rasa yang berkecamuk pelan namun pasti, pandangku tak ingin beralih. Lelaki itu menatapku heran, ia berjalan menghampiriku tanpa ragu. Degub jantungku semakin tak menentu. Bagaikan pinang dibelah dua, lelaki itu mirip sekali dengan seseorang yang aku takkan pernah lupa, lelaki yang telah pergi untuk selamanya.

“mbak, ada yang salah dengan saya?”, lelaki itu mengejutkanku, tanpa sadar ia sudah berdiri dihadapanku.

“eh.. Tidak mas. Maaf, saya kira mas teman saya, wajahnya mirip. Permisi”, jawaban bodoh yang kulontarkan. Aku gugup tertunduk malu, bergegas meninggalkannya. Lelaki itu menatapku penuh tanya, senyum di bibirnya masih mengembang padaku.

Aku beralih mencari tempat tersembunyi, mencari celah untuk tetep bisa melihatnya diam-diam. aku tertegun, diam dan gelisah. Pikirku tak menentu, entah sedang melayang kemana. Ada gerimis di sudut mataku, gemuruh di hatiku dan mendung di senyumku. Lelaki di sudut meja itu, Tuhan, kau hadirkan seseorang dihadapanku yang serupa dengannya yang telah tiada..

Desir sunyi dihatiku adalah kerinduan semu pada lelaki yang menghadirkan hujan di wajahku …

 

Ayu ratu Nagari