Sayang dan Cinta …


Sebuah kata yang sering kita ucap ,

“sayang, cinta, dan ketulusan”

Aku masih tak mengerti seperti apakah sayang dan cinta yang tulus itu? Apakah dia seperti bulatan coklat yang manis ketika kita memakannya ataukah pahit seperti coklat yang harganya mahal?

Sayang dan Cinta yang tulus. Seperti apakah wujudnya?

Aku selalu bertanya, siapa yang menyayangiku dengan tulus? Siapa pula yang mencintaiku dengan tulus? Mereka selalu bilang, “kamu masih terlalu kecil untuk membicarakan masalah sayang dan cinta”.
Lalu, siapa yang pantas membicarakan tentang perasaan sayang dan cinta?

Mereka orang-orang yang mengakui dirinya dewasa? Bukankah mereka sendiri sejujurnya tak mengerti?

Mereka hanya pura-pura tahu karena menurut fase nya, mereka sudah wajib tahu? BOHONG!

Aku sering melihat banyak orang-orang dewasa yang masih bimbang dalam masalah cinta, artis-artis yang cerai kemudian mereka bilang “mungkin dia bukan jodoh saya”.

Lalu, apa arti ucapan sayang dan cinta yang mereka ucapkan ketika mereka menjalin hubungan dan akhirnya memutuskan untuk menjalin sebuah pernikahan? Siapa yang berhak membicarakan tentang perasaan itu?

Aku tak mengerti seperti apa rasa sayang dan cinta yang tulus itu. Hanya ucapan atau berwujud. Sampai saat ini yang aku tahu, ketulusan itu memberi bukan meminta. Sayang itu melihat dia tersenyum bahagia walau tak bersama kita. Dan, cinta itu menjaga.

Sayang dan cinta, apakah semua itu sebuah rasa ingin memiliki atau obsesi, aku tak pernah mengerti.

Mereka mencintai dan menyayangi, mereka ingin memiliki dan akhirnya menjadi sebuah obsesi. Ya, mungkin sepeti itu.

Menyayangi dan mencintai dengan tulus sempat terpikirkan dalam benakku ia semacam :

ketika aku menahan sakit dan berbahagia melihatnya bahagia dengan yang lain walau dengan bersembunyi di balik pohon, memandangnya dengan nanar memastikan dia baik-baik saja.

bukan dengan,

Selalu berada disampingnya dan ingin dia tetap disamping kita tetapi hanya membuatnya menangis dan melukainya dengan yakin bahwa dia kelak akan bahagia dengan dia tetap bersama kita.

Continue reading

Advertisements