Tuhan, mengapa kita berbeda?


cinta dalam labyrinth

Mataku terpejam, tanganku menggenggam menahan dingin, lengang jalan tengah malam diatas perbukitan ini sunyi sepi, langit gelap bertabur bintang dengan terang bulan yang indah kulihat, pohon-pohon di setiap ruas jalan sedang memandang kita diam-diam, beberapa kulihat damar-damar redup yang berada berjauhan, bising suara laju motor yang s menerobos pekat, suara kita sayup-sayup terdengar , tertawa lirih dalam perbincangan.

———————–

Aku menikmati secangkir coklat panas kesukaanku di serambi depan, menikmati embun pagi yang beranjak hilang. Ku aduk-aduk perlahan mencari manis yang terendap. Aroma tanah sehabis hujan tercium sangat getir, udara dingin masih menyelimuti langit mendung. Kulirik jam dinding yang berada tepat di sebelah kiri tembok dekat pintu utama , jarum pendek berada di angka enam dan jarum panjang berada di angka tiga.

Minggu pagi di awal September, semalam hujan turun cukup deras mengguyur kotaku yang beberapa bulan terlalu kering, pohon-pohon di halaman rumah ini seolah menari riang menyambut datangnya hujan setelah kemarau panjang, sejuk …

Dering suara handphone yang ku-letakkan di meja sebelah kiri ku berbunyi kencang, Seperti semakin lengkap menikmati pagi ini, aku tersenyum ketika kulihat nama pemanggil yang tertera di layar, Tristan, bergegas aku menerimanya.

“Selamat pagi, Tuan Putri”, sapa nya lembut di sebrang.

“Selamat pagi juga,  Pangeran Katak” , sambutku membalas.

“Minggu pagi yang mendung, senang mendengar suaramu. Aku akan pergi ke Gereja pukul  tujuh. Apa kau akan melakukan ritual yang sama seperti biasanya?”, tanyanya penuh arti. Sejenak aku terdiam, ada sesak perlahan menyusup dalam dada.

“Pergilah beribadah dan aku akan melakukan Shalat Dhuha seperti tiap paginya. Mendung tak mengganggu ibadah kita”, jawabku bersambut senyum tipis yang tak terlihat olehnya.

Coklat panas-ku mulai dingin, tak ada lagi uap. Gerimis mulai turun perlahan. Pandangku menerobos rintik-rintik air yang mulai berjatuhan. Menambah sendu yang datang perlahan, entah apa yang sedang ku-lamunkan. Aku tersadar saat rintik air menyentuh wajahku, hujan semakin deras. Kulangkahkan kaki berjalan cepat memasuki rumah. Dari balik jendela kulihat rintik air menyatu kedalam gelas coklat yang ku tinggalkan di meja serambi depan. Hujan dan coklat dingin …

Aku beranjak dari tempatku, berjalan menuju kamar mandi mengambil wudhlu, kuusap wajah bersamaan bacaan terakhir doa sesudah wudhlu, ku langkahkan kaki menuju ruang sepetak musholah kecil rumahku,  aku mengadu pada Allah, Tuhanku, tanganku menengadah memohon setelah shalat dhuha pagi itu.

Di tempat lain seorang lelaki sedang duduk bersimpuh, kedua tangan dilipat, jemari-jemarinya berkaitan, sikunya disandarkan di atas sebuah mimbar kayu, kepalanya menengadah pada patung kecil dengan satu tubuh yang terpaku pada salib yang berada di tembok atas mimbar sebuah gereja, matanya terpejam, ia sedang berdoa.

—————————–

“ Kau tahu, aku sangat menyayangimu. Mengapa baru sekarang kita sedekat ini? Mengapa harus ada perbedaan?”, tanyaku pada seorang wanita yang sedang duduk manis di hadapanku.

“Aku shalat dulu ya ..”, jawabnya memohon ijin dan diakhiri senyuman yang aku tak mengerti.  Pertanyaanku menguap, aku tahu ia tak akan menjawabnya. Ada rasa takut yang selalu membayang di diriku dan pikiranku yang sering melanglang ketakutan tentang suatu kekhawatiran. Kekhawatiran tentang kita, yang hanya kurasakan sendiri disini.

Aku menunggunya di pelataran masjid, melihat beberapa jamaah wanita yang berbalut hijab seperti dia, beberapa pria dengan peci di kepalanya, pakaian rapi dan wangi berdatangan di rumah Tuhan saat adzan berkumandang lantang berseru memanggil umatNya.

Pikirku entah tak berarah, hanya ada kenangan-kenangan yang sudah terlewatkan berdua. Aku selalu takut bagaimana nanti jika sudah waktunya tiba, jalan kita terpaksa berpisah. Perpisahan yang tak pernah kita harapkan adanya.

Apakah kita yang berbeda tak bisa bersama? Pertanyaan yang sama yang selalu terbesit dalam benak, kutanyakan tanpa henti pada Yesus di hatiku. Menerka teka-teki Tuhan yang sangat rapi tersimpan, rahasia Tuhan yang aku tak berhak mencari tahunya, aku hanya perlu menunggu untuk tujuan yang aku tak pernah tahu ujung dan akhirnya.

Ku pegang kalung salib yang melingkar di leherku, ku genggam liontin kecil dengan pahatan Yesus itu, tanganku bergetar. Selalu ada harapan-harapan dalam diamku. Ada rasa nyeri di dadaku yang aku tahu sebab dari rasa itu. Apakah dua keyakinan tak bisa menjadi satu? Mengapa cinta tak bisa menyatukan dua keyakinan yang berbeda? Bukankah Tuhan hanya satu? Mengapa anak manusia membuatnya berbeda? Bertubi-tubi pertanyaan itu berjajar di pikirku, mencoba mencari jawaban namun aku tak pernah menemukan. Mengais-ngais perlahan berharap ada penjelasan. “Sia-sia..”, aku mendesis.

Suara salam yang terdengar dua kali mengakhiri ibadah, doa-doa kecil terpanjatkan dalam bahasa yang aku tak mengerti maksudnya ,hingga saat kulihat beberapa orang mulai berhambur keluar dan dikerumunan ia berjalan menghampiriku yang masih menunggunya. Kutatap ia dari kejauhan, senyum sumringah tersungging di wajah kita. Kucipta senyum menyambutnya, selalu kututupi perasaan takut setiap aku mengantarnya kerumah ibadahnya itu agar ia tak pernah tahu tentang ke-khawatiran dihatiku. Desir angin membuatku menggigil, “Tuhan, mengapa kita berbeda?…”

 Ayu Ratu Nagari

Advertisements

kita dan perbedaan


Image

Lengang jalanan tengah malam ini membawa motormu melaju sangat kencang. Hembus angin menderu beriring jalan kita. Kau menoleh ke belakang tersenyum padaku yang setengah takut mengimbangi kecepatan 90km/h yang tertera pada speedometer motor mu. Memelukmu erat dalam dingin. Senyummu sangat manis, tatapmu sangat redup menghangatkan. Akupun tersenyum. Genggam tanganmu seolah ingin menjagaku. Kita dibalut dingin angin pegunungan malam ini.

——————–

Aku berlari menghampirinya yang tengah duduk di kursi depan pelataran Gereja Bethel Surabaya , kulirik digengagaman tangannya novel Tere Liye – Rembulan Tenggelam di Wajahmu, sepertinya sedari tadi sembari menungguku beribadah ia membaca novel itu.  Ia tersenyum melihatku yang melangkahkankan kaki tergesa.

“ Maaf kau menungguku terlalu lama. Tak pernah tertinggal satu buku yang selalu menemanimu ”, aku tersenyum dan melirikkan mataku memberi kode pada buku yang diletakkan dipangkuannya.

“ Selalu ! ”, ia tersenyum manis bersemangat. Suara bedug maghrib senja itu terdengar mendayu seru, adzan telah berkumandang di kawasan kota Surabaya. Aku meliriknya yang tertunduk diam , raut wajahnya tenang dan bahagia.

“ Mau ku antarkan ke masjid? ”, aku menawarinya.

“  Jika kau tak keberatan tentunya ”, ia berdiri dan tersenyum. Senyumnya masih selalu senyum termanis untukku. Kami berjalan menyusuri padatnya para jamaah ibadah yang baru keluar dari Gereja , menyebrang jalan menuju Masjid yang hanya berjarak 100 meter. Kulihat ia sangat cantik dalam balutan jilbabnya.

Seolah tersadar ku-amati sedari tadi, ia melirik ke arahku dengan raut jahilnya. Menggodaku yang ketahuan sedang memperhatikannya. Kami tertawa berdua.

Ia berjalan dengan anggunnya memasuki masjid yang megah itu, aku menunggunya di warung yang tergerai di tepi dekat pintu gerbang masuk Masjid Al-Hidayah. Suatu resonansi yang begitu kentara. Aku dan rumah ibadahku, dia dan rumah ibadahnya.

——————–

Seorang wanita yang menyapaku begitu lembut dan akrab. Seorang wanita yang memikatku kala pertama. Wanita yang tak pernah bermuram durja, wanita yang tak pernah kulupa senyumnya. Sahla Bahira.

Aku seorang kristian dan ia seorang muslimah. Bagian mana dari kita yang tak menjadi cela setiap manusia dengan perbedaan keyakinan kita? Aku dan dia adalah barisan anak Tuhan yang tak pernah memilih pada siapa rasa itu hadir. Kita hanya bertemu kemudian berteman dan menyimpan rasa pada masing-masing hati terdalam. Membiarkannya mengendap namun tanpa kita sadari rasa itu justru menjadi timbunan yang sangat besar.

Aku masih ingat malam dulu, saat gerimis menjadi saksi pilihan kita. Perpisahan  yang tak mungkin terlupa. Kita sepakat untuk menjauh, membuang segala rasa yang tak akan pernah mungkin kita wujudkan menjadi nyata. Rasa yang terbelunggu oleh perbedaan keyakinan. Dia memilih pergi dan aku memilih memendam. Kita saling bungkam, seolah tak pernah ada cerita diantara kita. Seadnainya ia  tahu, sesungguhnya itu siksa hati yang menyakitkan untukku.

Saat itu kulihat butiran air diwajahmu  berhambur gerimis hujan, seolah menutupi tangis yang tak bisa ia sembunyikan dari balik matanya padaku. Dia selalu mencoba tersenyum dan aku adalah lelaki yang selalu ingin melihat senyumnya.

Bertahun sudah waktu berlalu. Sesekali melihatnya sepintas berjalan di hadapku kemudian menyapaku tanpa ragu, tanpa rasa yang tersembunyi itu. Tuhan, secepat itukah Kau jauhkan dia dariku?

Seperti barisan manusia yang menunggu waktunya tiba, cinta itu datang tanpa terduga, tanpa pernah terencana. Bahkan pada kita, anak manusia yang berkeyakinan beda.

Dia selalu berkata, “ aku dan kamu adalah air dan minyak, walaupun dalam satu wadah, kita tak pernah bisa menyatu ”.

——————–

“ Dingin?”, tanyamu menggenggam tanganku. Aku tersenyum menganggukkan kepala dengan tangan yang mencengkeram erat menahan dingin.

Sikapmu masih sehangat dulu, aku masih tetap nyaman bersamamu. Tatapan matamu selalu bisa meneduhkanku. Genggam tanganmu aku percaya selalu ingin menjagaku. Perhatianmu tak secuilpun hilang untukku.

Aku adalah wanita yang paling beruntung diantaranya karenamu. Lelaki yang sungguh mencintaiku.

——————–

“ Ternyata rasa itu tak pernah hilang, selama apapun aku sembunyikan ketika kau hadir kembali, rasa itu semakin tumbuh tak tertahan”, aku menatap matanya. Barisan kursi panjang di halte Gereja Bethel ini hanya ada kita berdua. Pandangnya menerawang jauh, kedua kakinya diayunkan perlahan, senyumnya mengembang seiring tatapnya berangsur meredup, jilbab merahnya tertiup angin melambai-lambai perlahan. deru suara kendaraan yang berlalu lalang riuh terdengar.

“Kau tahu, aku selalu bahagia berada di dekatmu. Tentang rasa yang tersimpan berlampau waktu, rasa yang lama terbuang walau sesungguhnya hanya terpendam. rasa  yang mungkinkah bisa tersatukan? Seperti hijabku dan salibmu?”, ucapnya lembut namun begitu mendalam kurasa. Ada getir yang tiba-tiba menyengat dalam dada.

“Kenapa Tuhan mempertemukan kita lagi? Bahkan dengan kenyataan semua sudah semakin dekat, aku, kamu dan keluarga kita? Apakah mungkin dengan keyakinan masing-masing kita sampai hingga pelaminan?”, pertanyaan bodoh yang harusnya tak pernah kuucapkan. Badanku seolah menggigil. Aku tersenyum miris memberanikan menatap matanya.

Dengan lembut ia menjawab, “Tak ada yang kebetulan di dunia ini, semua adalah garisan dan skenario Tuhan. Tentang pertemuan kita, tentang rasa yang tumbuh tanpa kita pinta dan tentang pertemuan keluarga yang tak pernah kita duga”. Ia merapikan duduknya. “ini terlalu sensitif untuk dibicarakan. Tentang dua keyakinan. Ku bilang itu tak akan terjadi untuk kita. Tak bisa kita bersama dengan berbedaan yang ada”. Aku terdiam mendengarnya berbicara. Setiap jawaban darinya selalu bisa membuatku berpikir dewasa.

Tuhan selalu menyimpan segala rahasia terhebatnya, aku dan dia ranting yang berada di satu dahan yang sama, hanya bisa berdekatan namun tak bisa di satukan walau ada kemungkinan semua karena Tuhan.

——————–

“Kau tahu pasti apa yang aku rasakan padamu, kau bahkan tak pernah menjawabnya. Apa kau tak pernah menginginkanku? Setiap pertanyaanku tentang isi hatiku padamu, aku tak pernah mendapat jawab sejujurnya”, hela nafasku panjang.

“Aku tak pernah menduga sedikitpun dengan kehadiranku di rumahmu, dengan sambutan yang begitu hangat dari semua keluargamu. Bahkan dengan segala perbedaan yang sungguh tampak sangat jelas. Kedekatan mereka dengan keluargaku. Kedekatanmu dan aku. Kau yang begitu baik terhadapku dan kau yang begitu sayang padaku, atas rasa bahagia apa yang perlu aku naifkan?”, begitu tenang ia berucap. Siang ini teduh di halam rumah berpagar hijau dengan taman kecil yang cukup indah. Tangannya memainkan rumput-rumput hijau yang berayun tertiup angin.

“ Aku sangat menyayangimu. Dari awal pertemuan dulu, kusimpan rapi semua itu”, terangku menyatakan.

“ Rasaku padamu sama seperti rasamu padaku. Rasa yang tak pernah bisa kupungkiri. Rasa yang begitu nyata kita miliki. Tapi tak bisa kau hindari juga kan, perbedaan yang maish tetap melekat. Aku dengan hijabku dan kau dengan kalung salibmu”, senyumnya kali ini menyiratkan ribuan arti yang aku bahkan tak mengerti.

Ia selalu dalam balutan jingga yang mempesona untukku, senyumnya yang manis dan tatapnya yang teduh. Wanita yang diciptakan Tuhan dan dihadirkan padaku dengan kesederhanaannya yang memikatku.

Sekalipun aku tak tahu mengapa Tuhan menghadirkan ia dalam hidupku. Menjadikannya bagian dalam setiap nafasku. Aku dan dia yang dilahirkan dari kedua rahim dengan satu perbedaan keyakinan. Tuhan masih selalu menyimpan rencana-rencanaNya. Rahasia Tuhan yang tak pernah bisa ku-terka. Mungkinkah aku dan dia menjadi satu adanya? Selalu hanya senyum simpul yang terurai dari wajah jelitanya. Wanita itu selalu membuatku terpikat padanya.

“Tuhan dengan caranya mempertemukan kita, Tuhan dengan caranya menghadirkan rasa di hati kita, Tuhan dengan caranya mendekatkan kita dan dengan cara Tuhan juga kita yang berbeda disatukan nantinya menjadi entah”, ia tersenyum. Aku membalas tersenyum lega. Senyumnya kali ini aku mengerti maksudnya…

Ayu Ratu Nagari

“will you marry me?”


Sejenak aku berpikir tentang “jodoh”. Ya, siapa yang tahu tentang jodoh? dia seperti misteri di hari esok, tak ada yang pernah bisa menebak dan menerka-nerka.

Ketika seseorang yang sangat kamu sayang berkata padamu tentang sebuah pernikahan di usia yang sangat muda menurutmu dan tak pernah terlintas di benakmu ketika itu, apa yang kau katakan padanya?

Sempat ku ingat sahabatku bercerita,

“Ra, aku punya cerita untukmu”.

: “Apa bang?”

Ada seorang temanku, mereka berpacaran cukup lama 6 tahun. Temanku yang perempuan, dia masih ingin ini dan itu yang terlalu berbelit juga tak jelas ketika kekasihnya ingin meminangnya. Nah, suatu ketika di saat mereka akan bertunangan, kekasihnya ketahuan selingkuh.

Dan ironisnya, dia lebih memilih selingkuhannya dari pada temanku. Kekasihnya bilang, ‘dia sudah siap dan tak berbelit, dia mau berkomitmen sedangkan kamu tidak’.”

: “hmm” . aku mengangguk mengerti tentang apa yang dimaksud-kan.

Inti ceritanya ra, kalo pasangan kita sudah siap, berarti dia memang sudah serius. Kenapa menunggu yang belum tentu serius? Dan ketika dia menemukan orang yang yang mau serius juga dengan dia, akhirnya dia akan pergi dan memilih yang lain

Sejenak aku berpikir, masuk akal memang. Tapi sekian dari itu akhirnya muncul banyak pertanyaan di benakku. Apakah mungkin lelaki itu tulus dan sungguh mencintainya jikalau ia saja tak sabar untuk menunggu sang kekasih merasa ‘siap’?

Bukankah jika kita tulus menyayanginya , bersabar menantinya maka semua itu akan berbuah?
Continue reading