Bukit Bintang

   cinta dalam labyrinth

              Rintik hujan malam itu berangsur reda, jalanan kota dan perbukitan berhiaskan dian-dian dengan cahaya sederhana yang indah bergemerlap jingga. Kau selalu bercerita padaku tentang pelangi sehabis hujan, kau selalu bercerita padaku tentang hujan dan romantika ceritanya juga alunan rintiknya yang merdu. Kau takpernah membenci hujan seberapapun derasnya menghujammu, sehebat apa gemuruh yang selalu hadir bersamanya, kau begitu yakin akan melihat pelangi dibulir terakhirnya. Seumur hidupku, aku hanya melihat pelangi dua kali, namun ketika bertemu denganmu, aku melihat pelangi diakhir hujan setiap kali, bahkan dengan cerdasnya kauciptakan sendiri pelangi kecil ketika matahari takbisa menepati janjinya membias pelangi di rintik terakhir hujan beberapa kali. kala itu, kaukatakan padaku bahwa pelangi-pelangi itu kini membias nyata berwujud rupa, aku.

Laju roda mobilmu berhenti disuatu dataran tinggi pedesaan sunyi. Jemarimu menggenggam tanganku membawa langkahku menuruni jalanan sepetak dan membiarkan Honda jazz merahmu terparkir dipinggir jalan. Ditempat ini begitu jarang rumah penduduk. Kulempar pandang melihat sekeliling, sepasang suami istri lanjut usia menyapamu akrab, senyum terurai dari wajahmu seraya taksabar mengajakku kesuatu entah sembari kau balas sapa mereka dengan hangat, keherananku menguap seketika dalam langkah panjangku mengikuti langkahmu hingga terhenti di suatu halaman kosong tepat dibalik rumah berbilik bambu yang didiami sepasang suami istri yang kujumpai di awal jalan.

Hanya seluas delapan meter persegi, rumput-rumput liar tumbuh takberaturan. Pandangku terkesima melihat dataran rendah dibawah kaki kita terhampar begitu luas berhiaskan cahaya lampu-lampu yang begitu megah. Kau mengajakku duduk beralas tanah yang sedikit basah oleh embun dingin angin pegunungan. Tak sedikitpun pandangku beralih dari lautan cahaya yang sangat indah, pertama kali kulihat ribuan bintang berhamburan di atas langit luas tak terhalang. Parodi-parodi keindahan yang dimiliki alam dikehidupan malam yang jarang terjamah.

“Kukira kau akan menunjukkanku lagi bagaimana ajaibnya kau mencipta pelangi bahkan dimalam hari”, ucapku pada lelaki yang sedang duduk dengan tenang memandang hamparan cahaya dari atas bukit ini.

“Ini salah satu yang sama indahnya dengan pelangi, sayang”, ia menjawab lembut sembari membenarkan kacamatanya. “ini adalah Bukit Bintang yang pernah kuceritakan padamu, kaubisa melihat kota Jogja dari atas sini, melihat ribuan bintang tanpa terhalang”.

Aku terdiam, menikmati jutaan cahaya yang terhampar indah. Setetes air jatuh di tanganku, kupandang langit tepat di atas kepalaku, takada hujan. Kuraba disudut mataku, setitik air masih tersisa dipelupuknya.

“Esok, kau akan pergi ke kota barat, pandangkupun tak menjangkau mu. Terima kasih untuk kado terindahnya..”, suaraku melemah, aku tertunduk. Aku meliriknya sepintas, rahang tegasnya, hidungnya yang mancung, mata sipitnya yang terbingkai kacamata, pantulan cahaya bulan yang menerpa kulit wajahnya, si cina yang membuatku selalu mengaguminya. Dia adalah kekasih yang Tuhan kirimkan untukku dengan segala kesempurnaanya. Yang mencintaiku dengan ketulusannya dan menerima aku apa adanya. Aku adalah wanita yang sangat bersyukur memilikinya.

“Selamat ulang tahun, jagoan cantik”, ia mengeluarkan kalung dengan liontin bintang berwarna biru terang dari saku bajunya, memasangkannya dengan manis di leherku. Ia memelukku erat dan berakhir dengan kecupan lembut yang mendarat dikeningku. “Nanti, ketika aku taklagi bisa menghadirkanmu pelangi diakhir hujan, bintang-bintang ini akan menggantikannya menjadi keindahan di rintik terakhirnya”, pandang kami beradu, bersamaan menatap liontin bintang yang kini dengan anggun tergantung diam di dadaku. Ada sesak yang berdesir lirih mengalir bersama laju darahku, mencoba meresapi ucapannya yang aku masih takmengerti.

Bukit Bintang dengan hamparan luas kota Jogja, 14 Juni 2007.

Advertisements

One thought on “Bukit Bintang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s