Bukit Bintang


   cinta dalam labyrinth

              Rintik hujan malam itu berangsur reda, jalanan kota dan perbukitan berhiaskan dian-dian dengan cahaya sederhana yang indah bergemerlap jingga. Kau selalu bercerita padaku tentang pelangi sehabis hujan, kau selalu bercerita padaku tentang hujan dan romantika ceritanya juga alunan rintiknya yang merdu. Kau takpernah membenci hujan seberapapun derasnya menghujammu, sehebat apa gemuruh yang selalu hadir bersamanya, kau begitu yakin akan melihat pelangi dibulir terakhirnya. Seumur hidupku, aku hanya melihat pelangi dua kali, namun ketika bertemu denganmu, aku melihat pelangi diakhir hujan setiap kali, bahkan dengan cerdasnya kauciptakan sendiri pelangi kecil ketika matahari takbisa menepati janjinya membias pelangi di rintik terakhir hujan beberapa kali. kala itu, kaukatakan padaku bahwa pelangi-pelangi itu kini membias nyata berwujud rupa, aku.

Laju roda mobilmu berhenti disuatu dataran tinggi pedesaan sunyi. Jemarimu menggenggam tanganku membawa langkahku menuruni jalanan sepetak dan membiarkan Honda jazz merahmu terparkir dipinggir jalan. Ditempat ini begitu jarang rumah penduduk. Kulempar pandang melihat sekeliling, sepasang suami istri lanjut usia menyapamu akrab, senyum terurai dari wajahmu seraya taksabar mengajakku kesuatu entah sembari kau balas sapa mereka dengan hangat, keherananku menguap seketika dalam langkah panjangku mengikuti langkahmu hingga terhenti di suatu halaman kosong tepat dibalik rumah berbilik bambu yang didiami sepasang suami istri yang kujumpai di awal jalan.

Hanya seluas delapan meter persegi, rumput-rumput liar tumbuh takberaturan. Pandangku terkesima melihat dataran rendah dibawah kaki kita terhampar begitu luas berhiaskan cahaya lampu-lampu yang begitu megah. Kau mengajakku duduk beralas tanah yang sedikit basah oleh embun dingin angin pegunungan. Tak sedikitpun pandangku beralih dari lautan cahaya yang sangat indah, pertama kali kulihat ribuan bintang berhamburan di atas langit luas tak terhalang. Parodi-parodi keindahan yang dimiliki alam dikehidupan malam yang jarang terjamah.

“Kukira kau akan menunjukkanku lagi bagaimana ajaibnya kau mencipta pelangi bahkan dimalam hari”, ucapku pada lelaki yang sedang duduk dengan tenang memandang hamparan cahaya dari atas bukit ini.

“Ini salah satu yang sama indahnya dengan pelangi, sayang”, ia menjawab lembut sembari membenarkan kacamatanya. “ini adalah Bukit Bintang yang pernah kuceritakan padamu, kaubisa melihat kota Jogja dari atas sini, melihat ribuan bintang tanpa terhalang”.

Aku terdiam, menikmati jutaan cahaya yang terhampar indah. Setetes air jatuh di tanganku, kupandang langit tepat di atas kepalaku, takada hujan. Kuraba disudut mataku, setitik air masih tersisa dipelupuknya.

“Esok, kau akan pergi ke kota barat, pandangkupun tak menjangkau mu. Terima kasih untuk kado terindahnya..”, suaraku melemah, aku tertunduk. Aku meliriknya sepintas, rahang tegasnya, hidungnya yang mancung, mata sipitnya yang terbingkai kacamata, pantulan cahaya bulan yang menerpa kulit wajahnya, si cina yang membuatku selalu mengaguminya. Dia adalah kekasih yang Tuhan kirimkan untukku dengan segala kesempurnaanya. Yang mencintaiku dengan ketulusannya dan menerima aku apa adanya. Aku adalah wanita yang sangat bersyukur memilikinya.

“Selamat ulang tahun, jagoan cantik”, ia mengeluarkan kalung dengan liontin bintang berwarna biru terang dari saku bajunya, memasangkannya dengan manis di leherku. Ia memelukku erat dan berakhir dengan kecupan lembut yang mendarat dikeningku. “Nanti, ketika aku taklagi bisa menghadirkanmu pelangi diakhir hujan, bintang-bintang ini akan menggantikannya menjadi keindahan di rintik terakhirnya”, pandang kami beradu, bersamaan menatap liontin bintang yang kini dengan anggun tergantung diam di dadaku. Ada sesak yang berdesir lirih mengalir bersama laju darahku, mencoba meresapi ucapannya yang aku masih takmengerti.

Bukit Bintang dengan hamparan luas kota Jogja, 14 Juni 2007.

antara cinta dan menaiki bis


Seperti orang yang menunggu bis. Sebuah bis datang, dan kamu bilang, “Wah.. terlalu penuh, sumpek, bakalan nggak bisa duduk nyaman neh! Aku tunggu bis berikutnya aja deh.”

Kemudian, bis berikutnya datang. Kamu melihatnya dan berkata, “Aduh bisnya kurang asik nih, nggak bagus lagi.. nggak mau ah..”

Bis selanjutnya datang, cool dan kamu berminat, tapi seakan-akan dia tidak melihatmu dan lewat begitu saja.

Bis keempat berhenti di depan kamu. Bis itu kosong, cukup bagus, tapi kamu bilang, “Nggak ada AC nih, bisa kepanasan aku”. Maka kamu membiarkan bis keempat itu pergi.

Waktu terus berlalu, kamu mulai sadar bahwa kamu bisa terlambat pergi ke kantor.

Ketika bis kelima datang, kamu sudah tak sabar, kamu langsung melompat masuk ke dalamnya.

Setelah beberapa lama, kamu akhirnya sadar kalau kamu salah menaiki bis. Bis tersebut jurusannya bukan yang kamu tuju ! Dan kau baru sadar telah menyiakan waktumu sekian lama.

Sering kali seseorang menunggu orang yang benar-benar ‘ideal’ untuk menjadi pasangan hidupnya. Padahal tidak ada orang yang 100% memenuhi keidealan kita. Dan kamupun sekali-kali tidak akan pernah bisa menjadi 100% sesuai keinginan dia.

Tidak ada salahnya memiliki ‘persyaratan’ untuk ‘calon’, tapi tidak ada salahnya juga memberi kesempatan kepada yang berhenti di depan kita.

Tentunya dengan jurusan yang sama seperti yang kita tuju. Apabila ternyata memang tidak cocok, apa boleh buat.. tapi kamu masih bisa berteriak ‘Kiri’! dan keluar dengan sopan.

Maka memberi kesempatan pada yang berhenti di depanmu, semuanya bergantung pada keputusanmu.

Daripada kita harus jalan kaki sendiri menuju kantormu, dalam arti menjalani hidup ini tanpa kehadiran orang yang dikasihi.

Hal ini juga berarti, kalau kebetulan kamu menemukan bis yang kosong, kamu sukai dan bisa kamu percayai, dan tentunya sejurusan dengan tujuanmu, kamu dapat berusaha sebisamu untuk menghentikan bis tersebut di depanmu, agar dia dapat memberi kesempatan kepadamu untuk masuk ke dalamnya. Karena menemukan yang seperti itu adalah suatu berkah yang sangat berharga dan sangat berarti. Bagimu sendiri, dan bagi dia.

Lalu, bis seperti apa yang kamu tunggu ????

Sendang Siena

Hujan di Wajahku


cinta dalam labyrinth

Pandangku terpaku pada lelaki di sebrang tempat ku duduk, deretan buku yang tertata rapi di rak-rak berwarna coklat yang ada di toko buku ini tak membuatku beralih menatapnya. Kulihat ia sesekali membenarkan posisi duduknya yang berada tepat di depanku, membalik lembar-lembar buku yang tengah ia baca, ku lirik sampul bukunya “Tirai Embun Di Balik Jendela”.

Lelaki itu seperti tersadar ada yang meperhatikannya sedari tadi, bergegas ku alihkan pandang, aku salah tingkah membalik-balik buku yang sedari tadi ku baca. Aku menunduk, kemudian sesekali aku mencoba mengintip dengan menggeser sedikit ke bawah mata buku yang berjudul “Hujan Dari Kamarku” itu.

Seperti bias cermin, lelaki itu sungguh mengingatkanku pada seseorang yang telah berpulang. Tatapan matanya, tubuhnya dan garis wajahnya cerminan indah lukisan Tuhan yang pernah kumiliki sebelumnya. Kedua bola mataku enggan beralih dari menatapnya.

Lelaki itu menutup bukunya kemudian tersenyum ke arahku. Dengan kikuk aku membalas senyumnya. “Tuhan..” , aku mendesar lirih, ada desir di dadaku yang enath kutak tahu apa itu.

Seolah aku gelisah, ada rasa yang berkecamuk pelan namun pasti, pandangku tak ingin beralih. Lelaki itu menatapku heran, ia berjalan menghampiriku tanpa ragu. Degub jantungku semakin tak menentu. Bagaikan pinang dibelah dua, lelaki itu mirip sekali dengan seseorang yang aku takkan pernah lupa, lelaki yang telah pergi untuk selamanya.

“mbak, ada yang salah dengan saya?”, lelaki itu mengejutkanku, tanpa sadar ia sudah berdiri dihadapanku.

“eh.. Tidak mas. Maaf, saya kira mas teman saya, wajahnya mirip. Permisi”, jawaban bodoh yang kulontarkan. Aku gugup tertunduk malu, bergegas meninggalkannya. Lelaki itu menatapku penuh tanya, senyum di bibirnya masih mengembang padaku.

Aku beralih mencari tempat tersembunyi, mencari celah untuk tetep bisa melihatnya diam-diam. aku tertegun, diam dan gelisah. Pikirku tak menentu, entah sedang melayang kemana. Ada gerimis di sudut mataku, gemuruh di hatiku dan mendung di senyumku. Lelaki di sudut meja itu, Tuhan, kau hadirkan seseorang dihadapanku yang serupa dengannya yang telah tiada..

Desir sunyi dihatiku adalah kerinduan semu pada lelaki yang menghadirkan hujan di wajahku …

 

Ayu ratu Nagari

Senja diawal Oktober


cinta dalam labyrinth

Wanita menggenggam sebilah ranting dan mencengkeramnya erat, itu caranya meredam rasa sakit yang menghujam hatinya. Mencoba tetap tegar, menahan dalam geram. Siang itu angin padang rumput di tepian bukit berhembus lembut menerbangkan daun-daun kering pohon mangga, Wanita menjatuhkan tubuhnya lemah bersandar di dahan pohon . Ia diam menyekap semua yang tak terucapkan, membiarkan bulir air matanya jatuh ke tanah terserap akar. Sunyi…

Dua bulan yang lalu, ia duduk disini bersama Lelaki. Berdua bersembunyi dari gemericik hujan di bulan juni. Bermain dengan tetesan air di daun-daun hijau pohon mangga. Tawanya beradu dengan deras suara hujan, membiarkan tubuh mereka dibalut air surga dari atas awan. Melenggangkan tubuh berlarian menapakkan kaki di atas genangan.

Diam-diam sepasang mata mengamatinya dari sebuah bilik diatas bukit, tatapannya lurus dan kaku. Dilihatnya Lelaki menggandeng tangan kanan Wanita, menatap langit mendung yang mencerah perlahan. Kilat tak menyambit dan menggelegar, hujan perlahan hilang. Senja tak ada sore itu…

Kembali dirabanya rasa sakit di hatinya, genggamannya melemah, rantingnya terlepas. Rambut lurusnya dibiarkannya melambai tertiup angin. Air matanya takjua mengering, isak-annya lirih terdengar.

Seseorang berjalan sigap ke arahnya, menghampirinya dengan tatapan lurus dan kaku. Seseorang itu adalah Adam yang selalu mengamatinya diam-diam dari balik bilik bambu.

“Hapus airmatamu Wanita, sia-sia”, amarah dari ucapan Adam.

Wanita terdiam, menyibakkan beberapa helai rambutnya yang menutup matanya, mengusap buliran air yang mengalir di pipinya. Tatapannya sendu, pandangnya kosong.

“Pernah kuingatkan kau agar tak terbuai ketidakpastian, Wanita. Ia datang dan pergi sesukanya. Kau bahagiakan dia selamanya, tapi dia bahagiakanmu sementara”, Adam geram. Langkahnya mendekati Wanita yang tertunduk dalam tangis.

“Aku mencintainya, Adam. Dia mencintaiku dan Hawa…” , suaranya terisak serak dan berat. Padang rumput itu sesunyi matahari yang hampir tenggelam.

“Dia sudah pergi dengan Hawa, itu kepastian yang kau dapat. Apa yang kau tunggu disini? Senjapun enggan melihat airmatamu untuk Lelaki. Ia takkan datang untukmu lagi”.

“Aku percaya Lelaki akan menemuiku Adam, entah harus kutunggu waktu berapa putaran lamanya”, ia terisak. Ditanamnya rindu bersama bungkamnya. Di terbangkannya rasa bersama angin yang berlenggang lirih sore itu.

“Engkau yang setia menunggu Lelaki dan aku yang bersabar menunggumu, Wanita…”

Dua anak manusia terdiam , saling menatap. Hening menghampiri seketika, langit menjelma merona merah. jingga mengambang di atas kepala, lembayung menggantung dengan indahnya. Di padang rumput di tepian bukit, saling memendam kemudian menepiskan. Senja diawal Oktober, menyimpan rahasia rasa dua anak manusia ….

Ayu Ratu Nagari

Lembayung


cinta dalam labyrinth

 

Terik matahari yang mengakhiri siang sangat menyengat menyentuh kulit, pantulannya menyakitkan pandang. Mataku memicing. Ini jam pulang kantor, macet selalu jadi pemandangan setiap harinya. Aku menepikan motor, mengambil tempat teduh menunggu lampu merah yang detiknya masih pada angka 60. Seorang anak kecil penjual koran dan anak-anak jalanan yang meminta-minta adalah sebagian dari kehidupan peremepatan dan trafficlight di Surabaya. Ada yang memasang wajah memelas, memaksa kan pengendara membeli dagangannya, mengetuk-ngetuk kaca mobil depan tempat supir, mengelap kaca mobil-mobil yang berhenti kemudian meminta upah. Semua selalu kulihat di jalanan ini.

Garis hitam putih di depanku menggambarkan lukisan dunia yang lain. Seorang polisi tua yang sibuk mengatur padatnya jalanan dan menyebrangkan dua anak penjual bakso gendong. Fokusku pada dua anak laki yang kuterka tak jauh berbeda dengaku umurnya, kulihat ceria diwajah mereka berdua. Bajunya lusuh, celana pendek yang sudah robek, sandal jepit yang tipis hampir berlobang  dan tali ujungnya sudah putus ia kaitkan dengan peniti terlihat ketika ia berjalan. Hatiku miris menangis. Kulihat semua yang melekat di tubuhku, aku jauh lebih beruntung daripada mereka. Berduanya tertawa riang, bercanda dengan pikulan beban gerobak gendong yang dibawanya menyusuri jalanan kota Surabaya demi sesuap nasi sehari-harinya. Peluh menetes di dahinya, lelah di guratan wajahnya seolah berusaha mereka samarkan dengan menikmatinya.  Ada yang menghentakku seketika. Masihkah aku mengeluh setiap harinya dengan pekerjaan dan tugas-tugas kuliah yang membebankan? Tidakkah aku berkaca pada mereka, aku yang jauh lebih beruntung masih saja merasa seolah aku yang paling menderita.

Suara klakson kendaraan yang bersahutan mengagetkanku, sepertinya aku melamun beberapa puluh detik lamanya. Kutarik tuas motor perlahan, motorku melaju melewati beberapa pengendara di jalanan kota Surabaya yang memadat. Kulirik jam tangan hitam Alba di lengan kiriku, jarum pendeknya berada di angka 4 dan jarum panjangnya berada di angka 3. Aku melaju semakin kencang, memburu waktu menuju perpustakaan kota. Seseorang sudah menungguku disana.

Parkir motor perpustakaan kota ini tak sepenuh hari biasanya. Ini akhir minggu di akhir bulan September. Ku parkirkan motorku di bagian ujung pelataran sebelah timur yang tersisa satu slot. Tempat ini berlorong-lorong dengan atap-atap kayu yang sudah rapuh dimakan usia, beberapa patahannya tercecer di bawah. Bangunan ini cukup tua. Entah mengapa setiap akhir minggu perpustakaan ini justru tak banyak pengunjung, mungkin mereka memilih menghabiskan waktu liburan akhir pekan dengan keluarga daripada menghabiskan waktu berlama-lama membaca buku-buku usang.

Aku berjalan memasuki ruang baca yang berada di lantai dua.

“Sore mbak Sahla, sudah di tunggu mas Tristan loh daritadi”, sapa seorang lelaki yang berdiri dibalik meja kayu di dekat pintu masuk perpustakaan. Mas Surya adalah salah satu karyawan di perpustakaan kota ini, berpawakan tinggi dengan badan tegap, pakaiannya selalu licin dengan ikat pinggang hitam yang selalu ia banggakan, sepatu kulit yang disemirnya setiap hari hingga kinclong dan rambut klemis yang selalu dirapikannya tiap menit. Suaranya besar dengan logat khas Surabaya, ia selalu menyebut dirinya Bonek Elit – Anggota penggemar klub Sepak bola kota Pahlawan (Persebaya) yang tak pernah mau ikut carut-marut kekerasan persepakbolaan yang dilakukan oleh mayoritas Bonek yang suka tawuran tak jelas.

“Sore, mas Surya. Makin rapi aja nih”, godaku membalas sapanya. Aku tertawa ringan.

“Bisa saja mbak Sahla ini”, senyumnya nyengir.

“Saya mau masuk dulu mas”, pamitku berjalan meninggalkannya yang sibuk melayani pembaca yang ingin menyewa buku. Mas Surya menganggukkan kepala dan mengangkat ibu jarinya sambil tersenyum mempersilahkan.

Setiap waktu luang dihari bebas kuliah, aku sering berkunjung ke tempat ini untuk meminjam buku, membaca ataupun sekedar untuk menemui seorang lelaki yang setiap sorenya menghabiskan waktu di tempat ini. Hingga beberapa orang petugas yang berjaga, aku mengenalnya akrab. Salah satunya mas Surya, yang menyambutku di pintu masuk.

Perpustakaan ini terbesar di kotaku, pengunjungnya juga selalu ramai. Setiap bulan pasti ada buku-buku baru yang berjajar di sepanjang rak utama di barisan paling depan dan itu adalah rak favorit yang selalu merebut daya tarikku setiap kali kesana, namun sore ini tidak, pikirku hanya tertuju pada seorang lelaki yang menungguku di meja baca paling ujung perpustakaan.

Seorang lelaki berkacamata dengan kaos putih bertuliskan –the box of dream- yang sedang sibuk membenahkan kacamata yang membingkai mata sipitnya. Bergegas aku mengambil tempat di sebelahnya.

“Maaf, hari ini banyak sekali pekerjaan di kantor. Aku membuang waktu 10 menit kita”, aku melenguh lirih, ini perpustakaan dan sudah seharusnya kita tak berbicara terlalu keras.

“Nevermind”, jawabnya singkat sembari meletakkan buku pemrograman yang digelutinya. “Kau tampak lelah, sayang. Wajahmu pucat, apa kau sakit?”, tanyanya mengkhawatirkan.

“Tidak, aku hanya lelah saja. Cukup bertemu denganmu, semua juga takkan terasa”, jawabku sekenanya yang kuakhiri dengan senyuman agar takberlarut. Aku tahu pasti bagaimana jika aku menjawabnya ragu, itu akan membuatnya terus bertanya. Hari ini aku memang sangat lelah.

“Aku merindukanmu, Sahla”, ia berucap lembut sembari mengusap kepalaku. Jilbabku sedikit diacaknya.

Hanya ada enam puluh menit pada satu hari dalam satu minggu tepat diakhir pekan untuk bertemu dengannya, waktu yang sangat singkat. Kesibukannya dan kesibukanku adalah salah satu alasan mengapa kita hanya bisa bertemu sesingkat itu. Namun bagiku itu sudah cukup untuk mengobati rindu.

Aku tahu Tristan sangat menyayangiku, aku tak pernah berharap lebih pada waktu untuk memberiku beberapa puluh menit lagi bersama pria yang sedang tersenyum manis dihadapanku. Beberapa orang selalu bertanya tentangku dan lelaki berkacamata itu, namun hanya senyum yang selalu mengembang menutup ragu untuk menjawab tanya itu.

Enam puluh menit itu telah berlalu, waktu terasa sangat singkat saat aku dan dia bercengkrama melepas rindu, bercerita tentang hari-hari kita dan selalu saja ada yang menjadi perdebatan. Sikapnya selalu hangat setiap bersamaku, walaupun ada sedikit ragu terselip di hatiku, berusaha kuhapus semua itu.

“Sahla, esok aku tak bisa menemanimu. Aku akan menemani Grace di Gereja untuk mempersiapkan perayaan Paskah. Maafkan aku”, ia berucap ragu namun tenang, menggenggam tanganku.

“Pergilah, temani kekasihmu. Jangan hiraukan aku”, aku berusaha tersenyum menepis sesak yang seketika menghinggap.

“Aku sangat mencintaimu, Sahla”.

Hanya mampu kuanggukkan kepala dan tersenyum berat menjawab pernyataannya. Aku mencintai kekasih wanita lain dan ia mencintaiku lebih dari kekasihnya. Rasa takut yang (mungkin)  sama seperti yang pernah ia rasakan ketika aku bersama lelaki lain. Salahkah ketika aku juga merasakan cemburu? Salahkah ketika aku juga merasakan takut? Tidakkah ada yang bisa kupinta seperti pintanya? Dan aku hanya bisa menerima, merelakan dan menatapnya dari kejauhan. Membutakan mata, membisukan kata, menulikan telinga dan menepiskan rasa.

Ia menggandeng tanganku berjalan meninggalkan perpustakaan yang tak-se-ramai biasanya. Langkahku sedikit gontai, ia menatapku sendu, aku mencoba bersikap sangat tenang. Seandainya ia tau, hatiku terluka, ya, sakit yang saat itu menghujamku tanpa permisi.

“Lusa kita akan bertemu lagi disini. Aku janji. Percayalah, aku selalu mencintaimu”. Selalu kata itu yang ia ucapkan padaku untuk membuatku yakin kesungguhannya. Entah mengapa, hari ini tak kutemukan kebahagiaan dihatiku, kucoba mengais-ngais kepingannya namun jamahannya meluka sukma. Kupandang ia yang menghilang dikejauhan dengan motor kesayangannya.

Aku masih terdiam, meraba-raba hati menutup perih. Lembayung di langit Surabaya sore ini menggantung bersama dengan hujan yang sedari tadi menggantung di mataku, bulirnya mengalir tak terbendung. .

 

Ayu Ratu Nagari

Pelangi di batas Senja


cinta dalam labyrinth

             Apa yang kupikirkan tentang dua keyakinan, tak berdusta aku selalu berharap tak pernah ada perbedaan diantara kita. Yang mereka pikirkan tentang kita, caci-maki –  pandangan orang yang selalu menatap kita salah dan tentang dua agama yang tak bisa di-satu-kan kenyataannya selalu menjadi tanya tersendiri ketika aku berlama-lama bercerita pada Tuhan di Gereja, apa yang salah dengan kita? Bukankah sesungguhnya Tuhan kita satu, Tuhan yang Esa,  hanya saja kita menyebutnya berbeda.

Kita tak pernah merencanakan apapun untuk sebuah rasa yang kita sendiri tak mengerti penyampaiannya, namun tiba-tiba cinta itu bersembunyi dibalik punggung kita dan menertawakan kita yang memerah jambu saat berjumpa. Tatapan-tatapan malu kita dan hati kita yang bahagia saat bersama perlahan meredup terhalang kenyataan – kita yang berbebeda agama. Al-Kitab pedomanku dan Al-Qur’an pedomannya.

————————————–

                Aku menunggunya yang sedang husyuk beribadah, di dalam masjid yang megah dengan tirai kaca yang mengelilinginya. Aku menunggunya di kursi batu di bawah rindang pohon beringin sebelah Selatan pintu masjid. Beberapa jamaah sudah mulai meninggalkan pelataran. Kulempar pandang ke- sekeliling, sebagian dari mereka seolah menatapku heran, kualihkan pandang kepada seorang bapak tua yang berjalan tertunduk-tunduk dengan sarung coklat bermotif kotak dan peci yang sudah lusuh, beliau tersenyum kepadaku, aku membalas senyumannya.

Beralih aku melihat seorang wanita yang masih duduk seorangan di dalam rumah ibadahnya, tubuhnya dibalut mukenah penuh sehingga hanya wajahnya saja yang tak tertutup. Parasnya semakin cantik terbasuh air wudhu, ada rasa yang mengetukku perlahan dan menghentakku seketika, tentang rasa takut yang selalu menjadi kekhawatiran di diriku.

Bibirnya mengamit mengucap dzikir, jemarinya memetik butir-butir tasbih di genggamannya. Hatiku semakin berdesir, semakin erat kugenggam rosario ditanganku mencoba membunuh kekhawatiran hebat dalam diriku yang selalu kurasakan sendiri. Ia bersujud dan aku melipat tangan, merapal doa yang sama dalam bahasa yang berbeda.

—————————-

                Secangkir kopi hangat pagi ini, terasa lebih nikmat dari biasanya. Mungkin karena kita membuatnya berdua, menunggu didih air sambil bercengkrama lewat bincang hangat, menuang dan mengaduknya dengan penuh cinta.

Kita duduk di serambi depan, sejuk udara pegunungan pagi itu, tetes embun yang masih menempel di daun-daun, kita menikmatinya, hangat canda berbaur dengan segala cinta yang sedang bersemi adanya.

Ia menatapku dengan penuh kasih, senyumnya selalu menjadi bahagia tersendiri untukku. Sejenak aroma kopi pagi ini beradu dengan pikirku. Bahagia? Aku bahagia. Lelaki dihadapanku ini, wanita mana yang takbahagia dengan segala hujan perhatian dan cinta yang ia berikan selalu, aku merasakannya luar biasa. Aku akan merindukan saat-saat ini, setiap cerita dan kisahnya akan selalu terbaca nyata, mungkin kelak akan kuceritakan pada anak-anakku bagaimana cinta yang seperti ini pernah terjadi dikehidupan ibundanya.

—————————-

                “Bersamamu adalah perjuangan yang aku takmengerti untuk apa”, desahnya berucap lirih padaku.

“Aku tak mengerti maksudmu. Bisakah kaujelaskan padaku?”, tanyaku heran.

“Memperjuangkan rasa untuk kita yang berbeda, menerima cerca dari segala pemikiran tentang kau dan kekasihmu sekarang, siapa aku dan pandangan orang tentangku,” ia menghela, mencoba tetap tersenyum padaku. “Untuk cinta? Untuk rasa? Atau untuk bahagia yang tak pernah terpikir bagaimana akhirnya?”, ia melajutkan ucapannya, nadanya merendah.

“Kautak berjuang sendiri, aku selalu membantah setiap apa yang mereka katakan tentangmu, mereka taktahu apa dan bagaimana menjadi kita. Aku mungkin egois, aku tak tahu bagaimana kita kedepannya, semua rahasia Tuhan terlalu misteri, sayang..”, kugenggam tangannya erat. Dadaku sesak, aku mencintainya, wanita yang sedari pertama aku berjumpa dengannya membuatku jatuh hati padanya.

“Seandainya kau tak pernah menyatakan perasaanmu padaku, mungkin kita masih saling diam dan bungkam. Semua memang kehendak dan skenario Tuhan…”, terangnya.

Di ruangan ini hanya ada kita berdua. Aku menatap langit-langit kamar mencoba mengalihkan sesak, mataku terpejam mencoba menemukan Tuhan dalam diriku. Jemari-jemari lembut itu mengangkat wajahku perlahan, mataku terbuka, kutatap ia yang tersenyum manis di depanku, merasakan desah nafasnya yang begitu dekat menyentuh kulitku. Selalu ada rasa nyaman yang selalu ia berikan, rasa nyaman yang sedaridulu tak pernah kurasakan.

“Aku tak mau kaupergi. Aku tahu, aku tak bisa memberimu masa depan dengan perbedaan kita ini. Mungkin dipikiranmu bagaiamanpun perjuangan kita hanya berujung sia-sia. Dan dengan kenyataan aku yang telah berkasih…”, sakit, hanya itu yang kurasakan, aku hampir tak mampu berkata.

Ia menggenggam tanganku erat, hanya bisa kutundukkan kepala menahan sakit. Aku lelaki yang lemah karena cinta yang begitu besar untuknya. Untuk seorang wanita yang begitu berarti dihidupku.

“Aku takmampu memendam lagi setelah dua tahun membisu sendiri. Aku taksanggup lagi melihatmu berjalan didepanku dan lelaki lain menggandeng tanganmu begitu erat. Aku tahu ini adalah ego diriku, Mengapa baru sekarang Tuhan mendekatkan kita?”, suaraku berat meninggi. Mendung diwajahku semakin gelap. “Aku sangat menyayangimu…”

“Lalu, pada siapa aku harus bertanya? Percayalah, Tuhan tahu yang terbaik untuk kita, sayang. Bahkan pertemuan kita sekarang, semua karena Tuhan. Kita takpernah berencana, kita hanya meminta dalam diam, tanpa kita sadari Tuhan selalu mendengar doa-doa bisu dihati kita”, ucapnya lembut. Ia menatap mataku dalam, tatapannya yang selalu meneduhkanku. Hujan jatuh taktertahan dari mataku, mengalir melewati bibir. Ia mengusap air mataku, memelukku sangat erat, terisak aku di bahunya. Tubuhnya melemah, kudengar ia menangis lirih. Aku selalu ingin menjaganya, aku selalu ingin bersamanya, Tuhan aku tahu kau akan selalu mendengar doa kami..

“Mereka tak pernah tahu apa yang kita rasa, apa yang kurasakan dan kupendam berlama waktu. Kubilang pada mereka, seandainya aku bisa meminta waktu berputar ulang, aku takakan melepasmu begitusaja kemudian mengenal wanita lain”, sesal yang berujung sia-sia. Ia hanya menjawab dengan senyuman yang aku tak mengerti, dia selalu menyimpan misteri tersendiri yang selalu membuatku berlebih ingin tahu tentangnya.

“Aku hampir lupa rasanya jatuh cinta, hingga saat kehadiranmu lagi di hidupku dengan  membawa rasa yang berbeda. Cinta yang disatu sisi akan membuatku bahagia dan di sisi lain akan membuatku menderita, satu paket yang takterpisah. Cinta yang kadang meruntuhkan logika dan akal sehat kita”, ia mencoba menghapus air matanya sendiri, berusaha tak terlihat lemah di depanku.

“Hi, wonder woman – selalu mencoba tegar”, aku mengusap lembut kepalanya menghapus sebekas air mata yang tersisa di pelupuk matanya.

“Wonder woman juga punya hati dan bisa menangis”, ia memelukku manja.

“Aku mencintaimu, dan kaumembawa perubahan berarti di hidupku. Kauyang memberikan semua yang takpernah kurasakan. Mencintaimu adalah anugerah yang akan selalu kujaga. Bersamamu adalah perjuangan kita. Benar ucapmu, Tuhan masih menyimpan segala rahasianya dan aku akan selalu menunggu Tuhan menunjukkan pada kita”, aku tersenyum menatap wanita bermata hitam bulat yang duduk di depanku. Aku tak pernah jemu menatapnya berlama, senyumnya yang manis, air wajahnya yang ceria, dan tatapannya yang selalu membuatku tenang.

“Semuanya seperti senja yang butuh belasan jam untuk menunggunya namun indah dan hadirnya hanya bisa dinikmati sekejap waktu. Ketika cahayanya memudar, kadang ia menghasilkan rona yang membekas dan kadang ia lenyap begitu saja..”, ucapnya lembut, pandangnya seolah dilayangkan ke suatu entah. Kemudian ia menatapku dengan pasti.

“Kau dalah pelangi di batas senja, keindahan itu berakhir dengan keindahan kedua yang sangat berkesan hadirnya. Kau istimewa, sayang…”, aku mencium keningnya, aku menggenggam tanganya semakin erat. “Kau akan selalu menjadi hal terindah di hidupku, di hatiku sampai kapanpun….”

 

Ayu Ratu Nagari

Edelweiss di makammu


cinta dalam labyrinth

Siang terik di kota kita, 4 tahun silam. Di bawah rindang pohon beringin di halaman rumah peninggalan Belanda yang masih lekat dengan aksen bangunan tua beberapa abad yang lalu, aku duduk dengan seorang lelaki jangkung berwajah oriental, matanya yang sipit selalu terbingkai kacamata fullframe hitam yang cocok. Kami bersadar pada dahan pohon beringin berumur ratusan tahun yang masih kokoh, menghadap pada  rumah ber-cat putih dengan jendela-jendela panjang kuno yang teduh dengan bermacam-macam tanaman gantung yang berjajar warna-warni di dinding-dinding dan pelatarannya.

“Apa yang kau bawa dari pendakianmu, Jagoan Cantik?”, tanyanya menatap seikat bunga di genggamanku sambil mengusap-usap kepalaku – kebiasaan yang sering ia lakukan padaku, alisnya mengernyit.

“Ini Edelweiss , si Bunga Abadi”, aku menjawab dengan senyum sembari menyodorkan seikat Edelweis putih padanya yang ku-dapat dari seorang penduduk di belantara padang edelweiss ketika pendakian.

“Bunga Abadi?”, tanyanya kebingungan. “Apa yang dimaksud bunga abadi? Ia tidak punah? Hmm.. Bunga yang sederhana ini memang cukup cantik dan unik”, ia berdeham berlaga seorang detektif dengan membentuk checkmark dari ibu jari dan telunjukkan di antara dagunya, membolak balik seraya mencari sesuatu untuk di-amati dari seikat bunga edelweiss yang diambilnya dari genggamanku.

“Hi, Jurnalis Tampan, gayamu semacam detektif saja”, godaku mengangkat dagunya, ia tersenyum sangat tampan. “Ini bunga Edelweiss yang pernah ku ceritakan padamu dahulu, bunga yang pernah ku-janjikan akan ku-bawakan untukmu”, aku merapikan dudukku. Ia menatapku, bergegas mengambil botol bekas air mineral di sebelahnya, memasukkan bunga edelweiss itu ke dalamnya dan diletakkan-nya tepat di depan kita. Beberapa detik kami terdiam.

Kulayangkan pikirku dan pandangku, mencoba menjelaskan pada lelaki disebelahku (kekasihku), “Bunga itu memang sederhana, tapi di kesederhana-an-nya dia sangat istimewa. Warnanya yang putih, orang sering bilang itu lambang cinta, dan ketulusan. Letaknya yang hanya ada di puncak-puncak gunung tinggi adalah lambang suatu pengorbanan dan Edelweiss adalah bunga yang bisa bertahan lama, itu mengapa bunga ini adalah lambang keabadian”.

“Dan kau adalah bias dari bunga abadi ini”, ucapnya lembut dan tatapan matanya mendalam padaku. “Sekarang aku tahu, mengapa kau selalu mengagumi Edelweiss, dan sekarang yang harus kau tahu, aku menyukai Edelweiss karena ia sepertimu”, ia mengecup kening-ku lembut, tersenyum memandang Edelweiss dihadapan kami.

Angin sepoi-sepoi berhembus menyentuh kulit kita, bisik suaranya lembut di telinga, beberapa daun berjatuhan tertiup hembusannya. Mata kita tak beralih dari si bunga abadi yang anggun di genggamannya.

“Bunga ini boleh untuk-ku? Agar saat nanti kita jauh, aku selalu mengingatmu seperti bunga abadi ini…”, pintanya berucap lirih seolah berbisik, tatapan matanya redup pandangnya melayang entah.

“Itu untukmu, sayang..” , aku tersenyum lembut menatapnya. Pandangnya beralih padaku, ia memelukku sangat erat. Ada rasa yang aku tak mengerti apa,aku wanita yang sangat mencintainya, hatiku berdesir, dingin, aku takut….

          -Bandung, 2008

——————————-

          “Bangunlah, sayang. Bukankah kau berjanji akan menemaniku saat aku pulang? Bukankah kau ingin segera bertemu denganku?”, suaraku serak, ada gerimis di mataku, aku lelaki dan aku menangis.

Tanganku menggenggam erat tangannya yang lemah, mencoba membangunkannya yang telah tertidur tujuh hari lamanya, matanya terpejam sangat lekat, detak jantungnya begitu lemah. Ruangan yang sama seperti 2 tahun lalu. Ketika ia harus terbaring tak sadarkan diri dan aku hanya bisa berharap dan meminta untuk kesembuhannya.

Seperti tubuhnya kesakitan oleh semua benda-benda kedokteran ini, beberapa kali jarum suntik menusuk kulitnya, berbagai cairan yang entah untuk kesekian kalinya mengalir bersama aliran darahnya. Aku tak pernah tega melihatnya yang begitu lemah. Hanya petikan jari berdzikir untuk-nya dengan bibir yang tak henti memanjatkan doa.

“Lihat, sayang, bunga edelweiss pemberianmu dulu masih ada. Aku membawanya lagi untukmu”, air mataku tak tertahan, suaraku semakin berat, kuletakkan bunga edelweiss itu di atas meja yang berada di sebelah kiri ranjang tidurnya. “Kau selalu ingin menjadi seperti edelweiss ini bukan? Bangunlah, aku merindukan tawamu..”

Aku sangat mencintainya, wanita yang selalu memberikan semangatnya untukku, wanita hebat yang Tuhan hadirkan di hidupku, wanita yang memikatku kala pertama bertemu, wanita yang dengan segala kesederhanaanya membawa warna di duniaku, dia inspirasiku, dia, wanita yang selalu kurindukan setelah ibu..

“Tuhan, sembuhkan dia…”, aku terisak lirih, aku takut…

-Jakarta, 2009

——————————-

           Ini minggu pagi di kotanya, hari ini aku tak sendiri meliput berita, ya, aku seorang jurnalis di salah satu surat kabar ternama di Kota Pahlawan. Seorang wanita berambut hitam lurus sebahu, memakai kaos berkerah lengan panjang berwarna biru,jeans denim senada dan sepatu kets sedang menungguku di barisan kursi sebuah halte sebrang taman kota. Bola mata hitamnya yang bulat kecil memandang kearahku yang berjalan menghampirinya, senyumnya sangat manis.

“Masih betah menungguku bertugas, Jagoan Cantik?”, aku mengambi tempat dan duduk tepat di sebelah kanannya.

“Tentu!”, jawabnya bersemangat. Ia tak pernah mengeluh, walaupun aku tahu pasti tubuhnya terlalu peka dengan terik panas, ia selalu berusaha bersikap biasa di depanku. Ia hanya selalu berusaha membuatku bahagia.

“Mengapa kau memandangku se-aneh itu, wahai lelaki?”, ia heran melihatku yang mengamatinya dengan pandangan kosong.

“Kau cantik, bukankah aku sangat suka memandangmu berlama-lama?”, aku mengelak, namun benar, aku selalu suka melihatnya. Wajahnya yang lucu, tawanya, senyumnya juga tingkahnya yang riang.

“Kau sangat pandai merayuku..”, dia tersipu, wajahnya bersemu.

“Ini untukmu, sayang. Pasti kau jenuh”, aku memberikan ice cream blueberry kesukaannya yang ku beli di minimarket sebrang halte bus ini pada wanitaku, dia tertawa lucu.

“Ini tanda damai?”, ia merampas ice cream itu dengan bersemangat. “Baiklah, aku terima. Terimakasih Jurnalis tampan”, dia tertawa renyah. “ Tapi, kukira kau butuh ini untuk mengusap peluh di dahimu”, ia menyodorkan sebungkus wipes tissue kepadaku dengan wajah polos-nya.

“Haha.. Kau tahu yang aku butuh, tapi, alangkah baiknya jika wajahmu lebih ekspresif saat kau memberikannya padaku”, aku tertawa menggodanya sembari menarik hidung mungilnya, ia hanya tersenyum nyengir dan masih sibuk menikmati ice cream kesukaannya. Dia selalu bisa membuatku tersenyum bahagia saat bersamanya. Aku, lelaki yang beruntung memilikinya.

– Surabaya, 2009

——————————-

             Riuh kendaraan yang berlalu lalang, suara klakson mobil yang bersahut-sahutan, anak-anak jalanan yang duduk menengadahkan tangan, teriak penjual asongan yang menjajakan dagangannya, tukang becak yang tertidur di tengah terik, supir-supir angkot yang mengalungkan handuk di lehernya dan pekerja yang berjalan sembari mengusap peluh di dahinya. Beberapa penjual bunga terlihat menawarkan keranjang-keranjang penuh bunga pada orang-orang disekitar.

Aku menoleh kebelakang, menatap seorang wanita paruh baya di dalam mobil sedan hitam yang menepi pada pemberhentian. Wanita itu tersenyum padaku kemudian melambaikan tangan. Kaca pintu depan sebelah kiri-nya mulai tertutup, laju mobilnya berjalan meninggalkanku yang masih berdiri menatapnya berlalu hingga mengihlang di belokan 30 meter di depan.

Tatapku beralih pada hamparan luas pembaringan diam, kakiku melangkah berat tiap tapaknya. Daun-daun kering berhamburan tertiup angin, pohon-pohon besar di tempat ini rindang, anak anak rumput melambai-lambai menyentuh kakiku, hatiku selalu berdetak tak beraturan setiap kali aku memasuki pelataran ini.

Beberapa orang bapak-bapak dan ibu tua berseragam biru panjang lusuh, mengenakan caping dan tangan yang meliuk-liukkan sapu sedang membersihkan tempat ini. Aku mengikuti jalan setapak dengan menundukkan kepala, langkahku terhenti pada satu pembaringan abadi. Nafasku terhela panjang, kutatap nisan bertuliskan :

-Rendra Ega P.H-

Wafat : 7 Februari 2009

            Kakiku lemas, aku duduk bersimpuh, kuletakkan keranjang bunga dan seikat Edelweiss yang kubawa sedari-tadi, tanganku mengusap nisan putih itu, aku selalu tak mampu membendung tanggul air mataku, aku menangis dalam diam.

“Tuhan, aku merindukannya…”, ucapku lirih. Ku-tabur perlahan bunga-bunga dari keranjang yang ku-beli tadi siang  pada pembaringan tidur panjangnya, di atas gundukan tanah yang masih basah oleh air hujan tadi malam.

Pikirku menerawang  jauh, mengingat setiap kenangan yang pernah kulalui bersamanya, mengingat setiap kejadian yang tak akan terlupa, mengingat tawa dan senyumnya, tatapannya dari balik kacamatanya, senyumnya yang sumringah dan sikapnya yang bijaksana. Dia, lelaki yang dengan segala rupawan hati dan sikapnya yang pernah Tuhan hadirkan dihidupku. Aku, wanita yang paling bahagia karenanya.

Kini, aku tahu rasa takut apa yang pernah kurasakan beberapa tahun lalu saat ia memelukku dengan seikat bunga digenggaman tangan kanannya di bawah rindang beringin tua kota Bandung kala itu, saat samar kudengar ia berbisik, “Kau adalah Edelweiss yang selalu hidup dihatiku”.

“ Rasa takut ku itu adalah ketika sekarang harus kuletakkan bunga Edelweiss di makammu…” air mataku mengalir tak tertahan….

-Jakarta 2013

Edelweiss, Edelweiss
Every morning you greet me
Small and white, clean and bright
You look happy to meet me

Blossom of snow may you bloom and grow
Bloom and grow forever

Edelweiss, Edelweiss
Bless my homeland forever

Ayu Ratu Nagari