Yang tak terduga

cinta dalam labyrinth

Kita hanya berjarak satu meja, tak ada perbincangan diantaranya. Sesekali diam-diam kita saling mencuri pandang dan saat kita tak sengaja bertatap, ada tawa renyah malu-malu yang memerah semu di pipi kita saat itu. Kemudian menguap dan berlalu. Kau tahu, terkadang seulas senyum yang tersungging di bibirmu membuat wajahmu semakin rupawan. Sudah berbulan-bulan kita duduk bersebelahan tanpa teguran. Benda-benda berbentuk persegi yang mereka sebut komputer itu selalu menjadi fokus diri kita. Seperti tak ingin saling mengenal, kita berdua acuh dengan tenang. Dalam hati aku berfikir mungkinkah kau seorang bisu? Ah tidak, kau pernah menyapaku dan tertawa simpul berdua. Menertawakan kebodohan kita kemudian diam tanpa kata. Beberapa detik itu selalu kurasa, kau yang rupawan, mungkinkah kau sedingin yang ku pikirkan?

Hari berlalu , aku tak pernah lagi melihatmu. Teringat olehku saat hari terakhir itu, kau bergurau denganku  walaupun terkadang sedikit kaku. Aku dan kamu, terlalu besar jarak diantara itu, kita dan pasangan kita adalah batas yang tak mungkin kita robohkan. Hari itu aku pernah dekat denganmu untuk pertama kali sejak kita bertemu. Berjabat tangan saling berkenalan? Itupun bahkan kita tak pernah lakukan.

Kau yang rupawan, kita hanya saling mengenal nama tanpa kedekatan. Aku melihatmu bagai raga tanpa rasa. Rahang tegas yang Tuhan cipta di wajahmu itu lukisan keangkuhan. Sesekali aku mencuri pandang melihatmu dengan amarahku, betapa acuh dirimu dan keras tingkahmu. Namun semua itu hanya dalam pikirku, aku tak pernah tahu sesungguhnya dirimu.

Seperti tak pernah sekalipun ku-terka, kau datang dengan tiba-tiba seketika. Dengan sepatah kata, kemudian menjadi bai-bait  kalimat  yang terangkai indah menyatukan kita. Entah, apa aku bermimpi? Kurasa ini terlalu nyata untuk ku bilang ini hanya mimpi semata. Karena ini yang sesungguhnya, kini kau dan aku mengukir rasa dan cerita . Memulainya dengan malu-malu kemudian merekah. Kau dan aku dalam paragraf-paragrafnya yang tertulis indah, tanpa pernah ku duga, kau datang dengan cinta. Cinta yang dulu pernah sekali ku inginkan darimu kemudian kubuang jauh dalam angan semu-ku. Kini, kau dan aku adalah satu. Adakah doa-doa kita dalam diam yang dulu kemudian Tuhan dengar  hingga mengukir rasa itu untuk kita? Aku tak pernah tahu. Tuhan selalu punya kejutannya yang terindah.

Kau yang rupawan, kini kita duduk berdua  sangat dekat dan  masih saja kita tak berani bertatap mata, jarak pandang kita hanya lima jari, tapi masih saja pandang kita saling mencuri. Takut kah? Aku tidak. Aku hanya malu menatapmu, mentapmu yang dulu pernah ku rindu dalam mimpiku. Kini kau hadir dengan nyata yang begitu erat denganku. Kemudian perlahan jemari mu menggenggam tanganku, matamu perlahan memintaku menatap matamu. Kau menyatakan rasa. Kau yang rupawan, jantungku berdebar seketika, ada bahagia yang tak terkira. Kau yang rupawan, mungkin kah yang kita rasa ini cinta? Dengan malu dan tanpa ragu kau berucap lembut padaku,

“Yang tak terduga, ini yang kita rasa. Dalam diam dan acuh tingkah mungkin kita hanya saling berharap pada rasa yang sama, aku yang memimpikanmu dan kau yang memipikanku. Kemudian membiarkannya berlalu. Tanpa kita sadari rasa itu Tuhan yang mewujudkan. Kau yang jelita, mau kah kau menjadi kekasihku selamanya?”

Ayu Ratu Nagari

Advertisements

10 thoughts on “Yang tak terduga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s