Lembayung

cinta dalam labyrinth

 

Terik matahari yang mengakhiri siang sangat menyengat menyentuh kulit, pantulannya menyakitkan pandang. Mataku memicing. Ini jam pulang kantor, macet selalu jadi pemandangan setiap harinya. Aku menepikan motor, mengambil tempat teduh menunggu lampu merah yang detiknya masih pada angka 60. Seorang anak kecil penjual koran dan anak-anak jalanan yang meminta-minta adalah sebagian dari kehidupan peremepatan dan trafficlight di Surabaya. Ada yang memasang wajah memelas, memaksa kan pengendara membeli dagangannya, mengetuk-ngetuk kaca mobil depan tempat supir, mengelap kaca mobil-mobil yang berhenti kemudian meminta upah. Semua selalu kulihat di jalanan ini.

Garis hitam putih di depanku menggambarkan lukisan dunia yang lain. Seorang polisi tua yang sibuk mengatur padatnya jalanan dan menyebrangkan dua anak penjual bakso gendong. Fokusku pada dua anak laki yang kuterka tak jauh berbeda dengaku umurnya, kulihat ceria diwajah mereka berdua. Bajunya lusuh, celana pendek yang sudah robek, sandal jepit yang tipis hampir berlobang  dan tali ujungnya sudah putus ia kaitkan dengan peniti terlihat ketika ia berjalan. Hatiku miris menangis. Kulihat semua yang melekat di tubuhku, aku jauh lebih beruntung daripada mereka. Berduanya tertawa riang, bercanda dengan pikulan beban gerobak gendong yang dibawanya menyusuri jalanan kota Surabaya demi sesuap nasi sehari-harinya. Peluh menetes di dahinya, lelah di guratan wajahnya seolah berusaha mereka samarkan dengan menikmatinya.  Ada yang menghentakku seketika. Masihkah aku mengeluh setiap harinya dengan pekerjaan dan tugas-tugas kuliah yang membebankan? Tidakkah aku berkaca pada mereka, aku yang jauh lebih beruntung masih saja merasa seolah aku yang paling menderita.

Suara klakson kendaraan yang bersahutan mengagetkanku, sepertinya aku melamun beberapa puluh detik lamanya. Kutarik tuas motor perlahan, motorku melaju melewati beberapa pengendara di jalanan kota Surabaya yang memadat. Kulirik jam tangan hitam Alba di lengan kiriku, jarum pendeknya berada di angka 4 dan jarum panjangnya berada di angka 3. Aku melaju semakin kencang, memburu waktu menuju perpustakaan kota. Seseorang sudah menungguku disana.

Parkir motor perpustakaan kota ini tak sepenuh hari biasanya. Ini akhir minggu di akhir bulan September. Ku parkirkan motorku di bagian ujung pelataran sebelah timur yang tersisa satu slot. Tempat ini berlorong-lorong dengan atap-atap kayu yang sudah rapuh dimakan usia, beberapa patahannya tercecer di bawah. Bangunan ini cukup tua. Entah mengapa setiap akhir minggu perpustakaan ini justru tak banyak pengunjung, mungkin mereka memilih menghabiskan waktu liburan akhir pekan dengan keluarga daripada menghabiskan waktu berlama-lama membaca buku-buku usang.

Aku berjalan memasuki ruang baca yang berada di lantai dua.

“Sore mbak Sahla, sudah di tunggu mas Tristan loh daritadi”, sapa seorang lelaki yang berdiri dibalik meja kayu di dekat pintu masuk perpustakaan. Mas Surya adalah salah satu karyawan di perpustakaan kota ini, berpawakan tinggi dengan badan tegap, pakaiannya selalu licin dengan ikat pinggang hitam yang selalu ia banggakan, sepatu kulit yang disemirnya setiap hari hingga kinclong dan rambut klemis yang selalu dirapikannya tiap menit. Suaranya besar dengan logat khas Surabaya, ia selalu menyebut dirinya Bonek Elit – Anggota penggemar klub Sepak bola kota Pahlawan (Persebaya) yang tak pernah mau ikut carut-marut kekerasan persepakbolaan yang dilakukan oleh mayoritas Bonek yang suka tawuran tak jelas.

“Sore, mas Surya. Makin rapi aja nih”, godaku membalas sapanya. Aku tertawa ringan.

“Bisa saja mbak Sahla ini”, senyumnya nyengir.

“Saya mau masuk dulu mas”, pamitku berjalan meninggalkannya yang sibuk melayani pembaca yang ingin menyewa buku. Mas Surya menganggukkan kepala dan mengangkat ibu jarinya sambil tersenyum mempersilahkan.

Setiap waktu luang dihari bebas kuliah, aku sering berkunjung ke tempat ini untuk meminjam buku, membaca ataupun sekedar untuk menemui seorang lelaki yang setiap sorenya menghabiskan waktu di tempat ini. Hingga beberapa orang petugas yang berjaga, aku mengenalnya akrab. Salah satunya mas Surya, yang menyambutku di pintu masuk.

Perpustakaan ini terbesar di kotaku, pengunjungnya juga selalu ramai. Setiap bulan pasti ada buku-buku baru yang berjajar di sepanjang rak utama di barisan paling depan dan itu adalah rak favorit yang selalu merebut daya tarikku setiap kali kesana, namun sore ini tidak, pikirku hanya tertuju pada seorang lelaki yang menungguku di meja baca paling ujung perpustakaan.

Seorang lelaki berkacamata dengan kaos putih bertuliskan –the box of dream- yang sedang sibuk membenahkan kacamata yang membingkai mata sipitnya. Bergegas aku mengambil tempat di sebelahnya.

“Maaf, hari ini banyak sekali pekerjaan di kantor. Aku membuang waktu 10 menit kita”, aku melenguh lirih, ini perpustakaan dan sudah seharusnya kita tak berbicara terlalu keras.

“Nevermind”, jawabnya singkat sembari meletakkan buku pemrograman yang digelutinya. “Kau tampak lelah, sayang. Wajahmu pucat, apa kau sakit?”, tanyanya mengkhawatirkan.

“Tidak, aku hanya lelah saja. Cukup bertemu denganmu, semua juga takkan terasa”, jawabku sekenanya yang kuakhiri dengan senyuman agar takberlarut. Aku tahu pasti bagaimana jika aku menjawabnya ragu, itu akan membuatnya terus bertanya. Hari ini aku memang sangat lelah.

“Aku merindukanmu, Sahla”, ia berucap lembut sembari mengusap kepalaku. Jilbabku sedikit diacaknya.

Hanya ada enam puluh menit pada satu hari dalam satu minggu tepat diakhir pekan untuk bertemu dengannya, waktu yang sangat singkat. Kesibukannya dan kesibukanku adalah salah satu alasan mengapa kita hanya bisa bertemu sesingkat itu. Namun bagiku itu sudah cukup untuk mengobati rindu.

Aku tahu Tristan sangat menyayangiku, aku tak pernah berharap lebih pada waktu untuk memberiku beberapa puluh menit lagi bersama pria yang sedang tersenyum manis dihadapanku. Beberapa orang selalu bertanya tentangku dan lelaki berkacamata itu, namun hanya senyum yang selalu mengembang menutup ragu untuk menjawab tanya itu.

Enam puluh menit itu telah berlalu, waktu terasa sangat singkat saat aku dan dia bercengkrama melepas rindu, bercerita tentang hari-hari kita dan selalu saja ada yang menjadi perdebatan. Sikapnya selalu hangat setiap bersamaku, walaupun ada sedikit ragu terselip di hatiku, berusaha kuhapus semua itu.

“Sahla, esok aku tak bisa menemanimu. Aku akan menemani Grace di Gereja untuk mempersiapkan perayaan Paskah. Maafkan aku”, ia berucap ragu namun tenang, menggenggam tanganku.

“Pergilah, temani kekasihmu. Jangan hiraukan aku”, aku berusaha tersenyum menepis sesak yang seketika menghinggap.

“Aku sangat mencintaimu, Sahla”.

Hanya mampu kuanggukkan kepala dan tersenyum berat menjawab pernyataannya. Aku mencintai kekasih wanita lain dan ia mencintaiku lebih dari kekasihnya. Rasa takut yang (mungkin)  sama seperti yang pernah ia rasakan ketika aku bersama lelaki lain. Salahkah ketika aku juga merasakan cemburu? Salahkah ketika aku juga merasakan takut? Tidakkah ada yang bisa kupinta seperti pintanya? Dan aku hanya bisa menerima, merelakan dan menatapnya dari kejauhan. Membutakan mata, membisukan kata, menulikan telinga dan menepiskan rasa.

Ia menggandeng tanganku berjalan meninggalkan perpustakaan yang tak-se-ramai biasanya. Langkahku sedikit gontai, ia menatapku sendu, aku mencoba bersikap sangat tenang. Seandainya ia tau, hatiku terluka, ya, sakit yang saat itu menghujamku tanpa permisi.

“Lusa kita akan bertemu lagi disini. Aku janji. Percayalah, aku selalu mencintaimu”. Selalu kata itu yang ia ucapkan padaku untuk membuatku yakin kesungguhannya. Entah mengapa, hari ini tak kutemukan kebahagiaan dihatiku, kucoba mengais-ngais kepingannya namun jamahannya meluka sukma. Kupandang ia yang menghilang dikejauhan dengan motor kesayangannya.

Aku masih terdiam, meraba-raba hati menutup perih. Lembayung di langit Surabaya sore ini menggantung bersama dengan hujan yang sedari tadi menggantung di mataku, bulirnya mengalir tak terbendung. .

 

Ayu Ratu Nagari

Advertisements

One thought on “Lembayung

  1. Seperti biasa, semakin hangat ceritanya, kata2nya juga bagus sampe kk harus buka kamus dlu buat cari makna aslinya, xD Lanjutkan… +1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s