Pertanyaan Bisu


Selamat malam seseorang yang masih selalu diam dipikirku. Ini minggu kesekian sejak kita bertemu lagi, sudah jutaan menit kitalalui dengan cerita yang silih berganti. Wahai kauseorang lelaki, tanpapun kaumengerti, aku masih selalu menulis namamu di lembaran putihku, mengukir namamu di hatiku, dan menyebut namamu dalam setiap doaku.

Masih kauingat kitapernah mengukir mimpi berdua didunia ini? Mimpi dan harapan-harapan yang pernah kitabuat dan kitagantungkan dalam setiap cerita dan doa malam kita pada Tuhan yang kita menyebutnya dengan nama berbeda. Sekarang, kurasa seolah mimpi dan harapan itu tertiup angin, berhambur, terbang kemudian hilang. Hanya serpihan kecil yang tersisa kemudian tersapu hingga terlupa.

Aku selalu tersenyum setiap kali melihat pesan singkatmu di handphoneku, sesering itu kita bertukar kabar kemudian berbagi cerita seharinya hingga larut malam. Entah, akhir-akhir ini pesan singkatmu adalah hal yang menjadi ketakutanku tersendiri. Setiap ketikan kata-katamu membuatku sadar, aku kehilangan kamu yang dulu. Aku selalu mencoba mengembalikan dirimu seperti dulu, berusaha mengingatkanmu pada mimpi-mimpi  dan harapan-harapan kita yang dulu, membuatmu memahami bahwa ada seorang wanita yang takkan pernah diam melihatmu seketika menjadi orang yang berbeda.

Kauselalu berucap lelah dalam pesan-pesan singkat yang kaukirimkan padaku, lelah memperjuangkan kita dan bosan dengan sikapku. Kaulebih memilih diam kemudian menghilang. Hingga malam lalu aku bertemu denganmu, ada segudang tanya yang membebaniku beberapa hari itu, tentang kabar burung yang sempat mampir di telingaku, seandainya kautahu sesak yang menyelinap setiap mendengar apapun tentangmu. Aku hanya seorang wanita biasa, pun-aku bisa merasa kecewa dan terluka. Sedang aku takpernah mendapat penjelasan serupa. Apakah aku egois untuk meminta penjelasan darimu?

Sinar matamu ketika menatapku pekat, mengusap kepalaku, tersenyum kearahku dan memelukku, kebahagian yang semakin membuatku ragu. Kemudian sejenak bisu. Hingga akhirnya kaumembuka ucapan, bertanya padaku tentang kabar itu, tentang wanita itu. Bibirku membeku, bukan, bukan aku tak ingin bertanya namun, terlebih dulu hadir rasa sakit yang menjalar begitu cepat hingga membuat lidahku kelu. Kaubercerita dengan seolah takmengerti perasaanku, tawapun tersungging mudah dibibirmu. Hingga seucap kata mampu terlontar dari mulutku, membuatmu geram dan menyudutkanku. Apakah aku egois untuk meminta sedikit pengertian darimu?

Sayang, sudah kutinggalkan semua lelaki-lelaki itu sesuai keinginanmu, kulepaskan semua demi pintamu yang kupikir kauyang akan membahagiakan aku. Meski takpernah ada lagi pembahasan tentang perasaan dan kejelasan status. Kaumemintaku mengertikanmu, kulakukan pintamu, mengertikanmu dalam kesibukanmu dan sebatas waktumu hingga harus kusimpan diam rindu yang membelenggu. Kaumemintaku membuktikan padamu dan meyakinkanmu? Sayang, mengapa sampai saat ini kausulit percaya pada perasaanku? Kauselalu saja menuduhku dengan banyak lelaki yang sesungguhnya mereka semua taklebih dari seorang teman dihidupku? Tidakkah kaulihat semua usahaku, aku sudah memilihmu dan meninggalkan semua  yang kaubenci demi memintamu mengerti. Tapi, kaulebih memilih bersembunyi dibalik ego dan emosi.  Lucu, pikirku, bagaimana mereka takmendekat pada kita jika yang mereka tahu adanya kau dan aku takmenjalin hubungan istimewa? Kemudian kita cemburu dan marah ketika kita tahu mereka mungkin menginginkan kita? Entah, siapa yang nantinya akan kausalahkan.

Selamat malam seseorang yang masih selalu diam dipikirku. Tidakkah kauingat bagaimana kita menyukai suatu angka dan keunikan berdua, seperti ketika kita berucap rindu tepat pukul 00.00 atau 11.11 kemudian kau berteriak “Flipflop” dengan nada riangmu. apa mungkin kaulupa bagaimana kita tertawa dengan bermacam canda dan cerita jenaka ketika bercengkerama? ataukah semua hanya perkiraanku saja akrena semua kepura-puraanmu semata?Entahlah. Aku merindukan dirimu dengan wajah bersemu malu ketika mata kita beradu.

Kaulelaki yang masih diam dipikirku. Aku menulis ini dengan hati yang berkecamuk-remuk. Dengan pertanyaan-pertanyaan yang masih takmampu terucap dan menimbun di benakku. Masih kuingat bagaimana semudah itu kauucap padaku semua sikapmu adalah agar aku mengerti perasaanmu, tidakkah kaucoba mengerti perasaanku jua? Kau hentikan? Tidak! Kaumempertahankan pendapatmu yang menurutmu benar untukmu, kemudian kaumemelukku seperti tiada yang terjadi mengakhirinya dengan ciuman kecil di keningku, meninggalkanku yang masih terdiam menatapmu kelu. Air mataku jatuh.

Seandainyapun itu keputusan dan pilihanmu, berbahagialah dengan pilihanmu, kuharap ia memahami segala sikapmu seperti aku memahami amarah dan cemburumu. Dan aku taktahu, apakah kepergianmu karena kautakut pada kesetiaanku menghadap Tuhanku lima waktu sedangkan kauingin mengajakku pergi menghadap Tuhan setiap hari minggu? Karena perbedaan itukah kauberhenti memperjuangkan perasaanmu dan perasaanku juga mimpimu dan mimpiku?

dariku yang masih menyimpan pertanyaan-pertanyaan bisu,

dariku yang diam-diam mengumpulkan puing asa yang berlalu…

Ayu Ratu Nagari

Pelangi di batas Senja


cinta dalam labyrinth

             Apa yang kupikirkan tentang dua keyakinan, tak berdusta aku selalu berharap tak pernah ada perbedaan diantara kita. Yang mereka pikirkan tentang kita, caci-maki –  pandangan orang yang selalu menatap kita salah dan tentang dua agama yang tak bisa di-satu-kan kenyataannya selalu menjadi tanya tersendiri ketika aku berlama-lama bercerita pada Tuhan di Gereja, apa yang salah dengan kita? Bukankah sesungguhnya Tuhan kita satu, Tuhan yang Esa,  hanya saja kita menyebutnya berbeda.

Kita tak pernah merencanakan apapun untuk sebuah rasa yang kita sendiri tak mengerti penyampaiannya, namun tiba-tiba cinta itu bersembunyi dibalik punggung kita dan menertawakan kita yang memerah jambu saat berjumpa. Tatapan-tatapan malu kita dan hati kita yang bahagia saat bersama perlahan meredup terhalang kenyataan – kita yang berbebeda agama. Al-Kitab pedomanku dan Al-Qur’an pedomannya.

————————————–

                Aku menunggunya yang sedang husyuk beribadah, di dalam masjid yang megah dengan tirai kaca yang mengelilinginya. Aku menunggunya di kursi batu di bawah rindang pohon beringin sebelah Selatan pintu masjid. Beberapa jamaah sudah mulai meninggalkan pelataran. Kulempar pandang ke- sekeliling, sebagian dari mereka seolah menatapku heran, kualihkan pandang kepada seorang bapak tua yang berjalan tertunduk-tunduk dengan sarung coklat bermotif kotak dan peci yang sudah lusuh, beliau tersenyum kepadaku, aku membalas senyumannya.

Beralih aku melihat seorang wanita yang masih duduk seorangan di dalam rumah ibadahnya, tubuhnya dibalut mukenah penuh sehingga hanya wajahnya saja yang tak tertutup. Parasnya semakin cantik terbasuh air wudhu, ada rasa yang mengetukku perlahan dan menghentakku seketika, tentang rasa takut yang selalu menjadi kekhawatiran di diriku.

Bibirnya mengamit mengucap dzikir, jemarinya memetik butir-butir tasbih di genggamannya. Hatiku semakin berdesir, semakin erat kugenggam rosario ditanganku mencoba membunuh kekhawatiran hebat dalam diriku yang selalu kurasakan sendiri. Ia bersujud dan aku melipat tangan, merapal doa yang sama dalam bahasa yang berbeda.

—————————-

                Secangkir kopi hangat pagi ini, terasa lebih nikmat dari biasanya. Mungkin karena kita membuatnya berdua, menunggu didih air sambil bercengkrama lewat bincang hangat, menuang dan mengaduknya dengan penuh cinta.

Kita duduk di serambi depan, sejuk udara pegunungan pagi itu, tetes embun yang masih menempel di daun-daun, kita menikmatinya, hangat canda berbaur dengan segala cinta yang sedang bersemi adanya.

Ia menatapku dengan penuh kasih, senyumnya selalu menjadi bahagia tersendiri untukku. Sejenak aroma kopi pagi ini beradu dengan pikirku. Bahagia? Aku bahagia. Lelaki dihadapanku ini, wanita mana yang takbahagia dengan segala hujan perhatian dan cinta yang ia berikan selalu, aku merasakannya luar biasa. Aku akan merindukan saat-saat ini, setiap cerita dan kisahnya akan selalu terbaca nyata, mungkin kelak akan kuceritakan pada anak-anakku bagaimana cinta yang seperti ini pernah terjadi dikehidupan ibundanya.

—————————-

                “Bersamamu adalah perjuangan yang aku takmengerti untuk apa”, desahnya berucap lirih padaku.

“Aku tak mengerti maksudmu. Bisakah kaujelaskan padaku?”, tanyaku heran.

“Memperjuangkan rasa untuk kita yang berbeda, menerima cerca dari segala pemikiran tentang kau dan kekasihmu sekarang, siapa aku dan pandangan orang tentangku,” ia menghela, mencoba tetap tersenyum padaku. “Untuk cinta? Untuk rasa? Atau untuk bahagia yang tak pernah terpikir bagaimana akhirnya?”, ia melajutkan ucapannya, nadanya merendah.

“Kautak berjuang sendiri, aku selalu membantah setiap apa yang mereka katakan tentangmu, mereka taktahu apa dan bagaimana menjadi kita. Aku mungkin egois, aku tak tahu bagaimana kita kedepannya, semua rahasia Tuhan terlalu misteri, sayang..”, kugenggam tangannya erat. Dadaku sesak, aku mencintainya, wanita yang sedari pertama aku berjumpa dengannya membuatku jatuh hati padanya.

“Seandainya kau tak pernah menyatakan perasaanmu padaku, mungkin kita masih saling diam dan bungkam. Semua memang kehendak dan skenario Tuhan…”, terangnya.

Di ruangan ini hanya ada kita berdua. Aku menatap langit-langit kamar mencoba mengalihkan sesak, mataku terpejam mencoba menemukan Tuhan dalam diriku. Jemari-jemari lembut itu mengangkat wajahku perlahan, mataku terbuka, kutatap ia yang tersenyum manis di depanku, merasakan desah nafasnya yang begitu dekat menyentuh kulitku. Selalu ada rasa nyaman yang selalu ia berikan, rasa nyaman yang sedaridulu tak pernah kurasakan.

“Aku tak mau kaupergi. Aku tahu, aku tak bisa memberimu masa depan dengan perbedaan kita ini. Mungkin dipikiranmu bagaiamanpun perjuangan kita hanya berujung sia-sia. Dan dengan kenyataan aku yang telah berkasih…”, sakit, hanya itu yang kurasakan, aku hampir tak mampu berkata.

Ia menggenggam tanganku erat, hanya bisa kutundukkan kepala menahan sakit. Aku lelaki yang lemah karena cinta yang begitu besar untuknya. Untuk seorang wanita yang begitu berarti dihidupku.

“Aku takmampu memendam lagi setelah dua tahun membisu sendiri. Aku taksanggup lagi melihatmu berjalan didepanku dan lelaki lain menggandeng tanganmu begitu erat. Aku tahu ini adalah ego diriku, Mengapa baru sekarang Tuhan mendekatkan kita?”, suaraku berat meninggi. Mendung diwajahku semakin gelap. “Aku sangat menyayangimu…”

“Lalu, pada siapa aku harus bertanya? Percayalah, Tuhan tahu yang terbaik untuk kita, sayang. Bahkan pertemuan kita sekarang, semua karena Tuhan. Kita takpernah berencana, kita hanya meminta dalam diam, tanpa kita sadari Tuhan selalu mendengar doa-doa bisu dihati kita”, ucapnya lembut. Ia menatap mataku dalam, tatapannya yang selalu meneduhkanku. Hujan jatuh taktertahan dari mataku, mengalir melewati bibir. Ia mengusap air mataku, memelukku sangat erat, terisak aku di bahunya. Tubuhnya melemah, kudengar ia menangis lirih. Aku selalu ingin menjaganya, aku selalu ingin bersamanya, Tuhan aku tahu kau akan selalu mendengar doa kami..

“Mereka tak pernah tahu apa yang kita rasa, apa yang kurasakan dan kupendam berlama waktu. Kubilang pada mereka, seandainya aku bisa meminta waktu berputar ulang, aku takakan melepasmu begitusaja kemudian mengenal wanita lain”, sesal yang berujung sia-sia. Ia hanya menjawab dengan senyuman yang aku tak mengerti, dia selalu menyimpan misteri tersendiri yang selalu membuatku berlebih ingin tahu tentangnya.

“Aku hampir lupa rasanya jatuh cinta, hingga saat kehadiranmu lagi di hidupku dengan  membawa rasa yang berbeda. Cinta yang disatu sisi akan membuatku bahagia dan di sisi lain akan membuatku menderita, satu paket yang takterpisah. Cinta yang kadang meruntuhkan logika dan akal sehat kita”, ia mencoba menghapus air matanya sendiri, berusaha tak terlihat lemah di depanku.

“Hi, wonder woman – selalu mencoba tegar”, aku mengusap lembut kepalanya menghapus sebekas air mata yang tersisa di pelupuk matanya.

“Wonder woman juga punya hati dan bisa menangis”, ia memelukku manja.

“Aku mencintaimu, dan kaumembawa perubahan berarti di hidupku. Kauyang memberikan semua yang takpernah kurasakan. Mencintaimu adalah anugerah yang akan selalu kujaga. Bersamamu adalah perjuangan kita. Benar ucapmu, Tuhan masih menyimpan segala rahasianya dan aku akan selalu menunggu Tuhan menunjukkan pada kita”, aku tersenyum menatap wanita bermata hitam bulat yang duduk di depanku. Aku tak pernah jemu menatapnya berlama, senyumnya yang manis, air wajahnya yang ceria, dan tatapannya yang selalu membuatku tenang.

“Semuanya seperti senja yang butuh belasan jam untuk menunggunya namun indah dan hadirnya hanya bisa dinikmati sekejap waktu. Ketika cahayanya memudar, kadang ia menghasilkan rona yang membekas dan kadang ia lenyap begitu saja..”, ucapnya lembut, pandangnya seolah dilayangkan ke suatu entah. Kemudian ia menatapku dengan pasti.

“Kau dalah pelangi di batas senja, keindahan itu berakhir dengan keindahan kedua yang sangat berkesan hadirnya. Kau istimewa, sayang…”, aku mencium keningnya, aku menggenggam tanganya semakin erat. “Kau akan selalu menjadi hal terindah di hidupku, di hatiku sampai kapanpun….”

 

Ayu Ratu Nagari

Tuhan, mengapa kita berbeda?


cinta dalam labyrinth

Mataku terpejam, tanganku menggenggam menahan dingin, lengang jalan tengah malam diatas perbukitan ini sunyi sepi, langit gelap bertabur bintang dengan terang bulan yang indah kulihat, pohon-pohon di setiap ruas jalan sedang memandang kita diam-diam, beberapa kulihat damar-damar redup yang berada berjauhan, bising suara laju motor yang s menerobos pekat, suara kita sayup-sayup terdengar , tertawa lirih dalam perbincangan.

———————–

Aku menikmati secangkir coklat panas kesukaanku di serambi depan, menikmati embun pagi yang beranjak hilang. Ku aduk-aduk perlahan mencari manis yang terendap. Aroma tanah sehabis hujan tercium sangat getir, udara dingin masih menyelimuti langit mendung. Kulirik jam dinding yang berada tepat di sebelah kiri tembok dekat pintu utama , jarum pendek berada di angka enam dan jarum panjang berada di angka tiga.

Minggu pagi di awal September, semalam hujan turun cukup deras mengguyur kotaku yang beberapa bulan terlalu kering, pohon-pohon di halaman rumah ini seolah menari riang menyambut datangnya hujan setelah kemarau panjang, sejuk …

Dering suara handphone yang ku-letakkan di meja sebelah kiri ku berbunyi kencang, Seperti semakin lengkap menikmati pagi ini, aku tersenyum ketika kulihat nama pemanggil yang tertera di layar, Tristan, bergegas aku menerimanya.

“Selamat pagi, Tuan Putri”, sapa nya lembut di sebrang.

“Selamat pagi juga,  Pangeran Katak” , sambutku membalas.

“Minggu pagi yang mendung, senang mendengar suaramu. Aku akan pergi ke Gereja pukul  tujuh. Apa kau akan melakukan ritual yang sama seperti biasanya?”, tanyanya penuh arti. Sejenak aku terdiam, ada sesak perlahan menyusup dalam dada.

“Pergilah beribadah dan aku akan melakukan Shalat Dhuha seperti tiap paginya. Mendung tak mengganggu ibadah kita”, jawabku bersambut senyum tipis yang tak terlihat olehnya.

Coklat panas-ku mulai dingin, tak ada lagi uap. Gerimis mulai turun perlahan. Pandangku menerobos rintik-rintik air yang mulai berjatuhan. Menambah sendu yang datang perlahan, entah apa yang sedang ku-lamunkan. Aku tersadar saat rintik air menyentuh wajahku, hujan semakin deras. Kulangkahkan kaki berjalan cepat memasuki rumah. Dari balik jendela kulihat rintik air menyatu kedalam gelas coklat yang ku tinggalkan di meja serambi depan. Hujan dan coklat dingin …

Aku beranjak dari tempatku, berjalan menuju kamar mandi mengambil wudhlu, kuusap wajah bersamaan bacaan terakhir doa sesudah wudhlu, ku langkahkan kaki menuju ruang sepetak musholah kecil rumahku,  aku mengadu pada Allah, Tuhanku, tanganku menengadah memohon setelah shalat dhuha pagi itu.

Di tempat lain seorang lelaki sedang duduk bersimpuh, kedua tangan dilipat, jemari-jemarinya berkaitan, sikunya disandarkan di atas sebuah mimbar kayu, kepalanya menengadah pada patung kecil dengan satu tubuh yang terpaku pada salib yang berada di tembok atas mimbar sebuah gereja, matanya terpejam, ia sedang berdoa.

—————————–

“ Kau tahu, aku sangat menyayangimu. Mengapa baru sekarang kita sedekat ini? Mengapa harus ada perbedaan?”, tanyaku pada seorang wanita yang sedang duduk manis di hadapanku.

“Aku shalat dulu ya ..”, jawabnya memohon ijin dan diakhiri senyuman yang aku tak mengerti.  Pertanyaanku menguap, aku tahu ia tak akan menjawabnya. Ada rasa takut yang selalu membayang di diriku dan pikiranku yang sering melanglang ketakutan tentang suatu kekhawatiran. Kekhawatiran tentang kita, yang hanya kurasakan sendiri disini.

Aku menunggunya di pelataran masjid, melihat beberapa jamaah wanita yang berbalut hijab seperti dia, beberapa pria dengan peci di kepalanya, pakaian rapi dan wangi berdatangan di rumah Tuhan saat adzan berkumandang lantang berseru memanggil umatNya.

Pikirku entah tak berarah, hanya ada kenangan-kenangan yang sudah terlewatkan berdua. Aku selalu takut bagaimana nanti jika sudah waktunya tiba, jalan kita terpaksa berpisah. Perpisahan yang tak pernah kita harapkan adanya.

Apakah kita yang berbeda tak bisa bersama? Pertanyaan yang sama yang selalu terbesit dalam benak, kutanyakan tanpa henti pada Yesus di hatiku. Menerka teka-teki Tuhan yang sangat rapi tersimpan, rahasia Tuhan yang aku tak berhak mencari tahunya, aku hanya perlu menunggu untuk tujuan yang aku tak pernah tahu ujung dan akhirnya.

Ku pegang kalung salib yang melingkar di leherku, ku genggam liontin kecil dengan pahatan Yesus itu, tanganku bergetar. Selalu ada harapan-harapan dalam diamku. Ada rasa nyeri di dadaku yang aku tahu sebab dari rasa itu. Apakah dua keyakinan tak bisa menjadi satu? Mengapa cinta tak bisa menyatukan dua keyakinan yang berbeda? Bukankah Tuhan hanya satu? Mengapa anak manusia membuatnya berbeda? Bertubi-tubi pertanyaan itu berjajar di pikirku, mencoba mencari jawaban namun aku tak pernah menemukan. Mengais-ngais perlahan berharap ada penjelasan. “Sia-sia..”, aku mendesis.

Suara salam yang terdengar dua kali mengakhiri ibadah, doa-doa kecil terpanjatkan dalam bahasa yang aku tak mengerti maksudnya ,hingga saat kulihat beberapa orang mulai berhambur keluar dan dikerumunan ia berjalan menghampiriku yang masih menunggunya. Kutatap ia dari kejauhan, senyum sumringah tersungging di wajah kita. Kucipta senyum menyambutnya, selalu kututupi perasaan takut setiap aku mengantarnya kerumah ibadahnya itu agar ia tak pernah tahu tentang ke-khawatiran dihatiku. Desir angin membuatku menggigil, “Tuhan, mengapa kita berbeda?…”

 Ayu Ratu Nagari