tentang perasaan


cinta dalam labyrinth

Kubilang ini tentang perasaan, tentang sebuah rasa dengan segala dilematisnya yang bergejolak tak menentu kemudian perlahan menyusup di sebuah ruang yang sering kau bilang hati. Tentang perasaan yang membuncah dalam dada menimbun dalam pikiran mengukir senyuman kebahagiaan mencipta rasa yang di sebut cinta.

Ini tentang sebuah perasaan yang datangnya tak pernah terduga, yang tak pernah ku tahu pada siapa, bahkan aku tak pernah tau bagaimana rasa ini bertuju padamu. Filosofi-filosofi yang tak mampu terekam oleh logikaku tentang perasaan yang mereka katakan dengan bahasa-bahasanya yang tak lazim. Bagiku perasaan itu terlalu murni. Ini tentang ketulusan perasaan. Bukan tentang bagaimana membuat dan menghadirkan perasaan.

Apa yang bisa ku perbuat saat perasaan itu datang menghampiri , seperti halnya perasaanku terhadapmu ataupun sebaliknya. Bagaimana kita bisa mencegahnya? Rasa ini mengalir begitu saja. Ia bertuju pada siapa saja bahkan yang tak terduga. Kau mencintaiku dan aku mencintaimu. Perasaan ini hadir pada hati yang tersembunyi.

Seorang sahabat pernah bertanya padaku, “Bagaimana bisa dia mencintaimu dan kau mencintainya? Sedang ku tahu kalian tak pernah dekat sebelumnya. Apa pernah ada kedekatan yang tersembunyi? Ingatkah dia sudah berkasih?”

“Tidak. Bahkan tak pernah ada perbincangan diantaranya. Aku-pun tak tahu bagaimana rasa ini hadir dan mengalir begitu saja diantara kita”, jelasku padanya.

“Lalu, hanya setiap hari bercuri pandang, sesekali bertatap muka kemudian tak berjumpa. Sekejap waktu mendekatkan kalian berdua dan ada hadirnya cinta? Bagaimana mungkin sesungguhnya?”, seorang sahabat bertanya heran.

“Apa yang harus ku jawab? Akupun tak tahu. Dia pernah mengagumiku dan mengharapkanku dalam bisu sedang aku pernah menyukainya dan menginginkannya namun kutepis menjadi  semu”.

“Dan kini, ia mengungkap segala kebisuan itu  kepadamu dan sangat mencintaimu dikeadaan dia berkasih?”, semakin membuatnya terheran.

“Aku tak pernah tahu hingga aku terkejut mendengar terungkapnya. Biarlah berjalan, aku tak ingin tergantung dalam harapan yang terlalu rumit terwujudkan nantinya didepan. Tuhan selalu punya rencananya”, aku  tersenyum.

Masih tentang perasaan yang datang tanpa pernah kita pinta. Tentang cinta yang membawa sekotak macam rasa yang bercampur begitu lengkapnya.  Tentang hati yang terus meronta merasakan rindu dan bahagia kemudian tersika oleh rasa meluap tentang ketakutan kehilangan.

Kita belum menyatu, belum saling memiliki bahkan dalam keterikatan. Tuhan selalu bisa memberikan kejutan-kejutan tak terduga, kita yang hanya terdiam dalam angan berdua kemudian melebur dan menguapkan harapan-harapan kecil di hati kita yang sampai di telinga Tuhan hingga terwujud dalam kenyataan. Tentang perasaan-perasaan yang tersimpan rapih.

Aku dan kau adalah barisan pemimpi yang merindukan kenyataan, berjalan dalam gelap menembus terang untuk tujuan kebahagiaan. Untuk kebebasan perasaan yang terbelenggu dalam dilematis yang membingungkan. Ku katakan lagi ini tentang perasaan, hal yang tak terwujud nyata namun sangat terasa, dan tak seorangpun sudi menafiknya.

Kau mencintaiku dan aku mencintaimu. Dua hati yang pernah saling bermimpi dalam diam kemudian tersatukan dalam ketentuan Tuhan. Biarkan tangan Tuhan yang membuka jalan untuk kebahagiaan keabadian untukmu yang mencitaiku, untukku yang mencintaimu, dan untuk sebuah perasaan yang tulus antara kau dan aku

Ayu Ratu Nagari

Advertisements

pilihan . .


Tentang sebuah rasa sakit yang menggerogoti hatimu dan perasaanmu perlahan, yang kau sebut “sakit hati”.

Tentang sebuah dilematis yang membuatmu berhenti sejenak dan mengharuskanmu untuk “memilih”.

Dan tentang sebuah “kebodohan” atau “ketulusan” .

Aku mencintai, aku mengagumi, aku merasakan dan aku menentukan. Apa mungkin kita selalu menjadi orang terpilih? tidak! kawan. Ada saat nya kita akan terbuang, tersisihkan dan terlupakan.

Apa selalu kita hanya bermimpi? tidak! kawan. Kitapun bisa mewujudkan mimpi menjadi kenyataan.

Dan apa kita harus selalu menerima? tidak! Kita pun akan memilih suatu saat dan tak menerima apapun.

Seseorang tengah mengadu, “aku sakit hati karenamu, apakah kau tak mengerti itu?”
: “Aku tau. Dan kaupun tau aku pernah merasakan sakit hati yang lebih sakit  dari yang kau rasakan saat ini, karenamu. Lalu, apa yang kau lakukan saat itu? Do nothing! Kau tak melakukan apapun, bahkan kau selalu menambah rasa sakitnya. Sekarang, apa harus aku merasakan sakitmu juga?”

“Tapi itu dulu!”

: “Hai! Bukankah sekarang ada karena dulu? Dulu, kau yang meninggalkanku. Kau yang membuatku menjadi ‘sekarang’ “.

Kesalahan? Berkata ini sebuah kesalahan? Dan kau menyalahkanku?
Tentu! aku tau saat ini adalah ‘salahku’ , apakah harus aku yang selalu disalahkan atas salahmu jua? Lalu, kapan kamu menyadari salahmu?

Kawan, ini tentang sebuah pilihan.

Mereka bisa memilih, kenapa kita tidak? Setiap manusia punya Hak untuk memilih. Ini hidupmu dan hidup mereka. Mereka memilih jalannya sendiri mencapai cita. Begitupula denganmu. Mereka tak berhak mengatur pilihanmu.

Orang lain tak tau apa yang kau rasakan, yang tau tentang perasaan kita, hanya kita dan Tuhan. Orang lain tak selalu benar kawan, mereka hanya membenarkan filsafatnya dan apa yang mereka tau.

Kita dihadapkan pada banyak pilihan, dan tentu kita harus memilih satu. Ketika kita takut untuk memilih, maka, kita tak akan pernah sampai pada apa yang kita mimpikan. Dan, ketika kita tak bisa memilih, maka kita akan terhenti. Continue reading