antara kita dan Tuhan

               cinta dalam labyrinth

 Jemariku memutar-mutar benda kecil di atas meja  berbentuk salib berawarna hijau transparan yang di gantungkan di kunci motornya. Pikirku menerawang entah kemana, ia membangunkanku dari lamunan yang tak ia sadari, kembali mendengarkan ceritanya tentang kegiatan di Gereja hari ini, begitu bersemangat. Seulas senyum kusunggingkan di wajahku untuknya. Mata kita beradu, tatapannya meluluhkanku, ia tersenyum, wajahnya rupawan, matanya terbingkai kacamata minus yang membuat tampilannya semakin sempurna di pandangku. Dalam hati lirih kubertanya, “Tuhan, mengapa kita berbeda?”

Temaram lampu-lampu di tepian kolam dengan alunan musik akustik dari penyanyi café yang berada jauh di sebrang terdengar merdu dan sendu, meja lingkaran dengan dua kursi dan lilin kecil di tengahnya, satu kotak tisu disebalah bertuliskan nomor 39 dengan tinta hitam, satu vas bunga cantik disebelah kanannya, tak ada riuh, malam ini benar-benar indah kulihat dari sini dengan sinar bulan yang terang benderang, bintang berkelip menambah hangat suasana. Kami beruda saling pandang kemudian saling menertawakan kebodohan, dua anak manusia yang sedang malu-malu dibalut asmara. Senyum itu menguap perlahan seketika, dalam hati lirih kubertanya, “Tuhan, mungkinkah ini terulang kesekian kalinya?”

Ia memandangku penuh cinta, senyum merekahnya membuat kedua matanya semakin sipit memicing, bola mata hitam kecil itu, sikapnya yang begitu hangat, dan wajahnya yang tersipu membuatku semakin terpikat. dalam hati lirih kubertanya, “Tuhan, lelaki dihadapanku inikah yang Kau hadirkan?”

—————————-

                 “Selamat malam tuan putri, orang yang tak pernah sadar setiap kali dibicarakan”, ucapku menggoda pada wanita yang sedang duduk di depanku memperagakan gaya seorang pangeran di film dongeng yang ingin mengajak Cinderella berdansa. Wajahnya berseri, senyumnya sangat manis dengan raut tersipu malu. Aku suka dengan kesederhanaannya, dia yang begitu natural adanya. Malam ini ia cantik di balut hijab berwarna biru yang ia padukan dengan kaos lengan panjang dan celana jeans warna senada.

“Selamat malam Pangeran Katak, kau paling bisa menggodaku”, jawabnya membalas tersipu. Pipinya memerah saat menatap mataku malu – malu. Wanita yang memikatku sejak pertemuan pertama dengannya dulu.

Di tempat yang sama seperti 2 tahun silam. Wanita yang selalu bisa membuatku salah tingkah saat menatap matanya, membuatku gugup saat berdua dengannya. Dia yang membuat segalanya semakin berdebar saat diam-diam aku mencuri pandang padanya.

Kita adalah dua insan manusia yang sedang jatuh cinta. Mungkin beberapa pasang mata yang ada di sekitar kita sedang melirik resah, menertawakan kebodohan kita, aku tak peduli pandang orang tentang kita, yang aku tahu aku adalah lelaki paling bahagia malam ini yang bisa duduk dan berbincang berdua lagi dengan wanita yang sedaridulu kupuja.

Tuhan, aku tak pernah meminta lebih daripadanya, aku cukup bersyukur dengan semua yang telah ada, atas semua yang telah Engkau wujudkan menjadi nyata. Aku selalu sadar dengan perbedaan diantara kita, seandainya saja aku tak berkalungkan salib Kau tahu pasti apa yang selalu menjadi doa setiap malamku…

Ayu ratu Nagari

Advertisements

2 thoughts on “antara kita dan Tuhan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s