Pelangi di batas Senja

cinta dalam labyrinth

             Apa yang kupikirkan tentang dua keyakinan, tak berdusta aku selalu berharap tak pernah ada perbedaan diantara kita. Yang mereka pikirkan tentang kita, caci-maki –  pandangan orang yang selalu menatap kita salah dan tentang dua agama yang tak bisa di-satu-kan kenyataannya selalu menjadi tanya tersendiri ketika aku berlama-lama bercerita pada Tuhan di Gereja, apa yang salah dengan kita? Bukankah sesungguhnya Tuhan kita satu, Tuhan yang Esa,  hanya saja kita menyebutnya berbeda.

Kita tak pernah merencanakan apapun untuk sebuah rasa yang kita sendiri tak mengerti penyampaiannya, namun tiba-tiba cinta itu bersembunyi dibalik punggung kita dan menertawakan kita yang memerah jambu saat berjumpa. Tatapan-tatapan malu kita dan hati kita yang bahagia saat bersama perlahan meredup terhalang kenyataan – kita yang berbebeda agama. Al-Kitab pedomanku dan Al-Qur’an pedomannya.

————————————–

                Aku menunggunya yang sedang husyuk beribadah, di dalam masjid yang megah dengan tirai kaca yang mengelilinginya. Aku menunggunya di kursi batu di bawah rindang pohon beringin sebelah Selatan pintu masjid. Beberapa jamaah sudah mulai meninggalkan pelataran. Kulempar pandang ke- sekeliling, sebagian dari mereka seolah menatapku heran, kualihkan pandang kepada seorang bapak tua yang berjalan tertunduk-tunduk dengan sarung coklat bermotif kotak dan peci yang sudah lusuh, beliau tersenyum kepadaku, aku membalas senyumannya.

Beralih aku melihat seorang wanita yang masih duduk seorangan di dalam rumah ibadahnya, tubuhnya dibalut mukenah penuh sehingga hanya wajahnya saja yang tak tertutup. Parasnya semakin cantik terbasuh air wudhu, ada rasa yang mengetukku perlahan dan menghentakku seketika, tentang rasa takut yang selalu menjadi kekhawatiran di diriku.

Bibirnya mengamit mengucap dzikir, jemarinya memetik butir-butir tasbih di genggamannya. Hatiku semakin berdesir, semakin erat kugenggam rosario ditanganku mencoba membunuh kekhawatiran hebat dalam diriku yang selalu kurasakan sendiri. Ia bersujud dan aku melipat tangan, merapal doa yang sama dalam bahasa yang berbeda.

—————————-

                Secangkir kopi hangat pagi ini, terasa lebih nikmat dari biasanya. Mungkin karena kita membuatnya berdua, menunggu didih air sambil bercengkrama lewat bincang hangat, menuang dan mengaduknya dengan penuh cinta.

Kita duduk di serambi depan, sejuk udara pegunungan pagi itu, tetes embun yang masih menempel di daun-daun, kita menikmatinya, hangat canda berbaur dengan segala cinta yang sedang bersemi adanya.

Ia menatapku dengan penuh kasih, senyumnya selalu menjadi bahagia tersendiri untukku. Sejenak aroma kopi pagi ini beradu dengan pikirku. Bahagia? Aku bahagia. Lelaki dihadapanku ini, wanita mana yang takbahagia dengan segala hujan perhatian dan cinta yang ia berikan selalu, aku merasakannya luar biasa. Aku akan merindukan saat-saat ini, setiap cerita dan kisahnya akan selalu terbaca nyata, mungkin kelak akan kuceritakan pada anak-anakku bagaimana cinta yang seperti ini pernah terjadi dikehidupan ibundanya.

—————————-

                “Bersamamu adalah perjuangan yang aku takmengerti untuk apa”, desahnya berucap lirih padaku.

“Aku tak mengerti maksudmu. Bisakah kaujelaskan padaku?”, tanyaku heran.

“Memperjuangkan rasa untuk kita yang berbeda, menerima cerca dari segala pemikiran tentang kau dan kekasihmu sekarang, siapa aku dan pandangan orang tentangku,” ia menghela, mencoba tetap tersenyum padaku. “Untuk cinta? Untuk rasa? Atau untuk bahagia yang tak pernah terpikir bagaimana akhirnya?”, ia melajutkan ucapannya, nadanya merendah.

“Kautak berjuang sendiri, aku selalu membantah setiap apa yang mereka katakan tentangmu, mereka taktahu apa dan bagaimana menjadi kita. Aku mungkin egois, aku tak tahu bagaimana kita kedepannya, semua rahasia Tuhan terlalu misteri, sayang..”, kugenggam tangannya erat. Dadaku sesak, aku mencintainya, wanita yang sedari pertama aku berjumpa dengannya membuatku jatuh hati padanya.

“Seandainya kau tak pernah menyatakan perasaanmu padaku, mungkin kita masih saling diam dan bungkam. Semua memang kehendak dan skenario Tuhan…”, terangnya.

Di ruangan ini hanya ada kita berdua. Aku menatap langit-langit kamar mencoba mengalihkan sesak, mataku terpejam mencoba menemukan Tuhan dalam diriku. Jemari-jemari lembut itu mengangkat wajahku perlahan, mataku terbuka, kutatap ia yang tersenyum manis di depanku, merasakan desah nafasnya yang begitu dekat menyentuh kulitku. Selalu ada rasa nyaman yang selalu ia berikan, rasa nyaman yang sedaridulu tak pernah kurasakan.

“Aku tak mau kaupergi. Aku tahu, aku tak bisa memberimu masa depan dengan perbedaan kita ini. Mungkin dipikiranmu bagaiamanpun perjuangan kita hanya berujung sia-sia. Dan dengan kenyataan aku yang telah berkasih…”, sakit, hanya itu yang kurasakan, aku hampir tak mampu berkata.

Ia menggenggam tanganku erat, hanya bisa kutundukkan kepala menahan sakit. Aku lelaki yang lemah karena cinta yang begitu besar untuknya. Untuk seorang wanita yang begitu berarti dihidupku.

“Aku takmampu memendam lagi setelah dua tahun membisu sendiri. Aku taksanggup lagi melihatmu berjalan didepanku dan lelaki lain menggandeng tanganmu begitu erat. Aku tahu ini adalah ego diriku, Mengapa baru sekarang Tuhan mendekatkan kita?”, suaraku berat meninggi. Mendung diwajahku semakin gelap. “Aku sangat menyayangimu…”

“Lalu, pada siapa aku harus bertanya? Percayalah, Tuhan tahu yang terbaik untuk kita, sayang. Bahkan pertemuan kita sekarang, semua karena Tuhan. Kita takpernah berencana, kita hanya meminta dalam diam, tanpa kita sadari Tuhan selalu mendengar doa-doa bisu dihati kita”, ucapnya lembut. Ia menatap mataku dalam, tatapannya yang selalu meneduhkanku. Hujan jatuh taktertahan dari mataku, mengalir melewati bibir. Ia mengusap air mataku, memelukku sangat erat, terisak aku di bahunya. Tubuhnya melemah, kudengar ia menangis lirih. Aku selalu ingin menjaganya, aku selalu ingin bersamanya, Tuhan aku tahu kau akan selalu mendengar doa kami..

“Mereka tak pernah tahu apa yang kita rasa, apa yang kurasakan dan kupendam berlama waktu. Kubilang pada mereka, seandainya aku bisa meminta waktu berputar ulang, aku takakan melepasmu begitusaja kemudian mengenal wanita lain”, sesal yang berujung sia-sia. Ia hanya menjawab dengan senyuman yang aku tak mengerti, dia selalu menyimpan misteri tersendiri yang selalu membuatku berlebih ingin tahu tentangnya.

“Aku hampir lupa rasanya jatuh cinta, hingga saat kehadiranmu lagi di hidupku dengan  membawa rasa yang berbeda. Cinta yang disatu sisi akan membuatku bahagia dan di sisi lain akan membuatku menderita, satu paket yang takterpisah. Cinta yang kadang meruntuhkan logika dan akal sehat kita”, ia mencoba menghapus air matanya sendiri, berusaha tak terlihat lemah di depanku.

“Hi, wonder woman – selalu mencoba tegar”, aku mengusap lembut kepalanya menghapus sebekas air mata yang tersisa di pelupuk matanya.

“Wonder woman juga punya hati dan bisa menangis”, ia memelukku manja.

“Aku mencintaimu, dan kaumembawa perubahan berarti di hidupku. Kauyang memberikan semua yang takpernah kurasakan. Mencintaimu adalah anugerah yang akan selalu kujaga. Bersamamu adalah perjuangan kita. Benar ucapmu, Tuhan masih menyimpan segala rahasianya dan aku akan selalu menunggu Tuhan menunjukkan pada kita”, aku tersenyum menatap wanita bermata hitam bulat yang duduk di depanku. Aku tak pernah jemu menatapnya berlama, senyumnya yang manis, air wajahnya yang ceria, dan tatapannya yang selalu membuatku tenang.

“Semuanya seperti senja yang butuh belasan jam untuk menunggunya namun indah dan hadirnya hanya bisa dinikmati sekejap waktu. Ketika cahayanya memudar, kadang ia menghasilkan rona yang membekas dan kadang ia lenyap begitu saja..”, ucapnya lembut, pandangnya seolah dilayangkan ke suatu entah. Kemudian ia menatapku dengan pasti.

“Kau dalah pelangi di batas senja, keindahan itu berakhir dengan keindahan kedua yang sangat berkesan hadirnya. Kau istimewa, sayang…”, aku mencium keningnya, aku menggenggam tanganya semakin erat. “Kau akan selalu menjadi hal terindah di hidupku, di hatiku sampai kapanpun….”

 

Ayu Ratu Nagari

Advertisements

2 thoughts on “Pelangi di batas Senja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s