Pelangi di batas Senja


cinta dalam labyrinth

             Apa yang kupikirkan tentang dua keyakinan, tak berdusta aku selalu berharap tak pernah ada perbedaan diantara kita. Yang mereka pikirkan tentang kita, caci-maki –  pandangan orang yang selalu menatap kita salah dan tentang dua agama yang tak bisa di-satu-kan kenyataannya selalu menjadi tanya tersendiri ketika aku berlama-lama bercerita pada Tuhan di Gereja, apa yang salah dengan kita? Bukankah sesungguhnya Tuhan kita satu, Tuhan yang Esa,  hanya saja kita menyebutnya berbeda.

Kita tak pernah merencanakan apapun untuk sebuah rasa yang kita sendiri tak mengerti penyampaiannya, namun tiba-tiba cinta itu bersembunyi dibalik punggung kita dan menertawakan kita yang memerah jambu saat berjumpa. Tatapan-tatapan malu kita dan hati kita yang bahagia saat bersama perlahan meredup terhalang kenyataan – kita yang berbebeda agama. Al-Kitab pedomanku dan Al-Qur’an pedomannya.

————————————–

                Aku menunggunya yang sedang husyuk beribadah, di dalam masjid yang megah dengan tirai kaca yang mengelilinginya. Aku menunggunya di kursi batu di bawah rindang pohon beringin sebelah Selatan pintu masjid. Beberapa jamaah sudah mulai meninggalkan pelataran. Kulempar pandang ke- sekeliling, sebagian dari mereka seolah menatapku heran, kualihkan pandang kepada seorang bapak tua yang berjalan tertunduk-tunduk dengan sarung coklat bermotif kotak dan peci yang sudah lusuh, beliau tersenyum kepadaku, aku membalas senyumannya.

Beralih aku melihat seorang wanita yang masih duduk seorangan di dalam rumah ibadahnya, tubuhnya dibalut mukenah penuh sehingga hanya wajahnya saja yang tak tertutup. Parasnya semakin cantik terbasuh air wudhu, ada rasa yang mengetukku perlahan dan menghentakku seketika, tentang rasa takut yang selalu menjadi kekhawatiran di diriku.

Bibirnya mengamit mengucap dzikir, jemarinya memetik butir-butir tasbih di genggamannya. Hatiku semakin berdesir, semakin erat kugenggam rosario ditanganku mencoba membunuh kekhawatiran hebat dalam diriku yang selalu kurasakan sendiri. Ia bersujud dan aku melipat tangan, merapal doa yang sama dalam bahasa yang berbeda.

—————————-

                Secangkir kopi hangat pagi ini, terasa lebih nikmat dari biasanya. Mungkin karena kita membuatnya berdua, menunggu didih air sambil bercengkrama lewat bincang hangat, menuang dan mengaduknya dengan penuh cinta.

Kita duduk di serambi depan, sejuk udara pegunungan pagi itu, tetes embun yang masih menempel di daun-daun, kita menikmatinya, hangat canda berbaur dengan segala cinta yang sedang bersemi adanya.

Ia menatapku dengan penuh kasih, senyumnya selalu menjadi bahagia tersendiri untukku. Sejenak aroma kopi pagi ini beradu dengan pikirku. Bahagia? Aku bahagia. Lelaki dihadapanku ini, wanita mana yang takbahagia dengan segala hujan perhatian dan cinta yang ia berikan selalu, aku merasakannya luar biasa. Aku akan merindukan saat-saat ini, setiap cerita dan kisahnya akan selalu terbaca nyata, mungkin kelak akan kuceritakan pada anak-anakku bagaimana cinta yang seperti ini pernah terjadi dikehidupan ibundanya.

—————————-

                “Bersamamu adalah perjuangan yang aku takmengerti untuk apa”, desahnya berucap lirih padaku.

“Aku tak mengerti maksudmu. Bisakah kaujelaskan padaku?”, tanyaku heran.

“Memperjuangkan rasa untuk kita yang berbeda, menerima cerca dari segala pemikiran tentang kau dan kekasihmu sekarang, siapa aku dan pandangan orang tentangku,” ia menghela, mencoba tetap tersenyum padaku. “Untuk cinta? Untuk rasa? Atau untuk bahagia yang tak pernah terpikir bagaimana akhirnya?”, ia melajutkan ucapannya, nadanya merendah.

“Kautak berjuang sendiri, aku selalu membantah setiap apa yang mereka katakan tentangmu, mereka taktahu apa dan bagaimana menjadi kita. Aku mungkin egois, aku tak tahu bagaimana kita kedepannya, semua rahasia Tuhan terlalu misteri, sayang..”, kugenggam tangannya erat. Dadaku sesak, aku mencintainya, wanita yang sedari pertama aku berjumpa dengannya membuatku jatuh hati padanya.

“Seandainya kau tak pernah menyatakan perasaanmu padaku, mungkin kita masih saling diam dan bungkam. Semua memang kehendak dan skenario Tuhan…”, terangnya.

Di ruangan ini hanya ada kita berdua. Aku menatap langit-langit kamar mencoba mengalihkan sesak, mataku terpejam mencoba menemukan Tuhan dalam diriku. Jemari-jemari lembut itu mengangkat wajahku perlahan, mataku terbuka, kutatap ia yang tersenyum manis di depanku, merasakan desah nafasnya yang begitu dekat menyentuh kulitku. Selalu ada rasa nyaman yang selalu ia berikan, rasa nyaman yang sedaridulu tak pernah kurasakan.

“Aku tak mau kaupergi. Aku tahu, aku tak bisa memberimu masa depan dengan perbedaan kita ini. Mungkin dipikiranmu bagaiamanpun perjuangan kita hanya berujung sia-sia. Dan dengan kenyataan aku yang telah berkasih…”, sakit, hanya itu yang kurasakan, aku hampir tak mampu berkata.

Ia menggenggam tanganku erat, hanya bisa kutundukkan kepala menahan sakit. Aku lelaki yang lemah karena cinta yang begitu besar untuknya. Untuk seorang wanita yang begitu berarti dihidupku.

“Aku takmampu memendam lagi setelah dua tahun membisu sendiri. Aku taksanggup lagi melihatmu berjalan didepanku dan lelaki lain menggandeng tanganmu begitu erat. Aku tahu ini adalah ego diriku, Mengapa baru sekarang Tuhan mendekatkan kita?”, suaraku berat meninggi. Mendung diwajahku semakin gelap. “Aku sangat menyayangimu…”

“Lalu, pada siapa aku harus bertanya? Percayalah, Tuhan tahu yang terbaik untuk kita, sayang. Bahkan pertemuan kita sekarang, semua karena Tuhan. Kita takpernah berencana, kita hanya meminta dalam diam, tanpa kita sadari Tuhan selalu mendengar doa-doa bisu dihati kita”, ucapnya lembut. Ia menatap mataku dalam, tatapannya yang selalu meneduhkanku. Hujan jatuh taktertahan dari mataku, mengalir melewati bibir. Ia mengusap air mataku, memelukku sangat erat, terisak aku di bahunya. Tubuhnya melemah, kudengar ia menangis lirih. Aku selalu ingin menjaganya, aku selalu ingin bersamanya, Tuhan aku tahu kau akan selalu mendengar doa kami..

“Mereka tak pernah tahu apa yang kita rasa, apa yang kurasakan dan kupendam berlama waktu. Kubilang pada mereka, seandainya aku bisa meminta waktu berputar ulang, aku takakan melepasmu begitusaja kemudian mengenal wanita lain”, sesal yang berujung sia-sia. Ia hanya menjawab dengan senyuman yang aku tak mengerti, dia selalu menyimpan misteri tersendiri yang selalu membuatku berlebih ingin tahu tentangnya.

“Aku hampir lupa rasanya jatuh cinta, hingga saat kehadiranmu lagi di hidupku dengan  membawa rasa yang berbeda. Cinta yang disatu sisi akan membuatku bahagia dan di sisi lain akan membuatku menderita, satu paket yang takterpisah. Cinta yang kadang meruntuhkan logika dan akal sehat kita”, ia mencoba menghapus air matanya sendiri, berusaha tak terlihat lemah di depanku.

“Hi, wonder woman – selalu mencoba tegar”, aku mengusap lembut kepalanya menghapus sebekas air mata yang tersisa di pelupuk matanya.

“Wonder woman juga punya hati dan bisa menangis”, ia memelukku manja.

“Aku mencintaimu, dan kaumembawa perubahan berarti di hidupku. Kauyang memberikan semua yang takpernah kurasakan. Mencintaimu adalah anugerah yang akan selalu kujaga. Bersamamu adalah perjuangan kita. Benar ucapmu, Tuhan masih menyimpan segala rahasianya dan aku akan selalu menunggu Tuhan menunjukkan pada kita”, aku tersenyum menatap wanita bermata hitam bulat yang duduk di depanku. Aku tak pernah jemu menatapnya berlama, senyumnya yang manis, air wajahnya yang ceria, dan tatapannya yang selalu membuatku tenang.

“Semuanya seperti senja yang butuh belasan jam untuk menunggunya namun indah dan hadirnya hanya bisa dinikmati sekejap waktu. Ketika cahayanya memudar, kadang ia menghasilkan rona yang membekas dan kadang ia lenyap begitu saja..”, ucapnya lembut, pandangnya seolah dilayangkan ke suatu entah. Kemudian ia menatapku dengan pasti.

“Kau dalah pelangi di batas senja, keindahan itu berakhir dengan keindahan kedua yang sangat berkesan hadirnya. Kau istimewa, sayang…”, aku mencium keningnya, aku menggenggam tanganya semakin erat. “Kau akan selalu menjadi hal terindah di hidupku, di hatiku sampai kapanpun….”

 

Ayu Ratu Nagari

Tuhan, mengapa kita berbeda?


cinta dalam labyrinth

Mataku terpejam, tanganku menggenggam menahan dingin, lengang jalan tengah malam diatas perbukitan ini sunyi sepi, langit gelap bertabur bintang dengan terang bulan yang indah kulihat, pohon-pohon di setiap ruas jalan sedang memandang kita diam-diam, beberapa kulihat damar-damar redup yang berada berjauhan, bising suara laju motor yang s menerobos pekat, suara kita sayup-sayup terdengar , tertawa lirih dalam perbincangan.

———————–

Aku menikmati secangkir coklat panas kesukaanku di serambi depan, menikmati embun pagi yang beranjak hilang. Ku aduk-aduk perlahan mencari manis yang terendap. Aroma tanah sehabis hujan tercium sangat getir, udara dingin masih menyelimuti langit mendung. Kulirik jam dinding yang berada tepat di sebelah kiri tembok dekat pintu utama , jarum pendek berada di angka enam dan jarum panjang berada di angka tiga.

Minggu pagi di awal September, semalam hujan turun cukup deras mengguyur kotaku yang beberapa bulan terlalu kering, pohon-pohon di halaman rumah ini seolah menari riang menyambut datangnya hujan setelah kemarau panjang, sejuk …

Dering suara handphone yang ku-letakkan di meja sebelah kiri ku berbunyi kencang, Seperti semakin lengkap menikmati pagi ini, aku tersenyum ketika kulihat nama pemanggil yang tertera di layar, Tristan, bergegas aku menerimanya.

“Selamat pagi, Tuan Putri”, sapa nya lembut di sebrang.

“Selamat pagi juga,  Pangeran Katak” , sambutku membalas.

“Minggu pagi yang mendung, senang mendengar suaramu. Aku akan pergi ke Gereja pukul  tujuh. Apa kau akan melakukan ritual yang sama seperti biasanya?”, tanyanya penuh arti. Sejenak aku terdiam, ada sesak perlahan menyusup dalam dada.

“Pergilah beribadah dan aku akan melakukan Shalat Dhuha seperti tiap paginya. Mendung tak mengganggu ibadah kita”, jawabku bersambut senyum tipis yang tak terlihat olehnya.

Coklat panas-ku mulai dingin, tak ada lagi uap. Gerimis mulai turun perlahan. Pandangku menerobos rintik-rintik air yang mulai berjatuhan. Menambah sendu yang datang perlahan, entah apa yang sedang ku-lamunkan. Aku tersadar saat rintik air menyentuh wajahku, hujan semakin deras. Kulangkahkan kaki berjalan cepat memasuki rumah. Dari balik jendela kulihat rintik air menyatu kedalam gelas coklat yang ku tinggalkan di meja serambi depan. Hujan dan coklat dingin …

Aku beranjak dari tempatku, berjalan menuju kamar mandi mengambil wudhlu, kuusap wajah bersamaan bacaan terakhir doa sesudah wudhlu, ku langkahkan kaki menuju ruang sepetak musholah kecil rumahku,  aku mengadu pada Allah, Tuhanku, tanganku menengadah memohon setelah shalat dhuha pagi itu.

Di tempat lain seorang lelaki sedang duduk bersimpuh, kedua tangan dilipat, jemari-jemarinya berkaitan, sikunya disandarkan di atas sebuah mimbar kayu, kepalanya menengadah pada patung kecil dengan satu tubuh yang terpaku pada salib yang berada di tembok atas mimbar sebuah gereja, matanya terpejam, ia sedang berdoa.

—————————–

“ Kau tahu, aku sangat menyayangimu. Mengapa baru sekarang kita sedekat ini? Mengapa harus ada perbedaan?”, tanyaku pada seorang wanita yang sedang duduk manis di hadapanku.

“Aku shalat dulu ya ..”, jawabnya memohon ijin dan diakhiri senyuman yang aku tak mengerti.  Pertanyaanku menguap, aku tahu ia tak akan menjawabnya. Ada rasa takut yang selalu membayang di diriku dan pikiranku yang sering melanglang ketakutan tentang suatu kekhawatiran. Kekhawatiran tentang kita, yang hanya kurasakan sendiri disini.

Aku menunggunya di pelataran masjid, melihat beberapa jamaah wanita yang berbalut hijab seperti dia, beberapa pria dengan peci di kepalanya, pakaian rapi dan wangi berdatangan di rumah Tuhan saat adzan berkumandang lantang berseru memanggil umatNya.

Pikirku entah tak berarah, hanya ada kenangan-kenangan yang sudah terlewatkan berdua. Aku selalu takut bagaimana nanti jika sudah waktunya tiba, jalan kita terpaksa berpisah. Perpisahan yang tak pernah kita harapkan adanya.

Apakah kita yang berbeda tak bisa bersama? Pertanyaan yang sama yang selalu terbesit dalam benak, kutanyakan tanpa henti pada Yesus di hatiku. Menerka teka-teki Tuhan yang sangat rapi tersimpan, rahasia Tuhan yang aku tak berhak mencari tahunya, aku hanya perlu menunggu untuk tujuan yang aku tak pernah tahu ujung dan akhirnya.

Ku pegang kalung salib yang melingkar di leherku, ku genggam liontin kecil dengan pahatan Yesus itu, tanganku bergetar. Selalu ada harapan-harapan dalam diamku. Ada rasa nyeri di dadaku yang aku tahu sebab dari rasa itu. Apakah dua keyakinan tak bisa menjadi satu? Mengapa cinta tak bisa menyatukan dua keyakinan yang berbeda? Bukankah Tuhan hanya satu? Mengapa anak manusia membuatnya berbeda? Bertubi-tubi pertanyaan itu berjajar di pikirku, mencoba mencari jawaban namun aku tak pernah menemukan. Mengais-ngais perlahan berharap ada penjelasan. “Sia-sia..”, aku mendesis.

Suara salam yang terdengar dua kali mengakhiri ibadah, doa-doa kecil terpanjatkan dalam bahasa yang aku tak mengerti maksudnya ,hingga saat kulihat beberapa orang mulai berhambur keluar dan dikerumunan ia berjalan menghampiriku yang masih menunggunya. Kutatap ia dari kejauhan, senyum sumringah tersungging di wajah kita. Kucipta senyum menyambutnya, selalu kututupi perasaan takut setiap aku mengantarnya kerumah ibadahnya itu agar ia tak pernah tahu tentang ke-khawatiran dihatiku. Desir angin membuatku menggigil, “Tuhan, mengapa kita berbeda?…”

 Ayu Ratu Nagari

kita dan perbedaan


Image

Lengang jalanan tengah malam ini membawa motormu melaju sangat kencang. Hembus angin menderu beriring jalan kita. Kau menoleh ke belakang tersenyum padaku yang setengah takut mengimbangi kecepatan 90km/h yang tertera pada speedometer motor mu. Memelukmu erat dalam dingin. Senyummu sangat manis, tatapmu sangat redup menghangatkan. Akupun tersenyum. Genggam tanganmu seolah ingin menjagaku. Kita dibalut dingin angin pegunungan malam ini.

——————–

Aku berlari menghampirinya yang tengah duduk di kursi depan pelataran Gereja Bethel Surabaya , kulirik digengagaman tangannya novel Tere Liye – Rembulan Tenggelam di Wajahmu, sepertinya sedari tadi sembari menungguku beribadah ia membaca novel itu.  Ia tersenyum melihatku yang melangkahkankan kaki tergesa.

“ Maaf kau menungguku terlalu lama. Tak pernah tertinggal satu buku yang selalu menemanimu ”, aku tersenyum dan melirikkan mataku memberi kode pada buku yang diletakkan dipangkuannya.

“ Selalu ! ”, ia tersenyum manis bersemangat. Suara bedug maghrib senja itu terdengar mendayu seru, adzan telah berkumandang di kawasan kota Surabaya. Aku meliriknya yang tertunduk diam , raut wajahnya tenang dan bahagia.

“ Mau ku antarkan ke masjid? ”, aku menawarinya.

“  Jika kau tak keberatan tentunya ”, ia berdiri dan tersenyum. Senyumnya masih selalu senyum termanis untukku. Kami berjalan menyusuri padatnya para jamaah ibadah yang baru keluar dari Gereja , menyebrang jalan menuju Masjid yang hanya berjarak 100 meter. Kulihat ia sangat cantik dalam balutan jilbabnya.

Seolah tersadar ku-amati sedari tadi, ia melirik ke arahku dengan raut jahilnya. Menggodaku yang ketahuan sedang memperhatikannya. Kami tertawa berdua.

Ia berjalan dengan anggunnya memasuki masjid yang megah itu, aku menunggunya di warung yang tergerai di tepi dekat pintu gerbang masuk Masjid Al-Hidayah. Suatu resonansi yang begitu kentara. Aku dan rumah ibadahku, dia dan rumah ibadahnya.

——————–

Seorang wanita yang menyapaku begitu lembut dan akrab. Seorang wanita yang memikatku kala pertama. Wanita yang tak pernah bermuram durja, wanita yang tak pernah kulupa senyumnya. Sahla Bahira.

Aku seorang kristian dan ia seorang muslimah. Bagian mana dari kita yang tak menjadi cela setiap manusia dengan perbedaan keyakinan kita? Aku dan dia adalah barisan anak Tuhan yang tak pernah memilih pada siapa rasa itu hadir. Kita hanya bertemu kemudian berteman dan menyimpan rasa pada masing-masing hati terdalam. Membiarkannya mengendap namun tanpa kita sadari rasa itu justru menjadi timbunan yang sangat besar.

Aku masih ingat malam dulu, saat gerimis menjadi saksi pilihan kita. Perpisahan  yang tak mungkin terlupa. Kita sepakat untuk menjauh, membuang segala rasa yang tak akan pernah mungkin kita wujudkan menjadi nyata. Rasa yang terbelunggu oleh perbedaan keyakinan. Dia memilih pergi dan aku memilih memendam. Kita saling bungkam, seolah tak pernah ada cerita diantara kita. Seadnainya ia  tahu, sesungguhnya itu siksa hati yang menyakitkan untukku.

Saat itu kulihat butiran air diwajahmu  berhambur gerimis hujan, seolah menutupi tangis yang tak bisa ia sembunyikan dari balik matanya padaku. Dia selalu mencoba tersenyum dan aku adalah lelaki yang selalu ingin melihat senyumnya.

Bertahun sudah waktu berlalu. Sesekali melihatnya sepintas berjalan di hadapku kemudian menyapaku tanpa ragu, tanpa rasa yang tersembunyi itu. Tuhan, secepat itukah Kau jauhkan dia dariku?

Seperti barisan manusia yang menunggu waktunya tiba, cinta itu datang tanpa terduga, tanpa pernah terencana. Bahkan pada kita, anak manusia yang berkeyakinan beda.

Dia selalu berkata, “ aku dan kamu adalah air dan minyak, walaupun dalam satu wadah, kita tak pernah bisa menyatu ”.

——————–

“ Dingin?”, tanyamu menggenggam tanganku. Aku tersenyum menganggukkan kepala dengan tangan yang mencengkeram erat menahan dingin.

Sikapmu masih sehangat dulu, aku masih tetap nyaman bersamamu. Tatapan matamu selalu bisa meneduhkanku. Genggam tanganmu aku percaya selalu ingin menjagaku. Perhatianmu tak secuilpun hilang untukku.

Aku adalah wanita yang paling beruntung diantaranya karenamu. Lelaki yang sungguh mencintaiku.

——————–

“ Ternyata rasa itu tak pernah hilang, selama apapun aku sembunyikan ketika kau hadir kembali, rasa itu semakin tumbuh tak tertahan”, aku menatap matanya. Barisan kursi panjang di halte Gereja Bethel ini hanya ada kita berdua. Pandangnya menerawang jauh, kedua kakinya diayunkan perlahan, senyumnya mengembang seiring tatapnya berangsur meredup, jilbab merahnya tertiup angin melambai-lambai perlahan. deru suara kendaraan yang berlalu lalang riuh terdengar.

“Kau tahu, aku selalu bahagia berada di dekatmu. Tentang rasa yang tersimpan berlampau waktu, rasa yang lama terbuang walau sesungguhnya hanya terpendam. rasa  yang mungkinkah bisa tersatukan? Seperti hijabku dan salibmu?”, ucapnya lembut namun begitu mendalam kurasa. Ada getir yang tiba-tiba menyengat dalam dada.

“Kenapa Tuhan mempertemukan kita lagi? Bahkan dengan kenyataan semua sudah semakin dekat, aku, kamu dan keluarga kita? Apakah mungkin dengan keyakinan masing-masing kita sampai hingga pelaminan?”, pertanyaan bodoh yang harusnya tak pernah kuucapkan. Badanku seolah menggigil. Aku tersenyum miris memberanikan menatap matanya.

Dengan lembut ia menjawab, “Tak ada yang kebetulan di dunia ini, semua adalah garisan dan skenario Tuhan. Tentang pertemuan kita, tentang rasa yang tumbuh tanpa kita pinta dan tentang pertemuan keluarga yang tak pernah kita duga”. Ia merapikan duduknya. “ini terlalu sensitif untuk dibicarakan. Tentang dua keyakinan. Ku bilang itu tak akan terjadi untuk kita. Tak bisa kita bersama dengan berbedaan yang ada”. Aku terdiam mendengarnya berbicara. Setiap jawaban darinya selalu bisa membuatku berpikir dewasa.

Tuhan selalu menyimpan segala rahasia terhebatnya, aku dan dia ranting yang berada di satu dahan yang sama, hanya bisa berdekatan namun tak bisa di satukan walau ada kemungkinan semua karena Tuhan.

——————–

“Kau tahu pasti apa yang aku rasakan padamu, kau bahkan tak pernah menjawabnya. Apa kau tak pernah menginginkanku? Setiap pertanyaanku tentang isi hatiku padamu, aku tak pernah mendapat jawab sejujurnya”, hela nafasku panjang.

“Aku tak pernah menduga sedikitpun dengan kehadiranku di rumahmu, dengan sambutan yang begitu hangat dari semua keluargamu. Bahkan dengan segala perbedaan yang sungguh tampak sangat jelas. Kedekatan mereka dengan keluargaku. Kedekatanmu dan aku. Kau yang begitu baik terhadapku dan kau yang begitu sayang padaku, atas rasa bahagia apa yang perlu aku naifkan?”, begitu tenang ia berucap. Siang ini teduh di halam rumah berpagar hijau dengan taman kecil yang cukup indah. Tangannya memainkan rumput-rumput hijau yang berayun tertiup angin.

“ Aku sangat menyayangimu. Dari awal pertemuan dulu, kusimpan rapi semua itu”, terangku menyatakan.

“ Rasaku padamu sama seperti rasamu padaku. Rasa yang tak pernah bisa kupungkiri. Rasa yang begitu nyata kita miliki. Tapi tak bisa kau hindari juga kan, perbedaan yang maish tetap melekat. Aku dengan hijabku dan kau dengan kalung salibmu”, senyumnya kali ini menyiratkan ribuan arti yang aku bahkan tak mengerti.

Ia selalu dalam balutan jingga yang mempesona untukku, senyumnya yang manis dan tatapnya yang teduh. Wanita yang diciptakan Tuhan dan dihadirkan padaku dengan kesederhanaannya yang memikatku.

Sekalipun aku tak tahu mengapa Tuhan menghadirkan ia dalam hidupku. Menjadikannya bagian dalam setiap nafasku. Aku dan dia yang dilahirkan dari kedua rahim dengan satu perbedaan keyakinan. Tuhan masih selalu menyimpan rencana-rencanaNya. Rahasia Tuhan yang tak pernah bisa ku-terka. Mungkinkah aku dan dia menjadi satu adanya? Selalu hanya senyum simpul yang terurai dari wajah jelitanya. Wanita itu selalu membuatku terpikat padanya.

“Tuhan dengan caranya mempertemukan kita, Tuhan dengan caranya menghadirkan rasa di hati kita, Tuhan dengan caranya mendekatkan kita dan dengan cara Tuhan juga kita yang berbeda disatukan nantinya menjadi entah”, ia tersenyum. Aku membalas tersenyum lega. Senyumnya kali ini aku mengerti maksudnya…

Ayu Ratu Nagari