air mata Senja

cinta dalam labyrinth

Angin sore ini berhembus kencang, meniup dan melenggangkan kain-kain baju yang ia kenakan. Kerudung putihnya melambai searah. Parasnya manis, matanya sayu, bibirnya pucat. Sunyi selalu berteman nyiur pantai yang meliuk-liukkan helai-helai daunnya. Kulihat ombak menepi mengais-ngais pasir pantai menyentuh lembut ujung kakinya. Debur suaranya sayup-sayup mengiringi keheningan.  Aku selalu melihat wanita itu duduk berlama-lama disana menunggu senja menampakkan kehangatan  jingga, senja yang sepertinya selalu dirindukannya. Senja yang tak selalu datang pada sorenya.

Waktu berputar berlalu, rotasinya tak terhenti dan terus berpacu. Sudah lama ia duduk dan menanti senja menampak di ufuk barat. Ia masih sendiri disana, matanya terpejam,  jemarinya menggenggam butiran pasir erat. Lirih kudengar ia berucap,

“Tuhan, ijinkan aku melihat senja untuk terakhir kalinya saat nanti aku tak akan lagi pernah melihatnya”.

Aku memandangnya dari kejauhan, seorang lelaki berjalan menghampirinya. Mengambil tempat tepat di sebelah kanannya. Langit sore itu merona mega. Malam mulai mengambang. Lelaki itu memapah wanitanya berdiri dan memeluknya erat. Tubuh wanita itu sangat rapuh kupandang. Entah, mungkin mereka adalah sepasang kekasih. Senja sore itu adalah senja paling indah yang pernah kulihat.

Hari berganti, sudah malam ke tujuh aku tak melihat wanita yang senantiasa duduk menanti senja itu di tempat biasanya. Dan kini hanya ada seorang lelaki yang kulihat berdiri disana, lelaki yang ku ingat saat itu menghampiri wanita yang kusebut wanita senja. Aku berjalan mencoba mendekatinya. Sucap kata aku bertanya dengan rendah nada menanyakan wanita senja. Lelaki itu tersenyum padaku dan bercerita,

“ia adalah wanita yang sangat mencintaiku, senja yang di nantinya adalah aku yang selalu menyakitinya dan meninggalkannya. Aku telah kehilangan wanitaku untuk selamanya. Kini, aku yang berdiri disini menunggu senja, senja yang aku tak akan pernah melihatnya”, air matanya menetes dari kedua bola matanya. “aku lelaki dan aku menangis untuk rasa cinta yang baru kusadari hanya dia yang memilikinya, aku sangat mencintainya dan kebodohanku adalah meninggalkannya”.

Pandangnya kosong, ada kesedihan luar biasa di raut wajahnya. Nama wanita itu adalah Senja, lelaki yang berdiri disamping kiriku ini adalah kekasihnya dan aku adalah lelaki yang pernah merasa yang sama, kehilangan wanita yang luar biasa dan aku menyesalinya saat ia telah tiada.

“tak akan adalagi senja dimataku, senja yang indah itu kini hanya hidup dihatiku…”, ucapnya lirih. Bulir air yang menetes dari  mata lelaki itu adalah air mata Senja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s