dia untuk-ku

cinta dalam labyrinth

“Sudahlah Din, aku sudah lelah. Semua membuatku penat, sudah cukup. Aku tak mau bahas apapun lagi”. Rasa lelah itu membuatku begitu kasar berucap pada Dina, mantan kekasihku.

“Akupun sama Al, menunggumu mengerti aku-pun tiada guna. Bertubi-tubi masalah hati ini semakin meraja. Aku hanya ingin kita memperbaiki semuanya, Alwi. Tanpa saling menyakiti. Aku hanya ingin menjelaskan semua yang sebenarnya terjadi”. Wajah Dina sendu, ada setitik air mata dan suaranya sedikit berat.

Panjang lebar Dina menjelaskan semuanya. Kita memang sudah putus sejak 2 tahun lalu, Dina memilih lelaki lain dibandingkan aku. Aku tak pernah bisa menerima, aku terus ingin bersamanya. Aku mengucap banyak janji untuk menunggunya. Berbulan-bulan sudah aku menunggunya, aku masih bersabar dalam sakit hati yang baru kali itu kurasakan sakitnya. Menunggunya yang setia bersama pria lain disampingnya. Aku masih bisa.

Mungkin, itu yang pernah Dina rasakan dahulu, saat aku menghianatinya berkali-kali. Saat aku memilih wanita lain dibandingkan dia. Dina masih sabar mendampingiku selama bertahun-tahun kami bersama, ini terlalu sakit, aku bahkan tak sanggup merasakannya berlama-lama waktu. Betapa bodohnya aku menyakiti wanita yang begitu sangat menyayangiku.

Namun, dua tahun ini sudah terlalu lama untukku, aku tak sanggup. Aku lelah menunggunya dalam ketidak pastian yang selalu kulihat. Hingga akhirnya ada wanita lain yang kusuka.

“Apa kau sudah menggantikanku dengan wanita itu, Al? Perasaanku tak pernah salah sedikitpun tentangmu. Aku hanya butuh penjelasan”, matanya menatapku dalam.

“Sudahlah Dina, semua sudah berakhir, aku lelah. Kau sudah memutuskanku 2 tahun lalu. Lupakah kau?”, ucapku sedikit keras.

“Aku hanya ingin penjelasanmu saja, aku tak akan lagi mengganggumu dan bertanya yang sama. Aku ingin semua baik-baik saja”, ia memaksa tersenyum.

“Iya, aku suka wanita lain, Dina. Maafkan hati ini. Aku terlalu lelah menunggumu dalam ketidakpastian. Kita sudah putus. Aku tak tahu, suka seperti apa yang kurasakan padanya”. Aku mencoba menjelaskan, ada sedikit sesak saat kuucapkan itu pada Dina.

“Baiklah Al, terimakasih semuanya. Semoga dia yang terbaik untukmu. Maaf atas semua yang sudah terjadi pada kita. Cukup kau tahu, aku menyayangimu. Semoga kau bahagia”, Dina menyeka airmatanya, kemudian berlalu.

“Hi, kenapa kau egois sekali. Kau meninggalkanku. Tak bisakah kita berteman? Aku tak bisa jauh darimu Dina”, teriakku sambil mengejarnya.

“Al, kau memilih hatimu untuk dia, dan kau sudah memilih aku yang pergi. Dia sangat cantik bukan? Aku tak sebandingnya. Bahagialah, ijinkan aku mengobati lukaku. Biarkan kita tanpa pertengkaran dan penantian. Tanpa saling menyakiti”, Dina mengecup keningku. “Al, aku menyayangimu. Setia-lah untuknya, aku melupakan semua janjimu yang lalu agar aku tak lagi berharap pada semu. Menunggu bertahun-tahun tanpa ke-tidak pastian itu menyakitkan bukan?”, ia berlalu dan tersenyum seolah tegar.

Aku berdiri terpaku ditempatku. Aku tak tahu, aku sudah terlalu lelah, aku menyukai wanita lain, namun aku tak sanggup harus jauh dari Dina. Aku memilih wanita lain itu, aku menyukainya. Kupikir sudah biasa Dina berkata seperti itu. Aku tak terlalu memperdulikannya. Menunggunya dua tahun ini sangat menyakitkan. Aku ingin bahagia. Biarlah, esok aku akan menghubungi Dina.

Seolah tanpa perasaan salah apapun aku mencoba menghubunginya seperti biasa. Tak ada jawaban, tak ada balasan. Berhari-hari aku terus mencoba menghubunginya. Masih sama, tak satupun balasan darinya. Setiap hari aku mencoba menghubunginya, seolah Dina benar-benar menghilang seperti ucapannya.

Aku bekerja jauh disebrang, tak bisa aku menemuinya. Aku masih bersama Lisa, wanita yang kusukai sekarang. Belum ada kejelasan hubunganku dengannya. Aku tak tahu, perasaan suka seperti apa yang kurasakan padanya. Hatiku bimbang. Aku terus mencoba mencari tahu kabar Dina.

Berbulan-bulan sudah lamanya, tak jua aku menerima kabar darinya, setiap hari telpon dan sms kukirim padanya, nihil, tak satupun ia balas. Ada perasaan aneh, serasa hampa di hatiku, aku tak pernah bisa jauh darinya. Dina meninggalkanku untuk kedua kalinya. Tidak, saat ini bahkan ia tak lagi ada di sampingku.

Aku bahkan kehabisan cara untuk mencarinya, aku tak menemukannya dimanapun, media sosial, teman-temannya bahkan orang tuanya. Dina bekerja jauh dari orang tuanya. Ia mungkin hanya berkirim kabar pada mereka. Aku tak akan menemukan kabar apapun tentangnya dari mereka. Hingga suatu hari aku mencoba bertanya pada mantan Dina, iya, lelaki yang paling aku benci karena dialah aku dan Dina putus.

Roni menjelaskan padaku semuanya, tentang hubungan mereka dulunya. Sesungguhnya aku enggan, namun aku membutuhkan kabar tentang Dina.

“Kau bodoh sekali membiarkannya pergi, Al. Dia sangat mencintaimu, bahkan saat bersamaku aku tahu dia hanya merindukanmu. Aku mencoba membantu Dina untuk membuatmu mengerti dia, Dina ingin kau sedikit saja mengertikannya. Dia ingin agar kau bisa menjaganya bukan hanya terus menyakitinya dengan menghianatinya. Lelaki macam apa kau? Ingat, beruntunglah kau memiliki dia. Aku beruntung pernah bisa sebentar bersamanya walaupun aku tahu hatinya selalu hanya untukmu, lelaki bodoh”, ucapnya sambil menghisap rokok yang tinggal setengah itu.

“Kau ingat Al, saat kau berjuang untuknya, ego, emosi dan ambisi mu tak pernah juga luput dari hidupmu. Dia membenci itu, kenapa kau tak berjuang dengan cara dewasa? Akupun melihat semuanya. Dia menceritakan semuanya tentang kalian padaku. Aku mencoba menjadi sahabatnya. Kita sudah putus sejak lama, aku menyayanginya namun dia menyayangimu. Kau perlu tahu itu. Dan kau melakukan kebodohan lagi sepertinya dengan menyakitinya dan melepaskannya. Tak cukup kau belajar dari permasalahnmu dan kehilangan dia yang pertama? Kau hanya menuruti ego mu dan ambisimu untuk dirimu. Berpikirlah. Tak sadar juga kau? Egomu itu yang membunuhmu kawan”. Penjelasan Roni benar-benar membuatku sakit.

Sudah setahun lebih aku tak bertemu dengan Dina, hidupku bahkan tak pernah seburuk ini sebelumnya. Aku merasakan kekosongan dan hampa.  Pilihan paling bodoh yang pernah aku pilih adalah kehilangan wanita terbaik dalam hidupku. Benar kata Roni, aku memang bodoh. Aku tak pernah bisa belajar dari masalah. Aku hanya ingin bagaimana aku bahagia. Aku egois dan egoku sudah membunuhku.

—————————

Aku dan bang Alwi masih menunggu mas Fendri dan mbak Aini mengambil nomer antrian. Barisan masih panjang kulihat. Liburan kali ini benar-benar tak terduga penuh sesaknya. Kami berempat baru bertemu ditempat ini, bertemu teman baru yang sangat cocok. Bang Alwi orang medan, logatnya khas sekali. Ia bekerja di Bali. Mbak Aini dan mas Fendri orang Solo, perantau yang kebetulan sama bekerja di Lamongan.

“kau sudah bertemunya bang?”, tanyaku pada bang Alwi.

“Kau tahu Ra, tujuanku ke Solo adalah untuk mencarinya. Kabar yang terakhir kudengar, dia pindah bekerja di Solo. Aku tak ingin kehilangannya lagi Ra, aku akan meminangnya seandainya ia memaafkanku dan menerimaku lagi”, tatapnya penuh harap.

Aku terdiam menundukkan kepalaku, aku memejamkan mata. Aku seperti tersentak mendengar cerita bang Alwi.

“hi, kau kenapa Ra?”, tanya bang Alwi mengejutkanku.

“Ah, tidak bang. Aku hanya berdoa semoga dia bisa memaafkanmu dan kau bisa bertemu dengannya. Semoga kau bisa meminangnya. Jangan kau lakukan kebodohan lagi bang”, aku sedikit menggodanya.

“haha, bisa saja kau Ra”, tawa kami melebur di keramaian pemudik yang sedang menunggu antrian.

“Amin. Tentu Ra, aku tak mau lagi kehilangannya. Aku berjanji pada diriku sendiri kemanapun aku akan mencarinya. Aku yakin dia jodoh yang terbaik dari Tuhan untukku”, ucapnya penuh keyakinan.

“kenapa kau se-yakin itu? Jodoh ditangan Tuhan kan Bang? Masih selalu rahasia bukan?”, tanyaku heran.

“Jodoh memang ditangan Tuhan dan menjadi rahasianya. Tapi kau perlu tahu, Tuhan menuntunmu menemukan jodohmu”, jelasnya.

“aku tak mengerti bang?”

“Tuhan menuntun kita bertemu jodoh kita Ra, bukan tiba-tiba mendatangkan jodoh dan di kepalanya ada tulisan ‘dia jodohmu, Al’.  Haha, bukan Rara, Tuhan menuntun kita perlahan. Kita memang tak pernah tahu siapa jodoh kita, tapi kita tahu siapa yang selalu tuhan tunjukkan untuk kita. Aku sudah belajar dari semuanya Ra, dan aku belajar dari keyakinan, dari permasalahan, pengalaman, perjuangan, dan kehilangan”.

“keyakinan? Maksud abang?”

“bagaimana hidupmu tanpa keyakinan? Terombang-ambing bukan?”, tanyanya padaku.

“ehemm”, aku menganggukkan kepala.

“Aku berusaha meyakini dia jodohku yang sudah Tuhan tunjukkan selama ini padaku, dari semua permasalahan dan bagaimana kita berjuang untuk bertahan. Hanya saja aku terlalu tertutup ego diriku, aku tak bisa berpikir sehat. Yang aku mau saat lelahku itu aku ingin bahagia. Padahal, sesungguhnya Tuhan sudah mencoba menuntunku dan menunjukkan padaku. Bagaimanapun aku berlari, aku akan kembali padanya. Aku yang bodoh karena egoku sendiri Ra, hingga aku tak mau melihat siapa sesungguhnya yang terbaik untukku. Jodoh itu untuk diperjuangkan bukan hanya dengan menunggu kemudian datang”, bang Alwi menjelaskan dengan seksama.

Jodoh, benar semua rahasia Tuhan dan benar kata Bang Alwi, sesungguhnya Tuhan selalu menuntun kita menemukan jodoh kita, hanya saja terkadang kita selalu mengacuhkannya dan berkata “Jodoh sudah diatur, jodoh tak akan kemana”. Kebodohan rupanya.

“Bang, semoga kau bisa bertemunya..” aku menepuk bahunya menyemangatinya.

“Terimakasih Ra, aku tak akan melakukan kebodohan lagi dengan harus kehilangan wanita yang mencintaiku dengan sempurna dan istimewa”.

Malam ini, memberikanku satu cerita yang sangat berharga..

Nb : terimakasih Bang Alwi yang sudah mengijinkanku berbagi cerita tentang kisahmu. Semoga dia selalu bisa memaafkanmu..

Ayu Ratu Nagari

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s