Edelweiss di makammu

cinta dalam labyrinth

Siang terik di kota kita, 4 tahun silam. Di bawah rindang pohon beringin di halaman rumah peninggalan Belanda yang masih lekat dengan aksen bangunan tua beberapa abad yang lalu, aku duduk dengan seorang lelaki jangkung berwajah oriental, matanya yang sipit selalu terbingkai kacamata fullframe hitam yang cocok. Kami bersadar pada dahan pohon beringin berumur ratusan tahun yang masih kokoh, menghadap pada  rumah ber-cat putih dengan jendela-jendela panjang kuno yang teduh dengan bermacam-macam tanaman gantung yang berjajar warna-warni di dinding-dinding dan pelatarannya.

“Apa yang kau bawa dari pendakianmu, Jagoan Cantik?”, tanyanya menatap seikat bunga di genggamanku sambil mengusap-usap kepalaku – kebiasaan yang sering ia lakukan padaku, alisnya mengernyit.

“Ini Edelweiss , si Bunga Abadi”, aku menjawab dengan senyum sembari menyodorkan seikat Edelweis putih padanya yang ku-dapat dari seorang penduduk di belantara padang edelweiss ketika pendakian.

“Bunga Abadi?”, tanyanya kebingungan. “Apa yang dimaksud bunga abadi? Ia tidak punah? Hmm.. Bunga yang sederhana ini memang cukup cantik dan unik”, ia berdeham berlaga seorang detektif dengan membentuk checkmark dari ibu jari dan telunjukkan di antara dagunya, membolak balik seraya mencari sesuatu untuk di-amati dari seikat bunga edelweiss yang diambilnya dari genggamanku.

“Hi, Jurnalis Tampan, gayamu semacam detektif saja”, godaku mengangkat dagunya, ia tersenyum sangat tampan. “Ini bunga Edelweiss yang pernah ku ceritakan padamu dahulu, bunga yang pernah ku-janjikan akan ku-bawakan untukmu”, aku merapikan dudukku. Ia menatapku, bergegas mengambil botol bekas air mineral di sebelahnya, memasukkan bunga edelweiss itu ke dalamnya dan diletakkan-nya tepat di depan kita. Beberapa detik kami terdiam.

Kulayangkan pikirku dan pandangku, mencoba menjelaskan pada lelaki disebelahku (kekasihku), “Bunga itu memang sederhana, tapi di kesederhana-an-nya dia sangat istimewa. Warnanya yang putih, orang sering bilang itu lambang cinta, dan ketulusan. Letaknya yang hanya ada di puncak-puncak gunung tinggi adalah lambang suatu pengorbanan dan Edelweiss adalah bunga yang bisa bertahan lama, itu mengapa bunga ini adalah lambang keabadian”.

“Dan kau adalah bias dari bunga abadi ini”, ucapnya lembut dan tatapan matanya mendalam padaku. “Sekarang aku tahu, mengapa kau selalu mengagumi Edelweiss, dan sekarang yang harus kau tahu, aku menyukai Edelweiss karena ia sepertimu”, ia mengecup kening-ku lembut, tersenyum memandang Edelweiss dihadapan kami.

Angin sepoi-sepoi berhembus menyentuh kulit kita, bisik suaranya lembut di telinga, beberapa daun berjatuhan tertiup hembusannya. Mata kita tak beralih dari si bunga abadi yang anggun di genggamannya.

“Bunga ini boleh untuk-ku? Agar saat nanti kita jauh, aku selalu mengingatmu seperti bunga abadi ini…”, pintanya berucap lirih seolah berbisik, tatapan matanya redup pandangnya melayang entah.

“Itu untukmu, sayang..” , aku tersenyum lembut menatapnya. Pandangnya beralih padaku, ia memelukku sangat erat. Ada rasa yang aku tak mengerti apa,aku wanita yang sangat mencintainya, hatiku berdesir, dingin, aku takut….

          -Bandung, 2008

——————————-

          “Bangunlah, sayang. Bukankah kau berjanji akan menemaniku saat aku pulang? Bukankah kau ingin segera bertemu denganku?”, suaraku serak, ada gerimis di mataku, aku lelaki dan aku menangis.

Tanganku menggenggam erat tangannya yang lemah, mencoba membangunkannya yang telah tertidur tujuh hari lamanya, matanya terpejam sangat lekat, detak jantungnya begitu lemah. Ruangan yang sama seperti 2 tahun lalu. Ketika ia harus terbaring tak sadarkan diri dan aku hanya bisa berharap dan meminta untuk kesembuhannya.

Seperti tubuhnya kesakitan oleh semua benda-benda kedokteran ini, beberapa kali jarum suntik menusuk kulitnya, berbagai cairan yang entah untuk kesekian kalinya mengalir bersama aliran darahnya. Aku tak pernah tega melihatnya yang begitu lemah. Hanya petikan jari berdzikir untuk-nya dengan bibir yang tak henti memanjatkan doa.

“Lihat, sayang, bunga edelweiss pemberianmu dulu masih ada. Aku membawanya lagi untukmu”, air mataku tak tertahan, suaraku semakin berat, kuletakkan bunga edelweiss itu di atas meja yang berada di sebelah kiri ranjang tidurnya. “Kau selalu ingin menjadi seperti edelweiss ini bukan? Bangunlah, aku merindukan tawamu..”

Aku sangat mencintainya, wanita yang selalu memberikan semangatnya untukku, wanita hebat yang Tuhan hadirkan di hidupku, wanita yang memikatku kala pertama bertemu, wanita yang dengan segala kesederhanaanya membawa warna di duniaku, dia inspirasiku, dia, wanita yang selalu kurindukan setelah ibu..

“Tuhan, sembuhkan dia…”, aku terisak lirih, aku takut…

-Jakarta, 2009

——————————-

           Ini minggu pagi di kotanya, hari ini aku tak sendiri meliput berita, ya, aku seorang jurnalis di salah satu surat kabar ternama di Kota Pahlawan. Seorang wanita berambut hitam lurus sebahu, memakai kaos berkerah lengan panjang berwarna biru,jeans denim senada dan sepatu kets sedang menungguku di barisan kursi sebuah halte sebrang taman kota. Bola mata hitamnya yang bulat kecil memandang kearahku yang berjalan menghampirinya, senyumnya sangat manis.

“Masih betah menungguku bertugas, Jagoan Cantik?”, aku mengambi tempat dan duduk tepat di sebelah kanannya.

“Tentu!”, jawabnya bersemangat. Ia tak pernah mengeluh, walaupun aku tahu pasti tubuhnya terlalu peka dengan terik panas, ia selalu berusaha bersikap biasa di depanku. Ia hanya selalu berusaha membuatku bahagia.

“Mengapa kau memandangku se-aneh itu, wahai lelaki?”, ia heran melihatku yang mengamatinya dengan pandangan kosong.

“Kau cantik, bukankah aku sangat suka memandangmu berlama-lama?”, aku mengelak, namun benar, aku selalu suka melihatnya. Wajahnya yang lucu, tawanya, senyumnya juga tingkahnya yang riang.

“Kau sangat pandai merayuku..”, dia tersipu, wajahnya bersemu.

“Ini untukmu, sayang. Pasti kau jenuh”, aku memberikan ice cream blueberry kesukaannya yang ku beli di minimarket sebrang halte bus ini pada wanitaku, dia tertawa lucu.

“Ini tanda damai?”, ia merampas ice cream itu dengan bersemangat. “Baiklah, aku terima. Terimakasih Jurnalis tampan”, dia tertawa renyah. “ Tapi, kukira kau butuh ini untuk mengusap peluh di dahimu”, ia menyodorkan sebungkus wipes tissue kepadaku dengan wajah polos-nya.

“Haha.. Kau tahu yang aku butuh, tapi, alangkah baiknya jika wajahmu lebih ekspresif saat kau memberikannya padaku”, aku tertawa menggodanya sembari menarik hidung mungilnya, ia hanya tersenyum nyengir dan masih sibuk menikmati ice cream kesukaannya. Dia selalu bisa membuatku tersenyum bahagia saat bersamanya. Aku, lelaki yang beruntung memilikinya.

– Surabaya, 2009

——————————-

             Riuh kendaraan yang berlalu lalang, suara klakson mobil yang bersahut-sahutan, anak-anak jalanan yang duduk menengadahkan tangan, teriak penjual asongan yang menjajakan dagangannya, tukang becak yang tertidur di tengah terik, supir-supir angkot yang mengalungkan handuk di lehernya dan pekerja yang berjalan sembari mengusap peluh di dahinya. Beberapa penjual bunga terlihat menawarkan keranjang-keranjang penuh bunga pada orang-orang disekitar.

Aku menoleh kebelakang, menatap seorang wanita paruh baya di dalam mobil sedan hitam yang menepi pada pemberhentian. Wanita itu tersenyum padaku kemudian melambaikan tangan. Kaca pintu depan sebelah kiri-nya mulai tertutup, laju mobilnya berjalan meninggalkanku yang masih berdiri menatapnya berlalu hingga mengihlang di belokan 30 meter di depan.

Tatapku beralih pada hamparan luas pembaringan diam, kakiku melangkah berat tiap tapaknya. Daun-daun kering berhamburan tertiup angin, pohon-pohon besar di tempat ini rindang, anak anak rumput melambai-lambai menyentuh kakiku, hatiku selalu berdetak tak beraturan setiap kali aku memasuki pelataran ini.

Beberapa orang bapak-bapak dan ibu tua berseragam biru panjang lusuh, mengenakan caping dan tangan yang meliuk-liukkan sapu sedang membersihkan tempat ini. Aku mengikuti jalan setapak dengan menundukkan kepala, langkahku terhenti pada satu pembaringan abadi. Nafasku terhela panjang, kutatap nisan bertuliskan :

-Rendra Ega P.H-

Wafat : 7 Februari 2009

            Kakiku lemas, aku duduk bersimpuh, kuletakkan keranjang bunga dan seikat Edelweiss yang kubawa sedari-tadi, tanganku mengusap nisan putih itu, aku selalu tak mampu membendung tanggul air mataku, aku menangis dalam diam.

“Tuhan, aku merindukannya…”, ucapku lirih. Ku-tabur perlahan bunga-bunga dari keranjang yang ku-beli tadi siang  pada pembaringan tidur panjangnya, di atas gundukan tanah yang masih basah oleh air hujan tadi malam.

Pikirku menerawang  jauh, mengingat setiap kenangan yang pernah kulalui bersamanya, mengingat setiap kejadian yang tak akan terlupa, mengingat tawa dan senyumnya, tatapannya dari balik kacamatanya, senyumnya yang sumringah dan sikapnya yang bijaksana. Dia, lelaki yang dengan segala rupawan hati dan sikapnya yang pernah Tuhan hadirkan dihidupku. Aku, wanita yang paling bahagia karenanya.

Kini, aku tahu rasa takut apa yang pernah kurasakan beberapa tahun lalu saat ia memelukku dengan seikat bunga digenggaman tangan kanannya di bawah rindang beringin tua kota Bandung kala itu, saat samar kudengar ia berbisik, “Kau adalah Edelweiss yang selalu hidup dihatiku”.

“ Rasa takut ku itu adalah ketika sekarang harus kuletakkan bunga Edelweiss di makammu…” air mataku mengalir tak tertahan….

-Jakarta 2013

Edelweiss, Edelweiss
Every morning you greet me
Small and white, clean and bright
You look happy to meet me

Blossom of snow may you bloom and grow
Bloom and grow forever

Edelweiss, Edelweiss
Bless my homeland forever

Ayu Ratu Nagari

Advertisements

2 thoughts on “Edelweiss di makammu

  1. bagus dek, berkelana keliling waktu bacanya, hehe, awalnya aku kira yang cewek yg meninggal, ternyata yang cowok. Lanjutkan, btw yang perbedaan ud selesai ya? 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s