Senja diawal Oktober

cinta dalam labyrinth

Wanita menggenggam sebilah ranting dan mencengkeramnya erat, itu caranya meredam rasa sakit yang menghujam hatinya. Mencoba tetap tegar, menahan dalam geram. Siang itu angin padang rumput di tepian bukit berhembus lembut menerbangkan daun-daun kering pohon mangga, Wanita menjatuhkan tubuhnya lemah bersandar di dahan pohon . Ia diam menyekap semua yang tak terucapkan, membiarkan bulir air matanya jatuh ke tanah terserap akar. Sunyi…

Dua bulan yang lalu, ia duduk disini bersama Lelaki. Berdua bersembunyi dari gemericik hujan di bulan juni. Bermain dengan tetesan air di daun-daun hijau pohon mangga. Tawanya beradu dengan deras suara hujan, membiarkan tubuh mereka dibalut air surga dari atas awan. Melenggangkan tubuh berlarian menapakkan kaki di atas genangan.

Diam-diam sepasang mata mengamatinya dari sebuah bilik diatas bukit, tatapannya lurus dan kaku. Dilihatnya Lelaki menggandeng tangan kanan Wanita, menatap langit mendung yang mencerah perlahan. Kilat tak menyambit dan menggelegar, hujan perlahan hilang. Senja tak ada sore itu…

Kembali dirabanya rasa sakit di hatinya, genggamannya melemah, rantingnya terlepas. Rambut lurusnya dibiarkannya melambai tertiup angin. Air matanya takjua mengering, isak-annya lirih terdengar.

Seseorang berjalan sigap ke arahnya, menghampirinya dengan tatapan lurus dan kaku. Seseorang itu adalah Adam yang selalu mengamatinya diam-diam dari balik bilik bambu.

“Hapus airmatamu Wanita, sia-sia”, amarah dari ucapan Adam.

Wanita terdiam, menyibakkan beberapa helai rambutnya yang menutup matanya, mengusap buliran air yang mengalir di pipinya. Tatapannya sendu, pandangnya kosong.

“Pernah kuingatkan kau agar tak terbuai ketidakpastian, Wanita. Ia datang dan pergi sesukanya. Kau bahagiakan dia selamanya, tapi dia bahagiakanmu sementara”, Adam geram. Langkahnya mendekati Wanita yang tertunduk dalam tangis.

“Aku mencintainya, Adam. Dia mencintaiku dan Hawa…” , suaranya terisak serak dan berat. Padang rumput itu sesunyi matahari yang hampir tenggelam.

“Dia sudah pergi dengan Hawa, itu kepastian yang kau dapat. Apa yang kau tunggu disini? Senjapun enggan melihat airmatamu untuk Lelaki. Ia takkan datang untukmu lagi”.

“Aku percaya Lelaki akan menemuiku Adam, entah harus kutunggu waktu berapa putaran lamanya”, ia terisak. Ditanamnya rindu bersama bungkamnya. Di terbangkannya rasa bersama angin yang berlenggang lirih sore itu.

“Engkau yang setia menunggu Lelaki dan aku yang bersabar menunggumu, Wanita…”

Dua anak manusia terdiam , saling menatap. Hening menghampiri seketika, langit menjelma merona merah. jingga mengambang di atas kepala, lembayung menggantung dengan indahnya. Di padang rumput di tepian bukit, saling memendam kemudian menepiskan. Senja diawal Oktober, menyimpan rahasia rasa dua anak manusia ….

Ayu Ratu Nagari

Advertisements

4 thoughts on “Senja diawal Oktober

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s