Dalam Lelap

cinta dalam labyrinth

Tubuhku terbaring diatas brangcart patient, derit roda yang meliuk bergesekan dengan lantai rumah sakit bising kudengar. Pandangku kabur, kepalaku terasa sangat pusing. Langkah kaki mereka membawaku masuk pada suatu ruang putih, seorang wanita disampingku memasukkan cairan melalui selang di pergelangan tangan kiriku. Sekejap, mataku terpejam, ragaku lemah. Aku tertidur, namun aku sadar . Aku ingin terbangun, namun takberdaya. Tangan – tangan itu mengangkat tubuhku dan memindahkannya disuatu ranjang. Memasangkan berbagai benda di tubuhku yang aku tak tahu apa itu. Kurasakan sesuatu benda tajam runcing dan kecil itu menusuk kulitku menembus saluran darah, sesuatu mengalir dalam tubuhku, begitu cepat terasa menyakitkan. Sebisik suara takterdengar jelas, aku hanya merasakan sakit teramat sakit. Ini kali ketujuh sudah benda tajam itu menembus kulitku, aku ingin berteriak namun bisu, rasaku melemah kemudian hilang.

Dalam lelap aku sendiri di ruangan sunyi nun gelap,orang – orang itu hanya memandangku dengan senyum, tubuhku menggigil kedinginan hingga kulihat seorang lelaki diantaranya berjalan mendekatku, mendekapku dengan hangat.

Mataku mengerjap perlahan, aku terjaga dari tidur yang entah berapa lama. Dingin, aku merasa sangat dingin.  Kulempar pandang ke setiap sudut ruangan, berbeda dengan yang kulihat saat aku datang. Seorang pria paruh baya menghampiriku seketika, membelalakkan mataku kemudian cahaya yang sangat terang diarahkannya tepat di pupil mataku hingga menyempit.

“Dingin…”, aku mencoba berucap, sangat lirih, bibirku seakan bergetar.

Pria itu mengangguk, mengambil sebuah spuit dan mengisinya dengan cairan berwarna merah bening, diolesinya bagian dalam siku kiriku dengan kapas alcohol, disuntikkannya cairan itu melalu jarum yang menembus kulitku. Aku tak merasakan sakit kali ini.

Lirih suara gagang pintu kamar itu seakan terbuka. Seorang wanita berambut ikal berwarna hitam dengan seragam hijaunya berjalan ke arahku, wanita itu tersenyum manis. Jari-jari lentiknya mengusap kepalaku lembut, melepaskan ventilator  dari wajahku. Kepalaku terasa berat. Pria berkacamata yang sedari tadi berdiri di depanku berjalan meninggalkan kami berdua dengan tersenyum. Mataku melihat langkahnya yang berjalan keluar dan menghilang di balik pintu. Kualihkan pandang pada wanita yang masih mengusap rambutku, aku tersenyum padanya.

“Kau baik-baik saja , sayang?”, tanyanya penuh perhatian.

Kujawab dengan anggukan kepala, “sedikit pusing”.

“Alhamdulillah, tubuhmu merespon baik, semua berjalan lancar”, ucapnya penuh syukur.

Kulayangkan ingatan sebelum aku terbangun, therapy itu begitu menyakitkan. Namun, ada yang lebih sakit dari ini, mengingat seseorang yang dulu senantiasa menungguku dengan gelisah saat seperti ini. Sejenak, terasa jerih di hatiku.

“Jangan banyak pikiran, ingat pesan saya, ya, sayang”, Dokter Shinta meleburkan lamunanku.

“Aku ingin pulang…”, ucapku lirih menatap matanya.

Aku masih merasa dingin bahkan di hatiku, kupejamkan mata sejenak. Wajah-wajah itu berlalu lalang dipikiranku, gelap, sunyi, setitik air jatuh dari sudut mataku, aku merindukan seseorang …

 

Ayu Ratu Nagari

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s