kita dan perbedaan

Image

Lengang jalanan tengah malam ini membawa motormu melaju sangat kencang. Hembus angin menderu beriring jalan kita. Kau menoleh ke belakang tersenyum padaku yang setengah takut mengimbangi kecepatan 90km/h yang tertera pada speedometer motor mu. Memelukmu erat dalam dingin. Senyummu sangat manis, tatapmu sangat redup menghangatkan. Akupun tersenyum. Genggam tanganmu seolah ingin menjagaku. Kita dibalut dingin angin pegunungan malam ini.

——————–

Aku berlari menghampirinya yang tengah duduk di kursi depan pelataran Gereja Bethel Surabaya , kulirik digengagaman tangannya novel Tere Liye – Rembulan Tenggelam di Wajahmu, sepertinya sedari tadi sembari menungguku beribadah ia membaca novel itu.  Ia tersenyum melihatku yang melangkahkankan kaki tergesa.

“ Maaf kau menungguku terlalu lama. Tak pernah tertinggal satu buku yang selalu menemanimu ”, aku tersenyum dan melirikkan mataku memberi kode pada buku yang diletakkan dipangkuannya.

“ Selalu ! ”, ia tersenyum manis bersemangat. Suara bedug maghrib senja itu terdengar mendayu seru, adzan telah berkumandang di kawasan kota Surabaya. Aku meliriknya yang tertunduk diam , raut wajahnya tenang dan bahagia.

“ Mau ku antarkan ke masjid? ”, aku menawarinya.

“  Jika kau tak keberatan tentunya ”, ia berdiri dan tersenyum. Senyumnya masih selalu senyum termanis untukku. Kami berjalan menyusuri padatnya para jamaah ibadah yang baru keluar dari Gereja , menyebrang jalan menuju Masjid yang hanya berjarak 100 meter. Kulihat ia sangat cantik dalam balutan jilbabnya.

Seolah tersadar ku-amati sedari tadi, ia melirik ke arahku dengan raut jahilnya. Menggodaku yang ketahuan sedang memperhatikannya. Kami tertawa berdua.

Ia berjalan dengan anggunnya memasuki masjid yang megah itu, aku menunggunya di warung yang tergerai di tepi dekat pintu gerbang masuk Masjid Al-Hidayah. Suatu resonansi yang begitu kentara. Aku dan rumah ibadahku, dia dan rumah ibadahnya.

——————–

Seorang wanita yang menyapaku begitu lembut dan akrab. Seorang wanita yang memikatku kala pertama. Wanita yang tak pernah bermuram durja, wanita yang tak pernah kulupa senyumnya. Sahla Bahira.

Aku seorang kristian dan ia seorang muslimah. Bagian mana dari kita yang tak menjadi cela setiap manusia dengan perbedaan keyakinan kita? Aku dan dia adalah barisan anak Tuhan yang tak pernah memilih pada siapa rasa itu hadir. Kita hanya bertemu kemudian berteman dan menyimpan rasa pada masing-masing hati terdalam. Membiarkannya mengendap namun tanpa kita sadari rasa itu justru menjadi timbunan yang sangat besar.

Aku masih ingat malam dulu, saat gerimis menjadi saksi pilihan kita. Perpisahan  yang tak mungkin terlupa. Kita sepakat untuk menjauh, membuang segala rasa yang tak akan pernah mungkin kita wujudkan menjadi nyata. Rasa yang terbelunggu oleh perbedaan keyakinan. Dia memilih pergi dan aku memilih memendam. Kita saling bungkam, seolah tak pernah ada cerita diantara kita. Seadnainya ia  tahu, sesungguhnya itu siksa hati yang menyakitkan untukku.

Saat itu kulihat butiran air diwajahmu  berhambur gerimis hujan, seolah menutupi tangis yang tak bisa ia sembunyikan dari balik matanya padaku. Dia selalu mencoba tersenyum dan aku adalah lelaki yang selalu ingin melihat senyumnya.

Bertahun sudah waktu berlalu. Sesekali melihatnya sepintas berjalan di hadapku kemudian menyapaku tanpa ragu, tanpa rasa yang tersembunyi itu. Tuhan, secepat itukah Kau jauhkan dia dariku?

Seperti barisan manusia yang menunggu waktunya tiba, cinta itu datang tanpa terduga, tanpa pernah terencana. Bahkan pada kita, anak manusia yang berkeyakinan beda.

Dia selalu berkata, “ aku dan kamu adalah air dan minyak, walaupun dalam satu wadah, kita tak pernah bisa menyatu ”.

——————–

“ Dingin?”, tanyamu menggenggam tanganku. Aku tersenyum menganggukkan kepala dengan tangan yang mencengkeram erat menahan dingin.

Sikapmu masih sehangat dulu, aku masih tetap nyaman bersamamu. Tatapan matamu selalu bisa meneduhkanku. Genggam tanganmu aku percaya selalu ingin menjagaku. Perhatianmu tak secuilpun hilang untukku.

Aku adalah wanita yang paling beruntung diantaranya karenamu. Lelaki yang sungguh mencintaiku.

——————–

“ Ternyata rasa itu tak pernah hilang, selama apapun aku sembunyikan ketika kau hadir kembali, rasa itu semakin tumbuh tak tertahan”, aku menatap matanya. Barisan kursi panjang di halte Gereja Bethel ini hanya ada kita berdua. Pandangnya menerawang jauh, kedua kakinya diayunkan perlahan, senyumnya mengembang seiring tatapnya berangsur meredup, jilbab merahnya tertiup angin melambai-lambai perlahan. deru suara kendaraan yang berlalu lalang riuh terdengar.

“Kau tahu, aku selalu bahagia berada di dekatmu. Tentang rasa yang tersimpan berlampau waktu, rasa yang lama terbuang walau sesungguhnya hanya terpendam. rasa  yang mungkinkah bisa tersatukan? Seperti hijabku dan salibmu?”, ucapnya lembut namun begitu mendalam kurasa. Ada getir yang tiba-tiba menyengat dalam dada.

“Kenapa Tuhan mempertemukan kita lagi? Bahkan dengan kenyataan semua sudah semakin dekat, aku, kamu dan keluarga kita? Apakah mungkin dengan keyakinan masing-masing kita sampai hingga pelaminan?”, pertanyaan bodoh yang harusnya tak pernah kuucapkan. Badanku seolah menggigil. Aku tersenyum miris memberanikan menatap matanya.

Dengan lembut ia menjawab, “Tak ada yang kebetulan di dunia ini, semua adalah garisan dan skenario Tuhan. Tentang pertemuan kita, tentang rasa yang tumbuh tanpa kita pinta dan tentang pertemuan keluarga yang tak pernah kita duga”. Ia merapikan duduknya. “ini terlalu sensitif untuk dibicarakan. Tentang dua keyakinan. Ku bilang itu tak akan terjadi untuk kita. Tak bisa kita bersama dengan berbedaan yang ada”. Aku terdiam mendengarnya berbicara. Setiap jawaban darinya selalu bisa membuatku berpikir dewasa.

Tuhan selalu menyimpan segala rahasia terhebatnya, aku dan dia ranting yang berada di satu dahan yang sama, hanya bisa berdekatan namun tak bisa di satukan walau ada kemungkinan semua karena Tuhan.

——————–

“Kau tahu pasti apa yang aku rasakan padamu, kau bahkan tak pernah menjawabnya. Apa kau tak pernah menginginkanku? Setiap pertanyaanku tentang isi hatiku padamu, aku tak pernah mendapat jawab sejujurnya”, hela nafasku panjang.

“Aku tak pernah menduga sedikitpun dengan kehadiranku di rumahmu, dengan sambutan yang begitu hangat dari semua keluargamu. Bahkan dengan segala perbedaan yang sungguh tampak sangat jelas. Kedekatan mereka dengan keluargaku. Kedekatanmu dan aku. Kau yang begitu baik terhadapku dan kau yang begitu sayang padaku, atas rasa bahagia apa yang perlu aku naifkan?”, begitu tenang ia berucap. Siang ini teduh di halam rumah berpagar hijau dengan taman kecil yang cukup indah. Tangannya memainkan rumput-rumput hijau yang berayun tertiup angin.

“ Aku sangat menyayangimu. Dari awal pertemuan dulu, kusimpan rapi semua itu”, terangku menyatakan.

“ Rasaku padamu sama seperti rasamu padaku. Rasa yang tak pernah bisa kupungkiri. Rasa yang begitu nyata kita miliki. Tapi tak bisa kau hindari juga kan, perbedaan yang maish tetap melekat. Aku dengan hijabku dan kau dengan kalung salibmu”, senyumnya kali ini menyiratkan ribuan arti yang aku bahkan tak mengerti.

Ia selalu dalam balutan jingga yang mempesona untukku, senyumnya yang manis dan tatapnya yang teduh. Wanita yang diciptakan Tuhan dan dihadirkan padaku dengan kesederhanaannya yang memikatku.

Sekalipun aku tak tahu mengapa Tuhan menghadirkan ia dalam hidupku. Menjadikannya bagian dalam setiap nafasku. Aku dan dia yang dilahirkan dari kedua rahim dengan satu perbedaan keyakinan. Tuhan masih selalu menyimpan rencana-rencanaNya. Rahasia Tuhan yang tak pernah bisa ku-terka. Mungkinkah aku dan dia menjadi satu adanya? Selalu hanya senyum simpul yang terurai dari wajah jelitanya. Wanita itu selalu membuatku terpikat padanya.

“Tuhan dengan caranya mempertemukan kita, Tuhan dengan caranya menghadirkan rasa di hati kita, Tuhan dengan caranya mendekatkan kita dan dengan cara Tuhan juga kita yang berbeda disatukan nantinya menjadi entah”, ia tersenyum. Aku membalas tersenyum lega. Senyumnya kali ini aku mengerti maksudnya…

Ayu Ratu Nagari

Advertisements

2 thoughts on “kita dan perbedaan

  1. Bagus dek, jadi nostalgia dikit deh, hahaha
    Dikembangin dikit ud jadi novel tuh, pake judul “Cinta Dalam Labyrinth”, ajuin ke penerbit pasti diterima 🙂

    Kk juga lagi pengen bikin film nih, kali2 aja adek bisa bikinin script yng bagus 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s