Dia yang Pertama


cinta dalam labyrinth

 

Seseorang menegurku lembut, bertanya meminta pertolongan. Ia tersenyum manis, tatapannya teduh menatapku. Berterimakasih.  Aku tersenyum membalasnya. Pertemuan pertamaku.

Ia melangkahkan kaki ragu-ragu, mengambil tempat di sebelahku. Mengulurkan tangan berjabat denganku, menyebut namanya dan kusebut namaku. Senyumnya yang kedua, perkenalanku yang pertama.

Seseorang itu duduk disampingku setiap harinya dengan wajah ayu dan senyum manisnya  yang sejak pertama membuatku salah tingkah. Aku tak pernah berani menatap matanya danpun jua menyapanya. Dia dengan keanggunan sikapnya yang membuatku mengaguminya diam-diam, dia dengan senyumnya yang menawan membuatku berangan seolah membunuh harapan untuk suatu kedekatan. Untukku, dia terlalu istimewa.

Aku bukan pendiam juga bukan lelaki banyak bincang. Dan dia yang penuh dengan keistimewaannya, seseorang yang dengan keacuhannya membuatku salah tingkah setiap didekatnya, diam seribu bahasa. Aku hanya selalu menyapanya dalam doa-doa saja. Berharap Tuhan mendengar tentang sebuah harapan yang dalam pikirku saja itu terlalu tinggi. Dia bukan yang pertama membuatku suka, tapi dia yang pertama membuatku mengagumi seseorang dengan salah tingkah, yang pertama membuatku diam dengan kikuknya dihadapan wanita,  yang pertama membuatku jatuh cinta dengan segala perjuangan dan pengorbanan dan dia yang pertama membuatku diam-diam menyukainya. Yang aku tahu, nyatanya dia memang seseorang yang berbeda dari sekian wanita.

Seseorang yang istimewa itu, sekarang ada didekatku. Tersenyum jauh lebih manis dari pertama dulu. Aku yang tak pernah berani menatap matanya dulu, kini terlarut dalam memandangnya. Tangannya lembut menggenggam tanganku. Tuhan mendengar doa-doa pengharapanku yang kurasa mustahil itu, dirajutNya benih-benih asmara diantaraku dan dia dari jauh,  merangkainya dengan indah dalam sebuah ikatan. Seseorang itu bukan yang pertama mengisi hidupku, tapi dia seseorang yang pertama kali membuatku menjadi lelaki yang lebih bahagia dan berguna, menjadi diriku yang apadanya, seseorang yang pertama menjadi bagian di keluargaku dan kehidupanku yang lebih indah, seseorang yang pertama mengajarkanku menjadi lebih dewasa, membuat hari-hariku selalu bahagia dengan tawa-tawanya. Dia adalah sesorang wanita yang dengan segala kekurangan dan kelebihannya mampu membuatku mencintainya karenaNya.

 

 

Aku, lelaki yang dulu selalu merasa mustahil memlikinya.

Aku, lelaki yang mencintainya.

Ayu Ratu Nagari

Advertisements

Pertanyaan Bisu


Selamat malam seseorang yang masih selalu diam dipikirku. Ini minggu kesekian sejak kita bertemu lagi, sudah jutaan menit kitalalui dengan cerita yang silih berganti. Wahai kauseorang lelaki, tanpapun kaumengerti, aku masih selalu menulis namamu di lembaran putihku, mengukir namamu di hatiku, dan menyebut namamu dalam setiap doaku.

Masih kauingat kitapernah mengukir mimpi berdua didunia ini? Mimpi dan harapan-harapan yang pernah kitabuat dan kitagantungkan dalam setiap cerita dan doa malam kita pada Tuhan yang kita menyebutnya dengan nama berbeda. Sekarang, kurasa seolah mimpi dan harapan itu tertiup angin, berhambur, terbang kemudian hilang. Hanya serpihan kecil yang tersisa kemudian tersapu hingga terlupa.

Aku selalu tersenyum setiap kali melihat pesan singkatmu di handphoneku, sesering itu kita bertukar kabar kemudian berbagi cerita seharinya hingga larut malam. Entah, akhir-akhir ini pesan singkatmu adalah hal yang menjadi ketakutanku tersendiri. Setiap ketikan kata-katamu membuatku sadar, aku kehilangan kamu yang dulu. Aku selalu mencoba mengembalikan dirimu seperti dulu, berusaha mengingatkanmu pada mimpi-mimpi  dan harapan-harapan kita yang dulu, membuatmu memahami bahwa ada seorang wanita yang takkan pernah diam melihatmu seketika menjadi orang yang berbeda.

Kauselalu berucap lelah dalam pesan-pesan singkat yang kaukirimkan padaku, lelah memperjuangkan kita dan bosan dengan sikapku. Kaulebih memilih diam kemudian menghilang. Hingga malam lalu aku bertemu denganmu, ada segudang tanya yang membebaniku beberapa hari itu, tentang kabar burung yang sempat mampir di telingaku, seandainya kautahu sesak yang menyelinap setiap mendengar apapun tentangmu. Aku hanya seorang wanita biasa, pun-aku bisa merasa kecewa dan terluka. Sedang aku takpernah mendapat penjelasan serupa. Apakah aku egois untuk meminta penjelasan darimu?

Sinar matamu ketika menatapku pekat, mengusap kepalaku, tersenyum kearahku dan memelukku, kebahagian yang semakin membuatku ragu. Kemudian sejenak bisu. Hingga akhirnya kaumembuka ucapan, bertanya padaku tentang kabar itu, tentang wanita itu. Bibirku membeku, bukan, bukan aku tak ingin bertanya namun, terlebih dulu hadir rasa sakit yang menjalar begitu cepat hingga membuat lidahku kelu. Kaubercerita dengan seolah takmengerti perasaanku, tawapun tersungging mudah dibibirmu. Hingga seucap kata mampu terlontar dari mulutku, membuatmu geram dan menyudutkanku. Apakah aku egois untuk meminta sedikit pengertian darimu?

Sayang, sudah kutinggalkan semua lelaki-lelaki itu sesuai keinginanmu, kulepaskan semua demi pintamu yang kupikir kauyang akan membahagiakan aku. Meski takpernah ada lagi pembahasan tentang perasaan dan kejelasan status. Kaumemintaku mengertikanmu, kulakukan pintamu, mengertikanmu dalam kesibukanmu dan sebatas waktumu hingga harus kusimpan diam rindu yang membelenggu. Kaumemintaku membuktikan padamu dan meyakinkanmu? Sayang, mengapa sampai saat ini kausulit percaya pada perasaanku? Kauselalu saja menuduhku dengan banyak lelaki yang sesungguhnya mereka semua taklebih dari seorang teman dihidupku? Tidakkah kaulihat semua usahaku, aku sudah memilihmu dan meninggalkan semua  yang kaubenci demi memintamu mengerti. Tapi, kaulebih memilih bersembunyi dibalik ego dan emosi.  Lucu, pikirku, bagaimana mereka takmendekat pada kita jika yang mereka tahu adanya kau dan aku takmenjalin hubungan istimewa? Kemudian kita cemburu dan marah ketika kita tahu mereka mungkin menginginkan kita? Entah, siapa yang nantinya akan kausalahkan.

Selamat malam seseorang yang masih selalu diam dipikirku. Tidakkah kauingat bagaimana kita menyukai suatu angka dan keunikan berdua, seperti ketika kita berucap rindu tepat pukul 00.00 atau 11.11 kemudian kau berteriak “Flipflop” dengan nada riangmu. apa mungkin kaulupa bagaimana kita tertawa dengan bermacam canda dan cerita jenaka ketika bercengkerama? ataukah semua hanya perkiraanku saja akrena semua kepura-puraanmu semata?Entahlah. Aku merindukan dirimu dengan wajah bersemu malu ketika mata kita beradu.

Kaulelaki yang masih diam dipikirku. Aku menulis ini dengan hati yang berkecamuk-remuk. Dengan pertanyaan-pertanyaan yang masih takmampu terucap dan menimbun di benakku. Masih kuingat bagaimana semudah itu kauucap padaku semua sikapmu adalah agar aku mengerti perasaanmu, tidakkah kaucoba mengerti perasaanku jua? Kau hentikan? Tidak! Kaumempertahankan pendapatmu yang menurutmu benar untukmu, kemudian kaumemelukku seperti tiada yang terjadi mengakhirinya dengan ciuman kecil di keningku, meninggalkanku yang masih terdiam menatapmu kelu. Air mataku jatuh.

Seandainyapun itu keputusan dan pilihanmu, berbahagialah dengan pilihanmu, kuharap ia memahami segala sikapmu seperti aku memahami amarah dan cemburumu. Dan aku taktahu, apakah kepergianmu karena kautakut pada kesetiaanku menghadap Tuhanku lima waktu sedangkan kauingin mengajakku pergi menghadap Tuhan setiap hari minggu? Karena perbedaan itukah kauberhenti memperjuangkan perasaanmu dan perasaanku juga mimpimu dan mimpiku?

dariku yang masih menyimpan pertanyaan-pertanyaan bisu,

dariku yang diam-diam mengumpulkan puing asa yang berlalu…

Ayu Ratu Nagari

Dalam Lelap


cinta dalam labyrinth

Tubuhku terbaring diatas brangcart patient, derit roda yang meliuk bergesekan dengan lantai rumah sakit bising kudengar. Pandangku kabur, kepalaku terasa sangat pusing. Langkah kaki mereka membawaku masuk pada suatu ruang putih, seorang wanita disampingku memasukkan cairan melalui selang di pergelangan tangan kiriku. Sekejap, mataku terpejam, ragaku lemah. Aku tertidur, namun aku sadar . Aku ingin terbangun, namun takberdaya. Tangan – tangan itu mengangkat tubuhku dan memindahkannya disuatu ranjang. Memasangkan berbagai benda di tubuhku yang aku tak tahu apa itu. Kurasakan sesuatu benda tajam runcing dan kecil itu menusuk kulitku menembus saluran darah, sesuatu mengalir dalam tubuhku, begitu cepat terasa menyakitkan. Sebisik suara takterdengar jelas, aku hanya merasakan sakit teramat sakit. Ini kali ketujuh sudah benda tajam itu menembus kulitku, aku ingin berteriak namun bisu, rasaku melemah kemudian hilang.

Dalam lelap aku sendiri di ruangan sunyi nun gelap,orang – orang itu hanya memandangku dengan senyum, tubuhku menggigil kedinginan hingga kulihat seorang lelaki diantaranya berjalan mendekatku, mendekapku dengan hangat.

Mataku mengerjap perlahan, aku terjaga dari tidur yang entah berapa lama. Dingin, aku merasa sangat dingin.  Kulempar pandang ke setiap sudut ruangan, berbeda dengan yang kulihat saat aku datang. Seorang pria paruh baya menghampiriku seketika, membelalakkan mataku kemudian cahaya yang sangat terang diarahkannya tepat di pupil mataku hingga menyempit.

“Dingin…”, aku mencoba berucap, sangat lirih, bibirku seakan bergetar.

Pria itu mengangguk, mengambil sebuah spuit dan mengisinya dengan cairan berwarna merah bening, diolesinya bagian dalam siku kiriku dengan kapas alcohol, disuntikkannya cairan itu melalu jarum yang menembus kulitku. Aku tak merasakan sakit kali ini.

Lirih suara gagang pintu kamar itu seakan terbuka. Seorang wanita berambut ikal berwarna hitam dengan seragam hijaunya berjalan ke arahku, wanita itu tersenyum manis. Jari-jari lentiknya mengusap kepalaku lembut, melepaskan ventilator  dari wajahku. Kepalaku terasa berat. Pria berkacamata yang sedari tadi berdiri di depanku berjalan meninggalkan kami berdua dengan tersenyum. Mataku melihat langkahnya yang berjalan keluar dan menghilang di balik pintu. Kualihkan pandang pada wanita yang masih mengusap rambutku, aku tersenyum padanya.

“Kau baik-baik saja , sayang?”, tanyanya penuh perhatian.

Kujawab dengan anggukan kepala, “sedikit pusing”.

“Alhamdulillah, tubuhmu merespon baik, semua berjalan lancar”, ucapnya penuh syukur.

Kulayangkan ingatan sebelum aku terbangun, therapy itu begitu menyakitkan. Namun, ada yang lebih sakit dari ini, mengingat seseorang yang dulu senantiasa menungguku dengan gelisah saat seperti ini. Sejenak, terasa jerih di hatiku.

“Jangan banyak pikiran, ingat pesan saya, ya, sayang”, Dokter Shinta meleburkan lamunanku.

“Aku ingin pulang…”, ucapku lirih menatap matanya.

Aku masih merasa dingin bahkan di hatiku, kupejamkan mata sejenak. Wajah-wajah itu berlalu lalang dipikiranku, gelap, sunyi, setitik air jatuh dari sudut mataku, aku merindukan seseorang …

 

Ayu Ratu Nagari

Hujan di Wajahku


cinta dalam labyrinth

Pandangku terpaku pada lelaki di sebrang tempat ku duduk, deretan buku yang tertata rapi di rak-rak berwarna coklat yang ada di toko buku ini tak membuatku beralih menatapnya. Kulihat ia sesekali membenarkan posisi duduknya yang berada tepat di depanku, membalik lembar-lembar buku yang tengah ia baca, ku lirik sampul bukunya “Tirai Embun Di Balik Jendela”.

Lelaki itu seperti tersadar ada yang meperhatikannya sedari tadi, bergegas ku alihkan pandang, aku salah tingkah membalik-balik buku yang sedari tadi ku baca. Aku menunduk, kemudian sesekali aku mencoba mengintip dengan menggeser sedikit ke bawah mata buku yang berjudul “Hujan Dari Kamarku” itu.

Seperti bias cermin, lelaki itu sungguh mengingatkanku pada seseorang yang telah berpulang. Tatapan matanya, tubuhnya dan garis wajahnya cerminan indah lukisan Tuhan yang pernah kumiliki sebelumnya. Kedua bola mataku enggan beralih dari menatapnya.

Lelaki itu menutup bukunya kemudian tersenyum ke arahku. Dengan kikuk aku membalas senyumnya. “Tuhan..” , aku mendesar lirih, ada desir di dadaku yang enath kutak tahu apa itu.

Seolah aku gelisah, ada rasa yang berkecamuk pelan namun pasti, pandangku tak ingin beralih. Lelaki itu menatapku heran, ia berjalan menghampiriku tanpa ragu. Degub jantungku semakin tak menentu. Bagaikan pinang dibelah dua, lelaki itu mirip sekali dengan seseorang yang aku takkan pernah lupa, lelaki yang telah pergi untuk selamanya.

“mbak, ada yang salah dengan saya?”, lelaki itu mengejutkanku, tanpa sadar ia sudah berdiri dihadapanku.

“eh.. Tidak mas. Maaf, saya kira mas teman saya, wajahnya mirip. Permisi”, jawaban bodoh yang kulontarkan. Aku gugup tertunduk malu, bergegas meninggalkannya. Lelaki itu menatapku penuh tanya, senyum di bibirnya masih mengembang padaku.

Aku beralih mencari tempat tersembunyi, mencari celah untuk tetep bisa melihatnya diam-diam. aku tertegun, diam dan gelisah. Pikirku tak menentu, entah sedang melayang kemana. Ada gerimis di sudut mataku, gemuruh di hatiku dan mendung di senyumku. Lelaki di sudut meja itu, Tuhan, kau hadirkan seseorang dihadapanku yang serupa dengannya yang telah tiada..

Desir sunyi dihatiku adalah kerinduan semu pada lelaki yang menghadirkan hujan di wajahku …

 

Ayu ratu Nagari

Senja diawal Oktober


cinta dalam labyrinth

Wanita menggenggam sebilah ranting dan mencengkeramnya erat, itu caranya meredam rasa sakit yang menghujam hatinya. Mencoba tetap tegar, menahan dalam geram. Siang itu angin padang rumput di tepian bukit berhembus lembut menerbangkan daun-daun kering pohon mangga, Wanita menjatuhkan tubuhnya lemah bersandar di dahan pohon . Ia diam menyekap semua yang tak terucapkan, membiarkan bulir air matanya jatuh ke tanah terserap akar. Sunyi…

Dua bulan yang lalu, ia duduk disini bersama Lelaki. Berdua bersembunyi dari gemericik hujan di bulan juni. Bermain dengan tetesan air di daun-daun hijau pohon mangga. Tawanya beradu dengan deras suara hujan, membiarkan tubuh mereka dibalut air surga dari atas awan. Melenggangkan tubuh berlarian menapakkan kaki di atas genangan.

Diam-diam sepasang mata mengamatinya dari sebuah bilik diatas bukit, tatapannya lurus dan kaku. Dilihatnya Lelaki menggandeng tangan kanan Wanita, menatap langit mendung yang mencerah perlahan. Kilat tak menyambit dan menggelegar, hujan perlahan hilang. Senja tak ada sore itu…

Kembali dirabanya rasa sakit di hatinya, genggamannya melemah, rantingnya terlepas. Rambut lurusnya dibiarkannya melambai tertiup angin. Air matanya takjua mengering, isak-annya lirih terdengar.

Seseorang berjalan sigap ke arahnya, menghampirinya dengan tatapan lurus dan kaku. Seseorang itu adalah Adam yang selalu mengamatinya diam-diam dari balik bilik bambu.

“Hapus airmatamu Wanita, sia-sia”, amarah dari ucapan Adam.

Wanita terdiam, menyibakkan beberapa helai rambutnya yang menutup matanya, mengusap buliran air yang mengalir di pipinya. Tatapannya sendu, pandangnya kosong.

“Pernah kuingatkan kau agar tak terbuai ketidakpastian, Wanita. Ia datang dan pergi sesukanya. Kau bahagiakan dia selamanya, tapi dia bahagiakanmu sementara”, Adam geram. Langkahnya mendekati Wanita yang tertunduk dalam tangis.

“Aku mencintainya, Adam. Dia mencintaiku dan Hawa…” , suaranya terisak serak dan berat. Padang rumput itu sesunyi matahari yang hampir tenggelam.

“Dia sudah pergi dengan Hawa, itu kepastian yang kau dapat. Apa yang kau tunggu disini? Senjapun enggan melihat airmatamu untuk Lelaki. Ia takkan datang untukmu lagi”.

“Aku percaya Lelaki akan menemuiku Adam, entah harus kutunggu waktu berapa putaran lamanya”, ia terisak. Ditanamnya rindu bersama bungkamnya. Di terbangkannya rasa bersama angin yang berlenggang lirih sore itu.

“Engkau yang setia menunggu Lelaki dan aku yang bersabar menunggumu, Wanita…”

Dua anak manusia terdiam , saling menatap. Hening menghampiri seketika, langit menjelma merona merah. jingga mengambang di atas kepala, lembayung menggantung dengan indahnya. Di padang rumput di tepian bukit, saling memendam kemudian menepiskan. Senja diawal Oktober, menyimpan rahasia rasa dua anak manusia ….

Ayu Ratu Nagari

Lembayung


cinta dalam labyrinth

 

Terik matahari yang mengakhiri siang sangat menyengat menyentuh kulit, pantulannya menyakitkan pandang. Mataku memicing. Ini jam pulang kantor, macet selalu jadi pemandangan setiap harinya. Aku menepikan motor, mengambil tempat teduh menunggu lampu merah yang detiknya masih pada angka 60. Seorang anak kecil penjual koran dan anak-anak jalanan yang meminta-minta adalah sebagian dari kehidupan peremepatan dan trafficlight di Surabaya. Ada yang memasang wajah memelas, memaksa kan pengendara membeli dagangannya, mengetuk-ngetuk kaca mobil depan tempat supir, mengelap kaca mobil-mobil yang berhenti kemudian meminta upah. Semua selalu kulihat di jalanan ini.

Garis hitam putih di depanku menggambarkan lukisan dunia yang lain. Seorang polisi tua yang sibuk mengatur padatnya jalanan dan menyebrangkan dua anak penjual bakso gendong. Fokusku pada dua anak laki yang kuterka tak jauh berbeda dengaku umurnya, kulihat ceria diwajah mereka berdua. Bajunya lusuh, celana pendek yang sudah robek, sandal jepit yang tipis hampir berlobang  dan tali ujungnya sudah putus ia kaitkan dengan peniti terlihat ketika ia berjalan. Hatiku miris menangis. Kulihat semua yang melekat di tubuhku, aku jauh lebih beruntung daripada mereka. Berduanya tertawa riang, bercanda dengan pikulan beban gerobak gendong yang dibawanya menyusuri jalanan kota Surabaya demi sesuap nasi sehari-harinya. Peluh menetes di dahinya, lelah di guratan wajahnya seolah berusaha mereka samarkan dengan menikmatinya.  Ada yang menghentakku seketika. Masihkah aku mengeluh setiap harinya dengan pekerjaan dan tugas-tugas kuliah yang membebankan? Tidakkah aku berkaca pada mereka, aku yang jauh lebih beruntung masih saja merasa seolah aku yang paling menderita.

Suara klakson kendaraan yang bersahutan mengagetkanku, sepertinya aku melamun beberapa puluh detik lamanya. Kutarik tuas motor perlahan, motorku melaju melewati beberapa pengendara di jalanan kota Surabaya yang memadat. Kulirik jam tangan hitam Alba di lengan kiriku, jarum pendeknya berada di angka 4 dan jarum panjangnya berada di angka 3. Aku melaju semakin kencang, memburu waktu menuju perpustakaan kota. Seseorang sudah menungguku disana.

Parkir motor perpustakaan kota ini tak sepenuh hari biasanya. Ini akhir minggu di akhir bulan September. Ku parkirkan motorku di bagian ujung pelataran sebelah timur yang tersisa satu slot. Tempat ini berlorong-lorong dengan atap-atap kayu yang sudah rapuh dimakan usia, beberapa patahannya tercecer di bawah. Bangunan ini cukup tua. Entah mengapa setiap akhir minggu perpustakaan ini justru tak banyak pengunjung, mungkin mereka memilih menghabiskan waktu liburan akhir pekan dengan keluarga daripada menghabiskan waktu berlama-lama membaca buku-buku usang.

Aku berjalan memasuki ruang baca yang berada di lantai dua.

“Sore mbak Sahla, sudah di tunggu mas Tristan loh daritadi”, sapa seorang lelaki yang berdiri dibalik meja kayu di dekat pintu masuk perpustakaan. Mas Surya adalah salah satu karyawan di perpustakaan kota ini, berpawakan tinggi dengan badan tegap, pakaiannya selalu licin dengan ikat pinggang hitam yang selalu ia banggakan, sepatu kulit yang disemirnya setiap hari hingga kinclong dan rambut klemis yang selalu dirapikannya tiap menit. Suaranya besar dengan logat khas Surabaya, ia selalu menyebut dirinya Bonek Elit – Anggota penggemar klub Sepak bola kota Pahlawan (Persebaya) yang tak pernah mau ikut carut-marut kekerasan persepakbolaan yang dilakukan oleh mayoritas Bonek yang suka tawuran tak jelas.

“Sore, mas Surya. Makin rapi aja nih”, godaku membalas sapanya. Aku tertawa ringan.

“Bisa saja mbak Sahla ini”, senyumnya nyengir.

“Saya mau masuk dulu mas”, pamitku berjalan meninggalkannya yang sibuk melayani pembaca yang ingin menyewa buku. Mas Surya menganggukkan kepala dan mengangkat ibu jarinya sambil tersenyum mempersilahkan.

Setiap waktu luang dihari bebas kuliah, aku sering berkunjung ke tempat ini untuk meminjam buku, membaca ataupun sekedar untuk menemui seorang lelaki yang setiap sorenya menghabiskan waktu di tempat ini. Hingga beberapa orang petugas yang berjaga, aku mengenalnya akrab. Salah satunya mas Surya, yang menyambutku di pintu masuk.

Perpustakaan ini terbesar di kotaku, pengunjungnya juga selalu ramai. Setiap bulan pasti ada buku-buku baru yang berjajar di sepanjang rak utama di barisan paling depan dan itu adalah rak favorit yang selalu merebut daya tarikku setiap kali kesana, namun sore ini tidak, pikirku hanya tertuju pada seorang lelaki yang menungguku di meja baca paling ujung perpustakaan.

Seorang lelaki berkacamata dengan kaos putih bertuliskan –the box of dream- yang sedang sibuk membenahkan kacamata yang membingkai mata sipitnya. Bergegas aku mengambil tempat di sebelahnya.

“Maaf, hari ini banyak sekali pekerjaan di kantor. Aku membuang waktu 10 menit kita”, aku melenguh lirih, ini perpustakaan dan sudah seharusnya kita tak berbicara terlalu keras.

“Nevermind”, jawabnya singkat sembari meletakkan buku pemrograman yang digelutinya. “Kau tampak lelah, sayang. Wajahmu pucat, apa kau sakit?”, tanyanya mengkhawatirkan.

“Tidak, aku hanya lelah saja. Cukup bertemu denganmu, semua juga takkan terasa”, jawabku sekenanya yang kuakhiri dengan senyuman agar takberlarut. Aku tahu pasti bagaimana jika aku menjawabnya ragu, itu akan membuatnya terus bertanya. Hari ini aku memang sangat lelah.

“Aku merindukanmu, Sahla”, ia berucap lembut sembari mengusap kepalaku. Jilbabku sedikit diacaknya.

Hanya ada enam puluh menit pada satu hari dalam satu minggu tepat diakhir pekan untuk bertemu dengannya, waktu yang sangat singkat. Kesibukannya dan kesibukanku adalah salah satu alasan mengapa kita hanya bisa bertemu sesingkat itu. Namun bagiku itu sudah cukup untuk mengobati rindu.

Aku tahu Tristan sangat menyayangiku, aku tak pernah berharap lebih pada waktu untuk memberiku beberapa puluh menit lagi bersama pria yang sedang tersenyum manis dihadapanku. Beberapa orang selalu bertanya tentangku dan lelaki berkacamata itu, namun hanya senyum yang selalu mengembang menutup ragu untuk menjawab tanya itu.

Enam puluh menit itu telah berlalu, waktu terasa sangat singkat saat aku dan dia bercengkrama melepas rindu, bercerita tentang hari-hari kita dan selalu saja ada yang menjadi perdebatan. Sikapnya selalu hangat setiap bersamaku, walaupun ada sedikit ragu terselip di hatiku, berusaha kuhapus semua itu.

“Sahla, esok aku tak bisa menemanimu. Aku akan menemani Grace di Gereja untuk mempersiapkan perayaan Paskah. Maafkan aku”, ia berucap ragu namun tenang, menggenggam tanganku.

“Pergilah, temani kekasihmu. Jangan hiraukan aku”, aku berusaha tersenyum menepis sesak yang seketika menghinggap.

“Aku sangat mencintaimu, Sahla”.

Hanya mampu kuanggukkan kepala dan tersenyum berat menjawab pernyataannya. Aku mencintai kekasih wanita lain dan ia mencintaiku lebih dari kekasihnya. Rasa takut yang (mungkin)  sama seperti yang pernah ia rasakan ketika aku bersama lelaki lain. Salahkah ketika aku juga merasakan cemburu? Salahkah ketika aku juga merasakan takut? Tidakkah ada yang bisa kupinta seperti pintanya? Dan aku hanya bisa menerima, merelakan dan menatapnya dari kejauhan. Membutakan mata, membisukan kata, menulikan telinga dan menepiskan rasa.

Ia menggandeng tanganku berjalan meninggalkan perpustakaan yang tak-se-ramai biasanya. Langkahku sedikit gontai, ia menatapku sendu, aku mencoba bersikap sangat tenang. Seandainya ia tau, hatiku terluka, ya, sakit yang saat itu menghujamku tanpa permisi.

“Lusa kita akan bertemu lagi disini. Aku janji. Percayalah, aku selalu mencintaimu”. Selalu kata itu yang ia ucapkan padaku untuk membuatku yakin kesungguhannya. Entah mengapa, hari ini tak kutemukan kebahagiaan dihatiku, kucoba mengais-ngais kepingannya namun jamahannya meluka sukma. Kupandang ia yang menghilang dikejauhan dengan motor kesayangannya.

Aku masih terdiam, meraba-raba hati menutup perih. Lembayung di langit Surabaya sore ini menggantung bersama dengan hujan yang sedari tadi menggantung di mataku, bulirnya mengalir tak terbendung. .

 

Ayu Ratu Nagari

Pelangi di batas Senja


cinta dalam labyrinth

             Apa yang kupikirkan tentang dua keyakinan, tak berdusta aku selalu berharap tak pernah ada perbedaan diantara kita. Yang mereka pikirkan tentang kita, caci-maki –  pandangan orang yang selalu menatap kita salah dan tentang dua agama yang tak bisa di-satu-kan kenyataannya selalu menjadi tanya tersendiri ketika aku berlama-lama bercerita pada Tuhan di Gereja, apa yang salah dengan kita? Bukankah sesungguhnya Tuhan kita satu, Tuhan yang Esa,  hanya saja kita menyebutnya berbeda.

Kita tak pernah merencanakan apapun untuk sebuah rasa yang kita sendiri tak mengerti penyampaiannya, namun tiba-tiba cinta itu bersembunyi dibalik punggung kita dan menertawakan kita yang memerah jambu saat berjumpa. Tatapan-tatapan malu kita dan hati kita yang bahagia saat bersama perlahan meredup terhalang kenyataan – kita yang berbebeda agama. Al-Kitab pedomanku dan Al-Qur’an pedomannya.

————————————–

                Aku menunggunya yang sedang husyuk beribadah, di dalam masjid yang megah dengan tirai kaca yang mengelilinginya. Aku menunggunya di kursi batu di bawah rindang pohon beringin sebelah Selatan pintu masjid. Beberapa jamaah sudah mulai meninggalkan pelataran. Kulempar pandang ke- sekeliling, sebagian dari mereka seolah menatapku heran, kualihkan pandang kepada seorang bapak tua yang berjalan tertunduk-tunduk dengan sarung coklat bermotif kotak dan peci yang sudah lusuh, beliau tersenyum kepadaku, aku membalas senyumannya.

Beralih aku melihat seorang wanita yang masih duduk seorangan di dalam rumah ibadahnya, tubuhnya dibalut mukenah penuh sehingga hanya wajahnya saja yang tak tertutup. Parasnya semakin cantik terbasuh air wudhu, ada rasa yang mengetukku perlahan dan menghentakku seketika, tentang rasa takut yang selalu menjadi kekhawatiran di diriku.

Bibirnya mengamit mengucap dzikir, jemarinya memetik butir-butir tasbih di genggamannya. Hatiku semakin berdesir, semakin erat kugenggam rosario ditanganku mencoba membunuh kekhawatiran hebat dalam diriku yang selalu kurasakan sendiri. Ia bersujud dan aku melipat tangan, merapal doa yang sama dalam bahasa yang berbeda.

—————————-

                Secangkir kopi hangat pagi ini, terasa lebih nikmat dari biasanya. Mungkin karena kita membuatnya berdua, menunggu didih air sambil bercengkrama lewat bincang hangat, menuang dan mengaduknya dengan penuh cinta.

Kita duduk di serambi depan, sejuk udara pegunungan pagi itu, tetes embun yang masih menempel di daun-daun, kita menikmatinya, hangat canda berbaur dengan segala cinta yang sedang bersemi adanya.

Ia menatapku dengan penuh kasih, senyumnya selalu menjadi bahagia tersendiri untukku. Sejenak aroma kopi pagi ini beradu dengan pikirku. Bahagia? Aku bahagia. Lelaki dihadapanku ini, wanita mana yang takbahagia dengan segala hujan perhatian dan cinta yang ia berikan selalu, aku merasakannya luar biasa. Aku akan merindukan saat-saat ini, setiap cerita dan kisahnya akan selalu terbaca nyata, mungkin kelak akan kuceritakan pada anak-anakku bagaimana cinta yang seperti ini pernah terjadi dikehidupan ibundanya.

—————————-

                “Bersamamu adalah perjuangan yang aku takmengerti untuk apa”, desahnya berucap lirih padaku.

“Aku tak mengerti maksudmu. Bisakah kaujelaskan padaku?”, tanyaku heran.

“Memperjuangkan rasa untuk kita yang berbeda, menerima cerca dari segala pemikiran tentang kau dan kekasihmu sekarang, siapa aku dan pandangan orang tentangku,” ia menghela, mencoba tetap tersenyum padaku. “Untuk cinta? Untuk rasa? Atau untuk bahagia yang tak pernah terpikir bagaimana akhirnya?”, ia melajutkan ucapannya, nadanya merendah.

“Kautak berjuang sendiri, aku selalu membantah setiap apa yang mereka katakan tentangmu, mereka taktahu apa dan bagaimana menjadi kita. Aku mungkin egois, aku tak tahu bagaimana kita kedepannya, semua rahasia Tuhan terlalu misteri, sayang..”, kugenggam tangannya erat. Dadaku sesak, aku mencintainya, wanita yang sedari pertama aku berjumpa dengannya membuatku jatuh hati padanya.

“Seandainya kau tak pernah menyatakan perasaanmu padaku, mungkin kita masih saling diam dan bungkam. Semua memang kehendak dan skenario Tuhan…”, terangnya.

Di ruangan ini hanya ada kita berdua. Aku menatap langit-langit kamar mencoba mengalihkan sesak, mataku terpejam mencoba menemukan Tuhan dalam diriku. Jemari-jemari lembut itu mengangkat wajahku perlahan, mataku terbuka, kutatap ia yang tersenyum manis di depanku, merasakan desah nafasnya yang begitu dekat menyentuh kulitku. Selalu ada rasa nyaman yang selalu ia berikan, rasa nyaman yang sedaridulu tak pernah kurasakan.

“Aku tak mau kaupergi. Aku tahu, aku tak bisa memberimu masa depan dengan perbedaan kita ini. Mungkin dipikiranmu bagaiamanpun perjuangan kita hanya berujung sia-sia. Dan dengan kenyataan aku yang telah berkasih…”, sakit, hanya itu yang kurasakan, aku hampir tak mampu berkata.

Ia menggenggam tanganku erat, hanya bisa kutundukkan kepala menahan sakit. Aku lelaki yang lemah karena cinta yang begitu besar untuknya. Untuk seorang wanita yang begitu berarti dihidupku.

“Aku takmampu memendam lagi setelah dua tahun membisu sendiri. Aku taksanggup lagi melihatmu berjalan didepanku dan lelaki lain menggandeng tanganmu begitu erat. Aku tahu ini adalah ego diriku, Mengapa baru sekarang Tuhan mendekatkan kita?”, suaraku berat meninggi. Mendung diwajahku semakin gelap. “Aku sangat menyayangimu…”

“Lalu, pada siapa aku harus bertanya? Percayalah, Tuhan tahu yang terbaik untuk kita, sayang. Bahkan pertemuan kita sekarang, semua karena Tuhan. Kita takpernah berencana, kita hanya meminta dalam diam, tanpa kita sadari Tuhan selalu mendengar doa-doa bisu dihati kita”, ucapnya lembut. Ia menatap mataku dalam, tatapannya yang selalu meneduhkanku. Hujan jatuh taktertahan dari mataku, mengalir melewati bibir. Ia mengusap air mataku, memelukku sangat erat, terisak aku di bahunya. Tubuhnya melemah, kudengar ia menangis lirih. Aku selalu ingin menjaganya, aku selalu ingin bersamanya, Tuhan aku tahu kau akan selalu mendengar doa kami..

“Mereka tak pernah tahu apa yang kita rasa, apa yang kurasakan dan kupendam berlama waktu. Kubilang pada mereka, seandainya aku bisa meminta waktu berputar ulang, aku takakan melepasmu begitusaja kemudian mengenal wanita lain”, sesal yang berujung sia-sia. Ia hanya menjawab dengan senyuman yang aku tak mengerti, dia selalu menyimpan misteri tersendiri yang selalu membuatku berlebih ingin tahu tentangnya.

“Aku hampir lupa rasanya jatuh cinta, hingga saat kehadiranmu lagi di hidupku dengan  membawa rasa yang berbeda. Cinta yang disatu sisi akan membuatku bahagia dan di sisi lain akan membuatku menderita, satu paket yang takterpisah. Cinta yang kadang meruntuhkan logika dan akal sehat kita”, ia mencoba menghapus air matanya sendiri, berusaha tak terlihat lemah di depanku.

“Hi, wonder woman – selalu mencoba tegar”, aku mengusap lembut kepalanya menghapus sebekas air mata yang tersisa di pelupuk matanya.

“Wonder woman juga punya hati dan bisa menangis”, ia memelukku manja.

“Aku mencintaimu, dan kaumembawa perubahan berarti di hidupku. Kauyang memberikan semua yang takpernah kurasakan. Mencintaimu adalah anugerah yang akan selalu kujaga. Bersamamu adalah perjuangan kita. Benar ucapmu, Tuhan masih menyimpan segala rahasianya dan aku akan selalu menunggu Tuhan menunjukkan pada kita”, aku tersenyum menatap wanita bermata hitam bulat yang duduk di depanku. Aku tak pernah jemu menatapnya berlama, senyumnya yang manis, air wajahnya yang ceria, dan tatapannya yang selalu membuatku tenang.

“Semuanya seperti senja yang butuh belasan jam untuk menunggunya namun indah dan hadirnya hanya bisa dinikmati sekejap waktu. Ketika cahayanya memudar, kadang ia menghasilkan rona yang membekas dan kadang ia lenyap begitu saja..”, ucapnya lembut, pandangnya seolah dilayangkan ke suatu entah. Kemudian ia menatapku dengan pasti.

“Kau dalah pelangi di batas senja, keindahan itu berakhir dengan keindahan kedua yang sangat berkesan hadirnya. Kau istimewa, sayang…”, aku mencium keningnya, aku menggenggam tanganya semakin erat. “Kau akan selalu menjadi hal terindah di hidupku, di hatiku sampai kapanpun….”

 

Ayu Ratu Nagari