Selamat Jalan, Ibu


18:05 –

Jam digital di langit-langit bus itu terpampang. Kualihkan pandang keluar jendela, ramai jalan seolah takberarti apapun. Pikiranku entah kemana seolah mengingat semua kenangan masa kecil sebuah keluarga sederhana yang harmonis dan bahagia. Mataku terpejam lagi, tertidur.

20:20 –

aku terbangun, lagi, kulempar pandang pada jam digital bus itu dari tempat dudukku. Kulirik suamiku disampingku, masih memelukku, memandangku dan mengusap kepalaku penuh kasih. Resah, kulempar pandang lagi keluar jendela, pikirku masih pada Ibu. Air mataku mengalir dengan sendirinya, sedih, gelisah, rindu, entah apa yang sebenarnya. Lamunku berkepanjangan, lamunan untuk ibu. Bibirku mengucap doa, batinku merapal nama ibu, pikirku membayang ibu. Sakit.. ibu kesakitan. Susah.. ibu pasti kesusahan. Lagi, aku terlelap.

23:11 –

Selalu, saat terbangun arah pandangku pada jam digital di dalam bus itu. seolah waktu terlalu lama mengantarku pada ibu. Bagiku hanya ibu sedang menungguku, cemas. Air mata itu mengalir kembali dengan sendirinya. Suamiku, dengan lembut dan sabarnya menghapus lelehan air mata yang terus menerus, mencoba menenangkan. Ibu… tunggu anakmu segera sampai. Lagi, aku terlelap lelah.

01:34 –

masih tetap saat terbangun pandangku pada jam digital didalam bus yang berusaha melaju dengan sangat cepat itu. Sudah dekat. Kubangunkan lelaki tangguh yang setia menjagaku. ‘Bersiap, didepan segera turun’, ucapku lemah. Sesaat, Kondektur bus itu memberitahu kami sampailah pada pemberhentian. Aku berusaha berjalan gegas, namun ternyata langkahku lemah, sadar aku baru saja melahirkan tentu kondisiku belum sebaik sebelumnya. Dengan 2 motor ojek kami melaju ke rumah sakit daerah itu. IGD , langkahku semakin melemah. Adik lakiku menuntun kami memasuki ruangan ibu terbaring kritis. Langkahku terhenti, kaku.

Entah sudah jam berapa, aku taklagi butuh melihat waktu. Waktuku sudah terhenti saat menatap ibuku terbaring lemah dengan segala peralatan medis di tubunya. Melihatku pun tidak, ibu tidur dengan oksigen berlapis untuk membantunya bernafas melalui kerongkongannya. Kucium keningnya, kuusap rambutnya yang mulai memutih, kupeluk tubuh takberdaya nya. Tak ada gerakan, tak ada suara, tak ada pandangan. Ibu tak mampu membalas pelukku, tak mampu membalas salamku, tak mampu memandangku. Hanya air mata yang beberapa kali menetes dari ujung mata kirinya, ku usap lembut, aku tahu ibu mendengarku.

Seperti aku taktahu harus berbuat apa. Kosong, sedih, bingung. Aku takpernah melihatnya sedemikian sakitnya hingga aku tak tahu merasakan apa untuk keadaannya. Kulihat darah itu sudah bercampur dengan air seninya mengalir melalui selang di bagian tubunya. Nafasnya yang masih terdengar tegas kemudian melemah. ‘Bacakan doa, bisikkan kalimah syahadat dan tuntun ibu perlahan’, suamiku menyadarkan aku yang terpaku. Segera, kupeluk tubuh ibu dengan tangan kiriku, kuusap kepalanya lembut dengan tangan kanan ku, perlahan kubisikkan ditelinganya ‘Asyhadualaa illaahaillallah, waasyhaduanna muhammadarrasulullah’, terucap tiga kali dari bibirku. Aku berharap ibu masih mendengarku. Air mataku masih tiada hentinya mengalir. Alarm dari salah satu alat medis di tubuh ibuku berdering nyaring, jantungku berdebar sesak. Nafas ibu tak lagi terdengar. Aku berteriak memanggil suamiku yang berjaga didepan, segera ia berlali memanggil petugas medis. Kulihat tubuh ibuku, badannya terhentak sekali waktu, hanya sekali itu, seolah tanganya terangkat kemudian jatuh. Jantungku seolah terhenti, aku tahu, itu sakaratul maut untuk ibuku. berharap masih mengalir air mata ibuku, nyatanya tidak. Hening. Jantung ibuku sudah taklagi berdetak. Apapun yang mereka lakukan untuk mencoba menenangkanku rasanya sia-sia, aku kehilangan selamanya, 03.30-

Disamping jenazah ibu, aku menangis tersedu. Air mata terus terurai membasahi pipiku. Rumahku ramai, bukan menyambut kami dengan bahagia tapi dengan duka, sesak –

Tubuh ibu terbujur kaku, wajahnya memucat, badannya dingin, terpejam sangat dalam. Kupeluk erat jasadnya untuk terakhir kalinya. Dipusaranya, kini Ibu tidur sendirian, terkubur tanah bertabur bunga. Ibu, aku kesepian-

Allah-

Semua yg berasal dariMu akan kembali lagi kepadaMu. Ada yang datang dan ada yang pergi. Hilang sudah 1 doa paling ijabah, doa seorang ibu.

Ibu-

Terimakasih sudah menjadi wanita paling tangguh selama 25 tahun umurku. Terimakasih semua kasih sayang luar biasa untuk anak-anakmu. Akan selalu kurindu sambutan hangat setiap pulangku, pelukan dan ciuman rindumu, dering telpon dengan nama mu, perhatian dan nasihatmu. Aku akan berusaha menjadi ibu sepertimu untuk anakku, cucumu.

Selamat jalan wanita dengan surga di telapak kakinya. Selamat jalan ibu. Allah lebih menyayangimu. Allah hapus dosa2 mu dari perjuangan sakitmu. Doa ku akan selalu untukmu. I love you ibu… innalillahiwainailahirojiun

Purworejo, 16-08-2017.

Salam rindu, anak perempuanmu

Cinta Benci


Suatu hari aku pernah sangat mencintai, tetapi aku kehilangan. Aku kehilangan untuk selamanya bukan karena taklagi saling mencintai, tetapi Tuhan-lah yang lebih mencintainya. Kupikir cinta yang lebih besarlah yang akan mendapatkan apa yang cinta itu mau.

Kemudian aku mencari untuk mencintai, tetapi aku terluka. Ketika kupikir dengan mencintai lebih besar walaupun aku berjuang sendirian akan kudapat cinta yang kumau, ternyata tidak. Cinta yang besar itu melukaiku, sangat dalam. Cinta itu berubah benci.

Aku mulai berperasangka lagi tentang cinta. Kemudian aku bertemu dengan cinta yang lainnya. Kita saling mencintai, tetapi terpisahkan. Perpisahan yang ada karena kita mencintai Tuhan yang kita menyebutnya berbeda.

Aku taklagi mau merapal apapun tentang cinta. Aku taklagi berusaha mempersatukan cinta yang berbeda. Tapi suatu hari yang takkusangka, ada satu cinta yang menyapa. Cinta yang pernah hadir di waktu lama kemudian kulupa. Cinta yang aku kenal bukan ketika aku mencintai, tetapi ketika aku membenci. Jemari Tuhan mulai merangkaikan perasaan. Saat aku lelah, saat aku menyerah, Tuhan hadirkan dia.

Ketika aku membenci, saat itu berarti aku sangat mencintai. Perlahan dan pasti kebencian itu mengalahkan perjuangan mempersatukan jarak yang sangat jauh diantara cinta yang nyatanya dekat. Aku mulai mencintai cinta yang Tuhan kirimkan untukku. Cinta yang sesungguhnya. Benci itu taklagi ada, benci itu taklagi padanya, karena benci itu membuatku mengerti satu cinta yang penuh arti. Cinta itu hadir mengucap janji suci, bukan lagi saling membenci tetapi untuk tetap selalu mencintai.

Ayu Ratu Nagari.

me, myday, bornday


for the first time iwanna say thankfull to Allah till today .

terimakasih untuk semua perjalanan hingga umur ke 22 tahun ini . terimakasih Allah, segalanya begitu indah di hidup saya.

terimakasih ibu dan bapa , orang tua tercinta saya yang sudah membesarkan saya hingga menjadi seperti sekarang . hal – hal indah yang selama 22 tahun ini beliau berikan kepada saya. membuat saya sanggup berdiri lebih kokoh , mengajarkans aya banyak hal.

terimakasih sahabat , kalian adalah orang-orang lebih hebat yang selalu membuat saya merasa saya tidak sendiri. kalian yang membantu saya susah senang bersama . :’)

terimakasih pengalaman yang menjadi guru paling hebat dihidup saya.

dan terimakasih pendamping paling berarti sekarang dan insyaallah selamanya untuk saya , Tendy Hermawan. terimakasih mengajarkan saya merasakan segala yang indah bersama keluargamu dan keluarga kita, semoga segera terlaksana yang kita nantikan. terimakasih semuanya, hal terindahnya , semoga Allah selalu merestui kita. amin

ImageImage

 

 

 

ImageImage

IMG_20140614_123041

muka bantal ya ini 😀 – pas lagi sakit juga . terimakasih semuaaa :*

Bintang


A : ngapain disitu ?

B : sini deh, tumben ya ada bintang

A : iya, romantis banget ngeliatin bintang

B : aku udah lama gak lihat bintang disini , padahal lagi mendung .

A : nggak mendung kok

B : mendung yaa, tuh langit merah

A : aku kangen lihat bintang dari atap seperti ini

B : Nanti bangun rumah tanpa atap aja, bisa lihat bintang terus kan kita

A :  haha, cerdas

B : masuk angin, Sayang. Haha.

 ———————–

Selamat malam bintang-bintang di langit Surabaya 2 November 2013. Selamat malam, Pangeran, terimakasih bintangnya dan terimakasih menemani saya …

wonder woman


+ : “mungkin bulan depan aku pulang”

– : “bagaimana bisa aku membiarkanmu sendirian”

+ : “kenapa? bukankah aku sudah biasa seperti ini sedaridulu?”

– : “aku selalu mengkhawatirkanmu, tidakkah kautahu?”

+ : “akutahu, terimakasih kauselalu mengkhawatirkanku.

        aku kan wonder woman, tenang saja”

– : “Percaya deh, yang wonder woman”

+ : “tapi, wonder woman juga punya hati” 

 

 

 

Edelweiss di makammu


cinta dalam labyrinth

Siang terik di kota kita, 4 tahun silam. Di bawah rindang pohon beringin di halaman rumah peninggalan Belanda yang masih lekat dengan aksen bangunan tua beberapa abad yang lalu, aku duduk dengan seorang lelaki jangkung berwajah oriental, matanya yang sipit selalu terbingkai kacamata fullframe hitam yang cocok. Kami bersadar pada dahan pohon beringin berumur ratusan tahun yang masih kokoh, menghadap pada  rumah ber-cat putih dengan jendela-jendela panjang kuno yang teduh dengan bermacam-macam tanaman gantung yang berjajar warna-warni di dinding-dinding dan pelatarannya.

“Apa yang kau bawa dari pendakianmu, Jagoan Cantik?”, tanyanya menatap seikat bunga di genggamanku sambil mengusap-usap kepalaku – kebiasaan yang sering ia lakukan padaku, alisnya mengernyit.

“Ini Edelweiss , si Bunga Abadi”, aku menjawab dengan senyum sembari menyodorkan seikat Edelweis putih padanya yang ku-dapat dari seorang penduduk di belantara padang edelweiss ketika pendakian.

“Bunga Abadi?”, tanyanya kebingungan. “Apa yang dimaksud bunga abadi? Ia tidak punah? Hmm.. Bunga yang sederhana ini memang cukup cantik dan unik”, ia berdeham berlaga seorang detektif dengan membentuk checkmark dari ibu jari dan telunjukkan di antara dagunya, membolak balik seraya mencari sesuatu untuk di-amati dari seikat bunga edelweiss yang diambilnya dari genggamanku.

“Hi, Jurnalis Tampan, gayamu semacam detektif saja”, godaku mengangkat dagunya, ia tersenyum sangat tampan. “Ini bunga Edelweiss yang pernah ku ceritakan padamu dahulu, bunga yang pernah ku-janjikan akan ku-bawakan untukmu”, aku merapikan dudukku. Ia menatapku, bergegas mengambil botol bekas air mineral di sebelahnya, memasukkan bunga edelweiss itu ke dalamnya dan diletakkan-nya tepat di depan kita. Beberapa detik kami terdiam.

Kulayangkan pikirku dan pandangku, mencoba menjelaskan pada lelaki disebelahku (kekasihku), “Bunga itu memang sederhana, tapi di kesederhana-an-nya dia sangat istimewa. Warnanya yang putih, orang sering bilang itu lambang cinta, dan ketulusan. Letaknya yang hanya ada di puncak-puncak gunung tinggi adalah lambang suatu pengorbanan dan Edelweiss adalah bunga yang bisa bertahan lama, itu mengapa bunga ini adalah lambang keabadian”.

“Dan kau adalah bias dari bunga abadi ini”, ucapnya lembut dan tatapan matanya mendalam padaku. “Sekarang aku tahu, mengapa kau selalu mengagumi Edelweiss, dan sekarang yang harus kau tahu, aku menyukai Edelweiss karena ia sepertimu”, ia mengecup kening-ku lembut, tersenyum memandang Edelweiss dihadapan kami.

Angin sepoi-sepoi berhembus menyentuh kulit kita, bisik suaranya lembut di telinga, beberapa daun berjatuhan tertiup hembusannya. Mata kita tak beralih dari si bunga abadi yang anggun di genggamannya.

“Bunga ini boleh untuk-ku? Agar saat nanti kita jauh, aku selalu mengingatmu seperti bunga abadi ini…”, pintanya berucap lirih seolah berbisik, tatapan matanya redup pandangnya melayang entah.

“Itu untukmu, sayang..” , aku tersenyum lembut menatapnya. Pandangnya beralih padaku, ia memelukku sangat erat. Ada rasa yang aku tak mengerti apa,aku wanita yang sangat mencintainya, hatiku berdesir, dingin, aku takut….

          -Bandung, 2008

——————————-

          “Bangunlah, sayang. Bukankah kau berjanji akan menemaniku saat aku pulang? Bukankah kau ingin segera bertemu denganku?”, suaraku serak, ada gerimis di mataku, aku lelaki dan aku menangis.

Tanganku menggenggam erat tangannya yang lemah, mencoba membangunkannya yang telah tertidur tujuh hari lamanya, matanya terpejam sangat lekat, detak jantungnya begitu lemah. Ruangan yang sama seperti 2 tahun lalu. Ketika ia harus terbaring tak sadarkan diri dan aku hanya bisa berharap dan meminta untuk kesembuhannya.

Seperti tubuhnya kesakitan oleh semua benda-benda kedokteran ini, beberapa kali jarum suntik menusuk kulitnya, berbagai cairan yang entah untuk kesekian kalinya mengalir bersama aliran darahnya. Aku tak pernah tega melihatnya yang begitu lemah. Hanya petikan jari berdzikir untuk-nya dengan bibir yang tak henti memanjatkan doa.

“Lihat, sayang, bunga edelweiss pemberianmu dulu masih ada. Aku membawanya lagi untukmu”, air mataku tak tertahan, suaraku semakin berat, kuletakkan bunga edelweiss itu di atas meja yang berada di sebelah kiri ranjang tidurnya. “Kau selalu ingin menjadi seperti edelweiss ini bukan? Bangunlah, aku merindukan tawamu..”

Aku sangat mencintainya, wanita yang selalu memberikan semangatnya untukku, wanita hebat yang Tuhan hadirkan di hidupku, wanita yang memikatku kala pertama bertemu, wanita yang dengan segala kesederhanaanya membawa warna di duniaku, dia inspirasiku, dia, wanita yang selalu kurindukan setelah ibu..

“Tuhan, sembuhkan dia…”, aku terisak lirih, aku takut…

-Jakarta, 2009

——————————-

           Ini minggu pagi di kotanya, hari ini aku tak sendiri meliput berita, ya, aku seorang jurnalis di salah satu surat kabar ternama di Kota Pahlawan. Seorang wanita berambut hitam lurus sebahu, memakai kaos berkerah lengan panjang berwarna biru,jeans denim senada dan sepatu kets sedang menungguku di barisan kursi sebuah halte sebrang taman kota. Bola mata hitamnya yang bulat kecil memandang kearahku yang berjalan menghampirinya, senyumnya sangat manis.

“Masih betah menungguku bertugas, Jagoan Cantik?”, aku mengambi tempat dan duduk tepat di sebelah kanannya.

“Tentu!”, jawabnya bersemangat. Ia tak pernah mengeluh, walaupun aku tahu pasti tubuhnya terlalu peka dengan terik panas, ia selalu berusaha bersikap biasa di depanku. Ia hanya selalu berusaha membuatku bahagia.

“Mengapa kau memandangku se-aneh itu, wahai lelaki?”, ia heran melihatku yang mengamatinya dengan pandangan kosong.

“Kau cantik, bukankah aku sangat suka memandangmu berlama-lama?”, aku mengelak, namun benar, aku selalu suka melihatnya. Wajahnya yang lucu, tawanya, senyumnya juga tingkahnya yang riang.

“Kau sangat pandai merayuku..”, dia tersipu, wajahnya bersemu.

“Ini untukmu, sayang. Pasti kau jenuh”, aku memberikan ice cream blueberry kesukaannya yang ku beli di minimarket sebrang halte bus ini pada wanitaku, dia tertawa lucu.

“Ini tanda damai?”, ia merampas ice cream itu dengan bersemangat. “Baiklah, aku terima. Terimakasih Jurnalis tampan”, dia tertawa renyah. “ Tapi, kukira kau butuh ini untuk mengusap peluh di dahimu”, ia menyodorkan sebungkus wipes tissue kepadaku dengan wajah polos-nya.

“Haha.. Kau tahu yang aku butuh, tapi, alangkah baiknya jika wajahmu lebih ekspresif saat kau memberikannya padaku”, aku tertawa menggodanya sembari menarik hidung mungilnya, ia hanya tersenyum nyengir dan masih sibuk menikmati ice cream kesukaannya. Dia selalu bisa membuatku tersenyum bahagia saat bersamanya. Aku, lelaki yang beruntung memilikinya.

– Surabaya, 2009

——————————-

             Riuh kendaraan yang berlalu lalang, suara klakson mobil yang bersahut-sahutan, anak-anak jalanan yang duduk menengadahkan tangan, teriak penjual asongan yang menjajakan dagangannya, tukang becak yang tertidur di tengah terik, supir-supir angkot yang mengalungkan handuk di lehernya dan pekerja yang berjalan sembari mengusap peluh di dahinya. Beberapa penjual bunga terlihat menawarkan keranjang-keranjang penuh bunga pada orang-orang disekitar.

Aku menoleh kebelakang, menatap seorang wanita paruh baya di dalam mobil sedan hitam yang menepi pada pemberhentian. Wanita itu tersenyum padaku kemudian melambaikan tangan. Kaca pintu depan sebelah kiri-nya mulai tertutup, laju mobilnya berjalan meninggalkanku yang masih berdiri menatapnya berlalu hingga mengihlang di belokan 30 meter di depan.

Tatapku beralih pada hamparan luas pembaringan diam, kakiku melangkah berat tiap tapaknya. Daun-daun kering berhamburan tertiup angin, pohon-pohon besar di tempat ini rindang, anak anak rumput melambai-lambai menyentuh kakiku, hatiku selalu berdetak tak beraturan setiap kali aku memasuki pelataran ini.

Beberapa orang bapak-bapak dan ibu tua berseragam biru panjang lusuh, mengenakan caping dan tangan yang meliuk-liukkan sapu sedang membersihkan tempat ini. Aku mengikuti jalan setapak dengan menundukkan kepala, langkahku terhenti pada satu pembaringan abadi. Nafasku terhela panjang, kutatap nisan bertuliskan :

-Rendra Ega P.H-

Wafat : 7 Februari 2009

            Kakiku lemas, aku duduk bersimpuh, kuletakkan keranjang bunga dan seikat Edelweiss yang kubawa sedari-tadi, tanganku mengusap nisan putih itu, aku selalu tak mampu membendung tanggul air mataku, aku menangis dalam diam.

“Tuhan, aku merindukannya…”, ucapku lirih. Ku-tabur perlahan bunga-bunga dari keranjang yang ku-beli tadi siang  pada pembaringan tidur panjangnya, di atas gundukan tanah yang masih basah oleh air hujan tadi malam.

Pikirku menerawang  jauh, mengingat setiap kenangan yang pernah kulalui bersamanya, mengingat setiap kejadian yang tak akan terlupa, mengingat tawa dan senyumnya, tatapannya dari balik kacamatanya, senyumnya yang sumringah dan sikapnya yang bijaksana. Dia, lelaki yang dengan segala rupawan hati dan sikapnya yang pernah Tuhan hadirkan dihidupku. Aku, wanita yang paling bahagia karenanya.

Kini, aku tahu rasa takut apa yang pernah kurasakan beberapa tahun lalu saat ia memelukku dengan seikat bunga digenggaman tangan kanannya di bawah rindang beringin tua kota Bandung kala itu, saat samar kudengar ia berbisik, “Kau adalah Edelweiss yang selalu hidup dihatiku”.

“ Rasa takut ku itu adalah ketika sekarang harus kuletakkan bunga Edelweiss di makammu…” air mataku mengalir tak tertahan….

-Jakarta 2013

Edelweiss, Edelweiss
Every morning you greet me
Small and white, clean and bright
You look happy to meet me

Blossom of snow may you bloom and grow
Bloom and grow forever

Edelweiss, Edelweiss
Bless my homeland forever

Ayu Ratu Nagari

Tuhan, mengapa kita berbeda?


cinta dalam labyrinth

Mataku terpejam, tanganku menggenggam menahan dingin, lengang jalan tengah malam diatas perbukitan ini sunyi sepi, langit gelap bertabur bintang dengan terang bulan yang indah kulihat, pohon-pohon di setiap ruas jalan sedang memandang kita diam-diam, beberapa kulihat damar-damar redup yang berada berjauhan, bising suara laju motor yang s menerobos pekat, suara kita sayup-sayup terdengar , tertawa lirih dalam perbincangan.

———————–

Aku menikmati secangkir coklat panas kesukaanku di serambi depan, menikmati embun pagi yang beranjak hilang. Ku aduk-aduk perlahan mencari manis yang terendap. Aroma tanah sehabis hujan tercium sangat getir, udara dingin masih menyelimuti langit mendung. Kulirik jam dinding yang berada tepat di sebelah kiri tembok dekat pintu utama , jarum pendek berada di angka enam dan jarum panjang berada di angka tiga.

Minggu pagi di awal September, semalam hujan turun cukup deras mengguyur kotaku yang beberapa bulan terlalu kering, pohon-pohon di halaman rumah ini seolah menari riang menyambut datangnya hujan setelah kemarau panjang, sejuk …

Dering suara handphone yang ku-letakkan di meja sebelah kiri ku berbunyi kencang, Seperti semakin lengkap menikmati pagi ini, aku tersenyum ketika kulihat nama pemanggil yang tertera di layar, Tristan, bergegas aku menerimanya.

“Selamat pagi, Tuan Putri”, sapa nya lembut di sebrang.

“Selamat pagi juga,  Pangeran Katak” , sambutku membalas.

“Minggu pagi yang mendung, senang mendengar suaramu. Aku akan pergi ke Gereja pukul  tujuh. Apa kau akan melakukan ritual yang sama seperti biasanya?”, tanyanya penuh arti. Sejenak aku terdiam, ada sesak perlahan menyusup dalam dada.

“Pergilah beribadah dan aku akan melakukan Shalat Dhuha seperti tiap paginya. Mendung tak mengganggu ibadah kita”, jawabku bersambut senyum tipis yang tak terlihat olehnya.

Coklat panas-ku mulai dingin, tak ada lagi uap. Gerimis mulai turun perlahan. Pandangku menerobos rintik-rintik air yang mulai berjatuhan. Menambah sendu yang datang perlahan, entah apa yang sedang ku-lamunkan. Aku tersadar saat rintik air menyentuh wajahku, hujan semakin deras. Kulangkahkan kaki berjalan cepat memasuki rumah. Dari balik jendela kulihat rintik air menyatu kedalam gelas coklat yang ku tinggalkan di meja serambi depan. Hujan dan coklat dingin …

Aku beranjak dari tempatku, berjalan menuju kamar mandi mengambil wudhlu, kuusap wajah bersamaan bacaan terakhir doa sesudah wudhlu, ku langkahkan kaki menuju ruang sepetak musholah kecil rumahku,  aku mengadu pada Allah, Tuhanku, tanganku menengadah memohon setelah shalat dhuha pagi itu.

Di tempat lain seorang lelaki sedang duduk bersimpuh, kedua tangan dilipat, jemari-jemarinya berkaitan, sikunya disandarkan di atas sebuah mimbar kayu, kepalanya menengadah pada patung kecil dengan satu tubuh yang terpaku pada salib yang berada di tembok atas mimbar sebuah gereja, matanya terpejam, ia sedang berdoa.

—————————–

“ Kau tahu, aku sangat menyayangimu. Mengapa baru sekarang kita sedekat ini? Mengapa harus ada perbedaan?”, tanyaku pada seorang wanita yang sedang duduk manis di hadapanku.

“Aku shalat dulu ya ..”, jawabnya memohon ijin dan diakhiri senyuman yang aku tak mengerti.  Pertanyaanku menguap, aku tahu ia tak akan menjawabnya. Ada rasa takut yang selalu membayang di diriku dan pikiranku yang sering melanglang ketakutan tentang suatu kekhawatiran. Kekhawatiran tentang kita, yang hanya kurasakan sendiri disini.

Aku menunggunya di pelataran masjid, melihat beberapa jamaah wanita yang berbalut hijab seperti dia, beberapa pria dengan peci di kepalanya, pakaian rapi dan wangi berdatangan di rumah Tuhan saat adzan berkumandang lantang berseru memanggil umatNya.

Pikirku entah tak berarah, hanya ada kenangan-kenangan yang sudah terlewatkan berdua. Aku selalu takut bagaimana nanti jika sudah waktunya tiba, jalan kita terpaksa berpisah. Perpisahan yang tak pernah kita harapkan adanya.

Apakah kita yang berbeda tak bisa bersama? Pertanyaan yang sama yang selalu terbesit dalam benak, kutanyakan tanpa henti pada Yesus di hatiku. Menerka teka-teki Tuhan yang sangat rapi tersimpan, rahasia Tuhan yang aku tak berhak mencari tahunya, aku hanya perlu menunggu untuk tujuan yang aku tak pernah tahu ujung dan akhirnya.

Ku pegang kalung salib yang melingkar di leherku, ku genggam liontin kecil dengan pahatan Yesus itu, tanganku bergetar. Selalu ada harapan-harapan dalam diamku. Ada rasa nyeri di dadaku yang aku tahu sebab dari rasa itu. Apakah dua keyakinan tak bisa menjadi satu? Mengapa cinta tak bisa menyatukan dua keyakinan yang berbeda? Bukankah Tuhan hanya satu? Mengapa anak manusia membuatnya berbeda? Bertubi-tubi pertanyaan itu berjajar di pikirku, mencoba mencari jawaban namun aku tak pernah menemukan. Mengais-ngais perlahan berharap ada penjelasan. “Sia-sia..”, aku mendesis.

Suara salam yang terdengar dua kali mengakhiri ibadah, doa-doa kecil terpanjatkan dalam bahasa yang aku tak mengerti maksudnya ,hingga saat kulihat beberapa orang mulai berhambur keluar dan dikerumunan ia berjalan menghampiriku yang masih menunggunya. Kutatap ia dari kejauhan, senyum sumringah tersungging di wajah kita. Kucipta senyum menyambutnya, selalu kututupi perasaan takut setiap aku mengantarnya kerumah ibadahnya itu agar ia tak pernah tahu tentang ke-khawatiran dihatiku. Desir angin membuatku menggigil, “Tuhan, mengapa kita berbeda?…”

 Ayu Ratu Nagari