Dia yang Pertama


cinta dalam labyrinth

 

Seseorang menegurku lembut, bertanya meminta pertolongan. Ia tersenyum manis, tatapannya teduh menatapku. Berterimakasih.  Aku tersenyum membalasnya. Pertemuan pertamaku.

Ia melangkahkan kaki ragu-ragu, mengambil tempat di sebelahku. Mengulurkan tangan berjabat denganku, menyebut namanya dan kusebut namaku. Senyumnya yang kedua, perkenalanku yang pertama.

Seseorang itu duduk disampingku setiap harinya dengan wajah ayu dan senyum manisnya  yang sejak pertama membuatku salah tingkah. Aku tak pernah berani menatap matanya danpun jua menyapanya. Dia dengan keanggunan sikapnya yang membuatku mengaguminya diam-diam, dia dengan senyumnya yang menawan membuatku berangan seolah membunuh harapan untuk suatu kedekatan. Untukku, dia terlalu istimewa.

Aku bukan pendiam juga bukan lelaki banyak bincang. Dan dia yang penuh dengan keistimewaannya, seseorang yang dengan keacuhannya membuatku salah tingkah setiap didekatnya, diam seribu bahasa. Aku hanya selalu menyapanya dalam doa-doa saja. Berharap Tuhan mendengar tentang sebuah harapan yang dalam pikirku saja itu terlalu tinggi. Dia bukan yang pertama membuatku suka, tapi dia yang pertama membuatku mengagumi seseorang dengan salah tingkah, yang pertama membuatku diam dengan kikuknya dihadapan wanita,  yang pertama membuatku jatuh cinta dengan segala perjuangan dan pengorbanan dan dia yang pertama membuatku diam-diam menyukainya. Yang aku tahu, nyatanya dia memang seseorang yang berbeda dari sekian wanita.

Seseorang yang istimewa itu, sekarang ada didekatku. Tersenyum jauh lebih manis dari pertama dulu. Aku yang tak pernah berani menatap matanya dulu, kini terlarut dalam memandangnya. Tangannya lembut menggenggam tanganku. Tuhan mendengar doa-doa pengharapanku yang kurasa mustahil itu, dirajutNya benih-benih asmara diantaraku dan dia dari jauh,  merangkainya dengan indah dalam sebuah ikatan. Seseorang itu bukan yang pertama mengisi hidupku, tapi dia seseorang yang pertama kali membuatku menjadi lelaki yang lebih bahagia dan berguna, menjadi diriku yang apadanya, seseorang yang pertama menjadi bagian di keluargaku dan kehidupanku yang lebih indah, seseorang yang pertama mengajarkanku menjadi lebih dewasa, membuat hari-hariku selalu bahagia dengan tawa-tawanya. Dia adalah sesorang wanita yang dengan segala kekurangan dan kelebihannya mampu membuatku mencintainya karenaNya.

 

 

Aku, lelaki yang dulu selalu merasa mustahil memlikinya.

Aku, lelaki yang mencintainya.

Ayu Ratu Nagari

kita dan perbedaan


Image

Lengang jalanan tengah malam ini membawa motormu melaju sangat kencang. Hembus angin menderu beriring jalan kita. Kau menoleh ke belakang tersenyum padaku yang setengah takut mengimbangi kecepatan 90km/h yang tertera pada speedometer motor mu. Memelukmu erat dalam dingin. Senyummu sangat manis, tatapmu sangat redup menghangatkan. Akupun tersenyum. Genggam tanganmu seolah ingin menjagaku. Kita dibalut dingin angin pegunungan malam ini.

——————–

Aku berlari menghampirinya yang tengah duduk di kursi depan pelataran Gereja Bethel Surabaya , kulirik digengagaman tangannya novel Tere Liye – Rembulan Tenggelam di Wajahmu, sepertinya sedari tadi sembari menungguku beribadah ia membaca novel itu.  Ia tersenyum melihatku yang melangkahkankan kaki tergesa.

“ Maaf kau menungguku terlalu lama. Tak pernah tertinggal satu buku yang selalu menemanimu ”, aku tersenyum dan melirikkan mataku memberi kode pada buku yang diletakkan dipangkuannya.

“ Selalu ! ”, ia tersenyum manis bersemangat. Suara bedug maghrib senja itu terdengar mendayu seru, adzan telah berkumandang di kawasan kota Surabaya. Aku meliriknya yang tertunduk diam , raut wajahnya tenang dan bahagia.

“ Mau ku antarkan ke masjid? ”, aku menawarinya.

“  Jika kau tak keberatan tentunya ”, ia berdiri dan tersenyum. Senyumnya masih selalu senyum termanis untukku. Kami berjalan menyusuri padatnya para jamaah ibadah yang baru keluar dari Gereja , menyebrang jalan menuju Masjid yang hanya berjarak 100 meter. Kulihat ia sangat cantik dalam balutan jilbabnya.

Seolah tersadar ku-amati sedari tadi, ia melirik ke arahku dengan raut jahilnya. Menggodaku yang ketahuan sedang memperhatikannya. Kami tertawa berdua.

Ia berjalan dengan anggunnya memasuki masjid yang megah itu, aku menunggunya di warung yang tergerai di tepi dekat pintu gerbang masuk Masjid Al-Hidayah. Suatu resonansi yang begitu kentara. Aku dan rumah ibadahku, dia dan rumah ibadahnya.

——————–

Seorang wanita yang menyapaku begitu lembut dan akrab. Seorang wanita yang memikatku kala pertama. Wanita yang tak pernah bermuram durja, wanita yang tak pernah kulupa senyumnya. Sahla Bahira.

Aku seorang kristian dan ia seorang muslimah. Bagian mana dari kita yang tak menjadi cela setiap manusia dengan perbedaan keyakinan kita? Aku dan dia adalah barisan anak Tuhan yang tak pernah memilih pada siapa rasa itu hadir. Kita hanya bertemu kemudian berteman dan menyimpan rasa pada masing-masing hati terdalam. Membiarkannya mengendap namun tanpa kita sadari rasa itu justru menjadi timbunan yang sangat besar.

Aku masih ingat malam dulu, saat gerimis menjadi saksi pilihan kita. Perpisahan  yang tak mungkin terlupa. Kita sepakat untuk menjauh, membuang segala rasa yang tak akan pernah mungkin kita wujudkan menjadi nyata. Rasa yang terbelunggu oleh perbedaan keyakinan. Dia memilih pergi dan aku memilih memendam. Kita saling bungkam, seolah tak pernah ada cerita diantara kita. Seadnainya ia  tahu, sesungguhnya itu siksa hati yang menyakitkan untukku.

Saat itu kulihat butiran air diwajahmu  berhambur gerimis hujan, seolah menutupi tangis yang tak bisa ia sembunyikan dari balik matanya padaku. Dia selalu mencoba tersenyum dan aku adalah lelaki yang selalu ingin melihat senyumnya.

Bertahun sudah waktu berlalu. Sesekali melihatnya sepintas berjalan di hadapku kemudian menyapaku tanpa ragu, tanpa rasa yang tersembunyi itu. Tuhan, secepat itukah Kau jauhkan dia dariku?

Seperti barisan manusia yang menunggu waktunya tiba, cinta itu datang tanpa terduga, tanpa pernah terencana. Bahkan pada kita, anak manusia yang berkeyakinan beda.

Dia selalu berkata, “ aku dan kamu adalah air dan minyak, walaupun dalam satu wadah, kita tak pernah bisa menyatu ”.

——————–

“ Dingin?”, tanyamu menggenggam tanganku. Aku tersenyum menganggukkan kepala dengan tangan yang mencengkeram erat menahan dingin.

Sikapmu masih sehangat dulu, aku masih tetap nyaman bersamamu. Tatapan matamu selalu bisa meneduhkanku. Genggam tanganmu aku percaya selalu ingin menjagaku. Perhatianmu tak secuilpun hilang untukku.

Aku adalah wanita yang paling beruntung diantaranya karenamu. Lelaki yang sungguh mencintaiku.

——————–

“ Ternyata rasa itu tak pernah hilang, selama apapun aku sembunyikan ketika kau hadir kembali, rasa itu semakin tumbuh tak tertahan”, aku menatap matanya. Barisan kursi panjang di halte Gereja Bethel ini hanya ada kita berdua. Pandangnya menerawang jauh, kedua kakinya diayunkan perlahan, senyumnya mengembang seiring tatapnya berangsur meredup, jilbab merahnya tertiup angin melambai-lambai perlahan. deru suara kendaraan yang berlalu lalang riuh terdengar.

“Kau tahu, aku selalu bahagia berada di dekatmu. Tentang rasa yang tersimpan berlampau waktu, rasa yang lama terbuang walau sesungguhnya hanya terpendam. rasa  yang mungkinkah bisa tersatukan? Seperti hijabku dan salibmu?”, ucapnya lembut namun begitu mendalam kurasa. Ada getir yang tiba-tiba menyengat dalam dada.

“Kenapa Tuhan mempertemukan kita lagi? Bahkan dengan kenyataan semua sudah semakin dekat, aku, kamu dan keluarga kita? Apakah mungkin dengan keyakinan masing-masing kita sampai hingga pelaminan?”, pertanyaan bodoh yang harusnya tak pernah kuucapkan. Badanku seolah menggigil. Aku tersenyum miris memberanikan menatap matanya.

Dengan lembut ia menjawab, “Tak ada yang kebetulan di dunia ini, semua adalah garisan dan skenario Tuhan. Tentang pertemuan kita, tentang rasa yang tumbuh tanpa kita pinta dan tentang pertemuan keluarga yang tak pernah kita duga”. Ia merapikan duduknya. “ini terlalu sensitif untuk dibicarakan. Tentang dua keyakinan. Ku bilang itu tak akan terjadi untuk kita. Tak bisa kita bersama dengan berbedaan yang ada”. Aku terdiam mendengarnya berbicara. Setiap jawaban darinya selalu bisa membuatku berpikir dewasa.

Tuhan selalu menyimpan segala rahasia terhebatnya, aku dan dia ranting yang berada di satu dahan yang sama, hanya bisa berdekatan namun tak bisa di satukan walau ada kemungkinan semua karena Tuhan.

——————–

“Kau tahu pasti apa yang aku rasakan padamu, kau bahkan tak pernah menjawabnya. Apa kau tak pernah menginginkanku? Setiap pertanyaanku tentang isi hatiku padamu, aku tak pernah mendapat jawab sejujurnya”, hela nafasku panjang.

“Aku tak pernah menduga sedikitpun dengan kehadiranku di rumahmu, dengan sambutan yang begitu hangat dari semua keluargamu. Bahkan dengan segala perbedaan yang sungguh tampak sangat jelas. Kedekatan mereka dengan keluargaku. Kedekatanmu dan aku. Kau yang begitu baik terhadapku dan kau yang begitu sayang padaku, atas rasa bahagia apa yang perlu aku naifkan?”, begitu tenang ia berucap. Siang ini teduh di halam rumah berpagar hijau dengan taman kecil yang cukup indah. Tangannya memainkan rumput-rumput hijau yang berayun tertiup angin.

“ Aku sangat menyayangimu. Dari awal pertemuan dulu, kusimpan rapi semua itu”, terangku menyatakan.

“ Rasaku padamu sama seperti rasamu padaku. Rasa yang tak pernah bisa kupungkiri. Rasa yang begitu nyata kita miliki. Tapi tak bisa kau hindari juga kan, perbedaan yang maish tetap melekat. Aku dengan hijabku dan kau dengan kalung salibmu”, senyumnya kali ini menyiratkan ribuan arti yang aku bahkan tak mengerti.

Ia selalu dalam balutan jingga yang mempesona untukku, senyumnya yang manis dan tatapnya yang teduh. Wanita yang diciptakan Tuhan dan dihadirkan padaku dengan kesederhanaannya yang memikatku.

Sekalipun aku tak tahu mengapa Tuhan menghadirkan ia dalam hidupku. Menjadikannya bagian dalam setiap nafasku. Aku dan dia yang dilahirkan dari kedua rahim dengan satu perbedaan keyakinan. Tuhan masih selalu menyimpan rencana-rencanaNya. Rahasia Tuhan yang tak pernah bisa ku-terka. Mungkinkah aku dan dia menjadi satu adanya? Selalu hanya senyum simpul yang terurai dari wajah jelitanya. Wanita itu selalu membuatku terpikat padanya.

“Tuhan dengan caranya mempertemukan kita, Tuhan dengan caranya menghadirkan rasa di hati kita, Tuhan dengan caranya mendekatkan kita dan dengan cara Tuhan juga kita yang berbeda disatukan nantinya menjadi entah”, ia tersenyum. Aku membalas tersenyum lega. Senyumnya kali ini aku mengerti maksudnya…

Ayu Ratu Nagari

Senja Untukku


cinta dalam labyrinth

Lelaki itu sedang menatap seorang wanita dari jauh, ada sinar kasih yang terpancar dari mata lelaki itu. Tatapan iba terbersit di antara bola matanya. Ia beranjak dari tempat duduknya, berjalan menghampiri wanita yang sedang melambaikan tangan memanggilnya, ia tersenyum lembut, ada setitik air mata yang sempat terlinang, jemarinya dengan sigap menghapus sembari berjalan dengan segera. Wanita itu tampak sangat riang, wanita itu menggenggam ice cream di kedua tangannya. Rambut hitamnya  yang sebahu tertiup angin menyentuh wajahnya. Senyumnya manis matanya membelalak kecil. Di bagian sebelah kanan seragamnya diatara bahu dan dadanya tersemat nametag kecil berwarna hitam, Senja Aurora. Namanya cantik seperti parasnya.

Lelaki itu menerima ice cream yang disodorkan kepadanya, tampak kehangatan yang tercipta. Lelaki itu merangkul wanitanya dan mengusap kepalanya. Kebahagiaan hadir di keduanya. Wanita itu tampak manja dengan lincah tingkahnya. Mereka berjalan dengan ice cream yang menemani kebersamaannya, ribuan kata tertuang dari gerak bibir dan tawa dalam bincangnya. Senja sore ini sangat indah ronanya..

——————-

Ku lihat ia sedang duduk terdiam, pandangnya kosong diantara beberapa orang yang sedang berlalu lalang di taman rumah sakit ini. Wajahnya pucat pasi, bibirnya mengering, matanya sayu, tak ada senyum terukir disana, rautnya begitu datar. Berjam-jam aku mengamatinya dari tempatku. Wanita itu mengundang perhatianku.

Seorang pria berkacamata dan berseragam putih yang ku-terka umurnya sekitar 45 tahun itu berjalan menghampirinya, mengambil tempat tepat disebelah kirinya. Aku tak tau apa yang pria itu ucapkan, aku tak bisa membaca gerak bibirnya terhalang banyak orang yang berlalu lalang. Wanita itu tetap diam dengan dingin pandang, seolah ia tak melihat pria disebelahnya.

Pria itu berdiri dan mengajaknya pergi, menuntunya pelahan dan membantunya berjalan. Seorang perawat muda mendorong kursi roda kosong dan berjalan menghampiri mereka. Pria dan perawat itu membantunya ke kursi roda, perawat itu memegang kendali pada kursinya dan membawanya  berlalu. Aneh, kenapa wanita itu hanya diam dengan pandang kosongnya? Seolah pikirnya tak pada tubuhnya. Dia seperti kehilangan jiwa.

Aku beranjak dan mengikuti mereka, wanita itu sudah merebut perhatianku. Mereka bertiga memasuki sebuah ruangan perseorangan, kulihat nomer kamarnya, 14. Aku bergegas ke ruang informasi. Kudapati namaya, Senja Aurora.

—————-

“Ini satu yang coklat untukmu dan blueberry untukku”, aku menyodorkan ice cream yang kubeli di minimarket sekolah kepadanya. Siang ini terik, dia sudah menungguku berjam-jam di halaman sekolah. Peluh di keningnya tampak jelas. Sinar matahari ini membuat matanya semakin sipit dan wajahnya memerah. Dia lelakiku.

“Bagaimana dengan topi ini? Aku lebih tampan bukan?”, tanyanya padaku sembari mengenakan topi hitam Puma kesayangannya. Ia membuat ekspresi tampan di wajahnya. Dia bahkan jauh lebih tampan tanpa perlu dibuat-buat.

“Hahaha, kau jelek sekali”, aku menggodanya. “Let’s go darling, panas sekali. Ayo pulang”, rengekku manja.

“Baiklah, tapi kau tak meninggalkan permen kesukaanmu lagi kan? Kau selalu nakal”. Ini memang sudah jamku minum obat, dia selalu menyebut butiran-butiran itu permen. Seandainya saja dia minum ini semua, aku yakin dia akan muntah karena rasa pahitnya yang luar biasa.

“Haha, taraa!”, aku tertawa dan menunjukkan kotak-kotak obat yang harus ku minum tiap waktunya. Aku beruntung memilikinya, aku beruntung bertemunya disana. Kami selalu punya cerita dan tawa. Aku sangat mencintainya. Orion Altar,  dia lelaki hebat yang selalu membuatku bahagia berdampingnya.

—————–

Sejak saat itu aku lebih sering datang ke Rumah Sakit itu hanya untuk sekedar bertemu dengannya. Namun, aku tak pernah berjumpa. Aku sering bertanya pada perawat dan dokter yang saat itu mendampinginya, Dokter Azam, beliau adalah teman karib kedua orang tuaku, aku cukup mengenalnya hingga aku berhasil mendapat informasi tentang pasien yang sedang ditanganinya,  Senja.

Continue reading

sumpahmu..


cinta dalam labyrinth

 

Ia masih saja terus berucap sumpah untuk meyakinkanku, tangannya menggenggam tanganku seolah merayu. Aku tersenyum sinis meliriknya sepintas. Matanya tak pernah bisa berbohong padaku. Pandangku jauh, pikiranku berjalan jauh. Langkahku masih bersanding langkah lelakiku, lelaki yang selalu saja membohongiku.

Aku serasa geram, ini bukan sekali dua kali dia bersumpah dengan jawaban yang sama padahal ia berdusta. Aku tak ingin membongkar kebohongan yang sudah ku tau sedari awal adanya. Aku hanya menunggu sampai kapan sumpah sampahnya berakhir dalam kejujuran.

Mungkin karena aku terlalu muak dengan tampang lugu yang selalu jadi senjatanya, dengan perhatian, dengan rentan tubuhnya yang sakit-sakitan adalah senjatanya yang ampuh untuk ke-tidak-tegaan yang berkali-kali tak mampu ku kalahkan dengan ke egoisan.

Tak sekali dua kali banyak teman menegurku, “untuk apa kau pertahankan lelaki macam dia, lemah tubuhnya adalah persembunyiannya dari segala masalahnya. Pantaskah dia disebut lelaki?”.

“Dia itu cuma pengecut, kalau dia salah harusnya dia berani mengakui bukan malah lari seperti ini! Mau menghindar kemana ia? Bisa selesai amsalah? Tidak kan? Pikirlah Ta, tak pantas dia untukmu”.

“lelaki kok lemah, lelaki kok banyak dusta. Belum tau karma dia? Sudah ungkap semua, sumpahnya hanya sampah belaka. Jangan kau termakan sumpah-sumpahnya”. Dan selalu saja banyak cerca untuknya yang terngiang di ingatanku setiap kali aku bersamanya dan dia berdusta.

Aku selalu bertanya, untuk apa segala sumpahnya? Bukan hanya makin menambah dosanya? Kenapa dia begitu tenang dengan segala ucapan dan kemunafikannya? Apa dia sudah terbiasa hidup dalam kebohongan? Bahkan ucapan dan perbuatannya saja selalu berlawanan.

Cerca-cerca tentangnya berhambur dalam pikiranku, meklayang-layang membebaniku. Dia kah yang ku cintai? Dia kah yang ku sayangi? Pantaskah ia kudampingi? Lelaki yang penuh dusta ini?

———————————-

                “Sumpah, aku sudah tak ingat lagi sayang, dia masa lalu. Sekalipun aku tak pernah ingin tau tentang dia”, nadanya tinggi namun tenang. Lelaki itu menggenggam tangan wanitanya. Matanya memandang jauh, memikirkan entah..

“Baiklah, aku selalu percaya denganmu”, wanita itu hanya tersenyum simpul, masih tersimpan pertanyaan yang sama dalam benaknya. Keduanya terus berjalan, lelaki itu menggenggam tangan wanitanya. Wanita itu menatap jauh, mempertanyakan entah.

Kemudian bibirnya berucap lirih namun pasti, “kau tahu, sumpahmu adalah kebohonganmu dan dosamu..”

 

Ayu Ratu Nagari

it’s all about LUCK


Sempat ku seruput secangkir kopi di pagi ini, hangat, manis, pahit aromanya menendang hidungku membangkitkan pagiku. Sejenak pikirku melayang, ku tengok keluar jendela kamar tidurku, mataku tertuju pada stiker manis mobil yang sedang terparkir di depan pelataran jalan rumah no. 14 itu “it’s all about luck“.

Ya, keberuntungan. Dalam hidup selalu kutahu sekalipun pasti kita pernah mengalami “keberuntungan”. Pikirku menerawang ke masa lalu, mengais-ngais mencari cerita tentang sebuah keberuntungan dalam hidup. Satu persatu memory ku berotasi ulang.

Suatu ketika di salah satu masa lalu itu aku ingat keberuntungan pertama yang menghampiriku, keberuntungan itu adalah aku bertemu dengan kedua orang tuaku. Itu adalah keburuntungan takdir yang sangat istimewa.

Teringat lagi entah keberuntungan keberapa yang ada di hidupku, ketika di suatu pagi aku berjalan mengirimkan sebuah naskah kecil berisikan cerita pendek yang berhari-hari ku tulis dengan kegalauan yang kadarnya akupun tak menerka mungkin level 10. Ya, cerita itu tanpa harapan apapun sembari aku berjalan menuju ruangan di salah satu gedung penerbit surat kabar terbesar di kotaku, surabaya, aku menyelipkan naskah itu kedalam map coklat bersama segala keterangan diriku dan ku masukkan kedalam kotak pos berwarna orange di depannya.

Pagi ketiga setelah naskah kecil itu kuserahkan pada kotak orange itu, seperti pagi-pagi biasanya didepan pintu ku ambil koran yang tiap hari tergelatak disana. Ku balik-balik halaman mencari rubrik cerpen yang selalu ingin ku baca pertama kali. Dengan sangat terkejut dan senang kulihat judul cerpen yang besar di bagian atas surat kabar itu “kunang-kunang kecil di bukit cinta” by. Ayra.  Untuk kesekian kali ini adalah keberuntungan yang terjadi dalam hidupku.

Aku berlari menuju kotak pos di depan pagar rumahku, ada sepucuk surat beramplop coklat kecil tertulis di sampulnya dan nama yang tertera tertulis jelas namaku disana. Degub jantungku sudah tak kepalang senang. Aku bersegera masuk kedalam rumah menghampiri ibuku yang sedang repot bersama masakan pagi untuk sarapan kita, kuserahkan surat kabar itu dan sepucuk surat dari penerbitnya mulutku bercerita panjang kali lebar bersama riang yang kurasa pagi itu.

“Itu keberuntungan untukmu sayang”, suara lirih ibuku sambil mengecup keningku menambah keberuntunganku..

Kopi pagiku sudah tinggal ampas pahit yang tersisa. Ku letakkan di atas meja makan begitu saja. Beralih pandang kulihat layar handphone-ku berkedip . Ku baca pesan singkat dari seorang teman, ya dia beruntung memenangkan skor tertinggi dalam sebuah game permainan. Kubilang itu keberuntungan untuknya.  Pesan singkat lagi begitu cepat terbalas olehnya, “tapi, kalau ketemu kamu, itu adalah Takdir-Nya” ……

Keberuntungan dan takdir, kita hari ini ditakdirkan untuk “beruntung” namun beruntung bukan berarti untuk sebuah takdir. Dan ku harap ini adalah keberuntungan untukku….

-Ayu Ratu Nagari-