Senja Untukku

cinta dalam labyrinth

Lelaki itu sedang menatap seorang wanita dari jauh, ada sinar kasih yang terpancar dari mata lelaki itu. Tatapan iba terbersit di antara bola matanya. Ia beranjak dari tempat duduknya, berjalan menghampiri wanita yang sedang melambaikan tangan memanggilnya, ia tersenyum lembut, ada setitik air mata yang sempat terlinang, jemarinya dengan sigap menghapus sembari berjalan dengan segera. Wanita itu tampak sangat riang, wanita itu menggenggam ice cream di kedua tangannya. Rambut hitamnya  yang sebahu tertiup angin menyentuh wajahnya. Senyumnya manis matanya membelalak kecil. Di bagian sebelah kanan seragamnya diatara bahu dan dadanya tersemat nametag kecil berwarna hitam, Senja Aurora. Namanya cantik seperti parasnya.

Lelaki itu menerima ice cream yang disodorkan kepadanya, tampak kehangatan yang tercipta. Lelaki itu merangkul wanitanya dan mengusap kepalanya. Kebahagiaan hadir di keduanya. Wanita itu tampak manja dengan lincah tingkahnya. Mereka berjalan dengan ice cream yang menemani kebersamaannya, ribuan kata tertuang dari gerak bibir dan tawa dalam bincangnya. Senja sore ini sangat indah ronanya..

——————-

Ku lihat ia sedang duduk terdiam, pandangnya kosong diantara beberapa orang yang sedang berlalu lalang di taman rumah sakit ini. Wajahnya pucat pasi, bibirnya mengering, matanya sayu, tak ada senyum terukir disana, rautnya begitu datar. Berjam-jam aku mengamatinya dari tempatku. Wanita itu mengundang perhatianku.

Seorang pria berkacamata dan berseragam putih yang ku-terka umurnya sekitar 45 tahun itu berjalan menghampirinya, mengambil tempat tepat disebelah kirinya. Aku tak tau apa yang pria itu ucapkan, aku tak bisa membaca gerak bibirnya terhalang banyak orang yang berlalu lalang. Wanita itu tetap diam dengan dingin pandang, seolah ia tak melihat pria disebelahnya.

Pria itu berdiri dan mengajaknya pergi, menuntunya pelahan dan membantunya berjalan. Seorang perawat muda mendorong kursi roda kosong dan berjalan menghampiri mereka. Pria dan perawat itu membantunya ke kursi roda, perawat itu memegang kendali pada kursinya dan membawanya  berlalu. Aneh, kenapa wanita itu hanya diam dengan pandang kosongnya? Seolah pikirnya tak pada tubuhnya. Dia seperti kehilangan jiwa.

Aku beranjak dan mengikuti mereka, wanita itu sudah merebut perhatianku. Mereka bertiga memasuki sebuah ruangan perseorangan, kulihat nomer kamarnya, 14. Aku bergegas ke ruang informasi. Kudapati namaya, Senja Aurora.

—————-

“Ini satu yang coklat untukmu dan blueberry untukku”, aku menyodorkan ice cream yang kubeli di minimarket sekolah kepadanya. Siang ini terik, dia sudah menungguku berjam-jam di halaman sekolah. Peluh di keningnya tampak jelas. Sinar matahari ini membuat matanya semakin sipit dan wajahnya memerah. Dia lelakiku.

“Bagaimana dengan topi ini? Aku lebih tampan bukan?”, tanyanya padaku sembari mengenakan topi hitam Puma kesayangannya. Ia membuat ekspresi tampan di wajahnya. Dia bahkan jauh lebih tampan tanpa perlu dibuat-buat.

“Hahaha, kau jelek sekali”, aku menggodanya. “Let’s go darling, panas sekali. Ayo pulang”, rengekku manja.

“Baiklah, tapi kau tak meninggalkan permen kesukaanmu lagi kan? Kau selalu nakal”. Ini memang sudah jamku minum obat, dia selalu menyebut butiran-butiran itu permen. Seandainya saja dia minum ini semua, aku yakin dia akan muntah karena rasa pahitnya yang luar biasa.

“Haha, taraa!”, aku tertawa dan menunjukkan kotak-kotak obat yang harus ku minum tiap waktunya. Aku beruntung memilikinya, aku beruntung bertemunya disana. Kami selalu punya cerita dan tawa. Aku sangat mencintainya. Orion Altar,  dia lelaki hebat yang selalu membuatku bahagia berdampingnya.

—————–

Sejak saat itu aku lebih sering datang ke Rumah Sakit itu hanya untuk sekedar bertemu dengannya. Namun, aku tak pernah berjumpa. Aku sering bertanya pada perawat dan dokter yang saat itu mendampinginya, Dokter Azam, beliau adalah teman karib kedua orang tuaku, aku cukup mengenalnya hingga aku berhasil mendapat informasi tentang pasien yang sedang ditanganinya,  Senja.

Wanita itu selalu mengusik pikiranku sejak ku lihat dia di rumah sakit kala itu. Aku selalu berharap bisa bertemu dengannya dan mengenalnya. Hingga suatu saat aku bertemu dengannya.

“Maaf, saya tidak sengaja. Saya terburu-buru”, ucap seorang wanita dengan rambut sebahu yang baru saja bertabrakan denganku di depan loby rumah sakit.

“Tenang saja, no problem”, jawabku menanggapai perminta maafannya.

“Terimakasih, permisi”, kami saling bertatap muka. Dia tersenyum padaku kemudian berlalu.

Aku masih berdiri terpaku, menengok kearahnya berlalu. Aku mengenalinya, sangat mengenali wajahnya. Wanita dengan rambut hitam sebahu, bola mata hitam bulat kecil, senyumnya yang manis, dia sangat sederhana tanpa polesan di wajahnya. Ada daya tarik tersendiri yang membuatnya tampak istimewa. Dia adalah Senja Aurora.

Sungguh, aku bahkan hampir tak mengenalinya andai saja dia tidak menatapku. Dia begitu berbeda dari yang pertama kali kulihat kala itu. Dia begitu sehat, ceria, dan bersemangat. Masa bodoh, aku mengejarnya, aku bahkan tak peduli betapa malunya jika aku mengejarnya tanpa tahu untuk apa. Aku hanya ingin mengenalnya, itulah yang membuatku berkali-kali kembali ke tempat ini, hanya sekedar untuk bisa bertemu dengannya.

“Hai, tunggu sebentar”, aku berteriak memanggilnya sambil berlari mengejarnya.

Wanita itu berhenti , menengok ke arahku dengan bingung. “Ada apa kak?”, tanyanya heran.

“Ehmm..”, aku menggaruk kepalaku yang bahkan tak terasa gatal sekalipun. Aku bingung dan malu.

” Namaku Orion”, aku mengulurkan tangan tanda perkenalan. Aku tersenyum nyengir. Wajahnya mengernyit, dari wajahnya ku terka dia pasti heran dengan sikapku, mungkin aku makhluk planet asing yang berkulit putih dan mata sipit yang nyasar di hadapannya.

“Senja..”, ia menjabat tanganku dan tersenyum. “Nanti kita berbincang lagi, saya terburu-buru”, ia berjalan sedikit berlari. Sangat manis, ucapku dalam hati. Aku bahkan tak percaya akhirnya aku bisa berkenalan dengannya. Tuhan, terimakasih.

Aku mengikutinya diam-diam bak seorang mata-mata yang memburu targetnya. Ah tidak, aku terlalu berlebihan. Kulihat ia keluar dari ruangan Dokter Azzam, bergegas aku menggantikannya menyelinap masuk ke ruang itu.

Aku mengambil tempat tepat berhadapan dengan beliau. Seperti sudah tau maksud kedatanganku. Beliau bercerita banyak padaku tentang Senja.

“Dia wanita hebat, dia mampu bertahan dari kanker  yang sudah lama bersarang di tubunya”, ia menghela nafas. Merapikan duduknya. “Saat kau melihatnya di bangku taman itu dia mengalami Anterograde Amnesia“, lanjutnya.

” Apa itu Om?”, tanyaku menyela, aku penasaran. Dokter Azzam seperti keluarga untukku, aku biasa memanggilnya dengan sebutan Om.

” Ia tak mampu mengingat kejadian yang baru saja dia alami, tapi dia masih mampu mengingat masa lalunya. Terjadi  setelah beberapa bulan ia mengalami koma dan  saat itu kau melihatnya seperti orang linglung yang tak mengenali sekitarnya”, beliau menjelaskan.

“Benar saja, iabahkan seperti tak melihat kehadiran Om disampingnya. Tapi, kulihat ia begitu sehat hari ini? Sangat sehat. Bahkan tak sedikitpun tampak seperti penderita kanker sekalipun”, tanyaku berlanjut. Mungkin kau tak akan percaya jika dia adalah penderita kanker stadium 2, dia tampak lebih sehat dari mereka yang hanya sakit flu.

“Saya pernah memperkirakan ia hanya bisa bertahan 3 tahun lagi, suatu keajaiban ini sudah 3 tahun berlalu  bahkan ia tampak masih sangat sehat, penyakit itu masih ada dalam tubuhnya. Kau bisa temui dia di ruang anak pengidap kanker. Dia disana bersama mereka untuk memberinya semangat. Dia wanita yang sangat kuat dan periang”.

Aku masih terdiam, aku tertegun mendengar semua cerita dokter Azzam. “Terimakasih Om, aku suka wanita itu dari pertama bertemu”, ucapku malu. Iya aku memang menyukainya.

“Haha, Om juga pernah muda Orion, Om paham sekali. Apa kau masih menyukainya setelah kau tahu keadaanya?”, beliau bertanya sedikit serius.

“Tak akan pernah menyurutkan perasaanku sedikitpun, Om”, aku menjawab seperti dua orang pria dewasa yang berbicara serius. Kami tertawa. Aku berpamitan meninggalkan ruangannya, dengan segera aku ke ruang yang diberitahukan oleh Dokter Azzam.

Kulihat seorang wanita dengan jaket coklat yang sedang duduk bermain diantara banyak penderita kanker. Ia seperti sedang berdongeng untuk seorang anak kecil disebelahnya. Beberapa orang perawat menemaninya di ruangan itu. Mereka tampak senang.

Diantaranya kulihat ada yang sudah botak, kepalanya membesar dan .. Ah aku bahkan tak sanggup melihatnya lama-lama. Hatiku menangis rasanya. Dia, wanita itu, Senja, ia bahkan tak tampak seperti mereka disekelilingnya. Aku bahkan tak percaya wanita se-riang itu tengah mengidap penyakit mematikan yang bisa merenggut nyawanynya sewaktu-waktu.

Seperti tersadar akan kehadiranku yang sedari tadi melihatnya, ia berjalan menghampiriku yang tengah berdiri di depan pintu. Aku tertunduk tersenyum malu.

“Hi, kau disini? Apa kau…”, ia tak melanjutkan ucapannya, dari gerak tubuh dan raut wajahnya aku tahu dia ingin bertanya apakah aku pengidap yang sama dengan mereka.

“Oh, tidak tidak. Aku hanya kebetulan saja lewat dan aku melihatmu disini”, jelasku padanya.

Ia tersenyum padakku. Aku menarik tangannya dan mengajaknya keluar dari ruang itu untuk mencari tempat duduk di taman. Aku ingin berbincang dengannya. Dia bahkan tak menolak, ia sangat ramah bahkan pada orang yang baru saja ia kenal.

Kami mengambil tempat tepat di bawah pohon mangga di sebelah utara rumah sakit. Kami mulai lebih saling mengenal. Aku bilang padanya aku menyukainya. Mungkin aku lelaki terkonyol yang pernah ia jumpa. Bahkan mungkin aku terlalu percaya diri untuk mengungkapakan itu semua. Ada perasaan sayang dan ingin melindunginya setelah aku tahu keadaannya.

Perbincangan kami sangat akrab dan hangat, kami selalu tertawa. Dia bilang, dia suka berbicara berlama waktu denganku, oh, tentu, aku bahkan lebih suka dari padanya. Semua mengalir begitu saja.

“Senja, maaf apa yang kau lakukan di dalam sana bersama mereka?”, aku mencoba bertanya walaupun aku sudah tahu dari Dokter Azzam.

Kedua tangannya menyanggah tubunya di atas bangku. Kakinya ia ayunkan. Senyumnya sangat manis kulihat dari dekat, dia memalingkan wajah menghadapku yang duduk disebelah kanannya.

Ia menarik nafas sedikit panjang sebelum akhirnya ia bercerita, “Aku berbagi hidup bersama mereka. Aku sama seperti mereka, menunggu waktu yang sudah di terka-terka”. Ia menatapku yang keheranan.

“Mungkin kau tak pernah mengira saat kau melihatku pertama kalinya, namun kenyataannya aku sama seperti mereka, kanker itu sudah jadi bagian dari setiap hembusan nafas kita. Aku hanya selalu ingin membuat mereka bahagia menikmati kehidupannya, seperti aku”. Ia selalu bisa tersenyum, itu yang kulihat.

“Kau? Tapi,, kau berpenampilan jauh dari mereka. Aku tak mengira…”, ucapku padanya.

“Kenapa denganku? Aku cantik?”, kami tertawa. Dia tertawa sangat bahagia. Kulihat sinar matanya yang indah.

“Dokter pernah mengatakan bahwa umurku hanya tinggal 3 tahun lagi, saat itu aku berumur 17 tahun. Setiap hari aku hanya selalu merasakan ketakutan dalam hidupku, aku tak menikmati hidupku seperti dulu. Berbagai macam cara sudah dilakukan oleh kedua orang tuaku. Mungkin aku anak durhaka yang hanya bisa merepotkan dan menghabiskan uang mereka. Aku merasa tak berguna..”. Setitik air mata menetes di ujung matanya. “Saat keuangan dan keadaan orang tua-ku tak memungkinkan untuk menyembuhkan penyakitku, saat itu aku tahu mereka ingin aku tetap bersamanya. Mungkin aku tak bisa membahagiakan mereka dengan mengganti setiap apa yang mereka berikan padaku, namun dengan hidupku, aku bisa membuat mereka tersenyum”.

Aku termenung mendengarkan ceritanya, “Lalu apa yang kau lakukan? Kau menyembuhkan kanker-mu sendiri? Aku tak paham”. Aku sangat ingin tahu bagaimana mungkin ia bisa bertahan dari penyakit mematikan itu bertahun-tahun sedang dia masih bisa terlihat sangat sehat.

“Orion, aku bisa mengerti hidup setelah aku tahu hidupku hanya beberapa waktu. Kedua orang tua-ku sudah banting tulang untuk mencoba menyembuhkanku. Tapi NIHIL. Hidup ini ternyata terlalu indah untuk kubiarkan sia-sia dengan penyakit yang semakin hari semakin menggerogoti tubuhku perlahan. Mengikis umurku setiap detiknya. Aku tak pernah berbuat apapun untuk mereka, aku hanya berusaha untuk tetap hidup dan tersenyum untuk mereka, kedua orang tua-ku yang setiap hari kudengar tangisannya dalam doa malamnya. Apa kau sudah membahagiakan orang tua-mu?”, tanyanya tiba-tiba mengejutkanku.

“Belum, tapi aku akan berusaha. Dengan bekerja aku bisa membuat mereka bangga”, jawabku sekenanya.

“Aku tak mungkin bisa bekerja berat dengan sakitku saat itu, yang ku pikirkan adalah bagaimana aku bertahan hidup dengan penyakityang bersarang di tubuhku. Hanya itu yang bisa ku lakukan untuk membahagiakan mereka disisa hidupku”.

Aku terdiam, semua ucapannya membuatku semakin merenungkan kehidupan.

“Setiap hari dalam waktu yang rutin aku harus teratur minum obat-obatan ini. Hidupku bergantung padanya dan bagaimana aku menjalani hidupku. Hingga aku bisa seperti ini. Aku ingin berbagi dengan mereka agar mereka bisa lebih menikmati menjalani sisa hidupnya. Terlalu indah untuk di sia-siakan”.

“Apa obat-obatan itu benar bisa membunuh penyakit itu di tubuhmu hingga kau bisa melewatinya sampai saat ini?”

“Tidak, obat-obatan itu hanya menghambat, bukan membunuh”, terangnya.

“Lalu?…”

“Aku tak ingin memerangi kanker, aku ingin bersahabat dengannya….”, ia tersenyum.

Pertemuan singkatku itu dengannya membuatku mengerti betapa indahnya hidup untuk dinikmati berlama-lama dengan hal yang berguna. Dia bahkan masih ingin berbagi untuk mereka yang sama keadaannya, ia masih ingin membuat orang disekelilingnya tertawa.

Wanita itu kini adalah kekasihku. Wanita yang mengajarkanku bagaimana mencintai kehidupan, tentang senyuman yang menghadirkan kebahagiaan, tentang cinta yang membuatnya bertahan, tentang keyakinan yang memberikan kekuatan. Wanita yang mengenalkanku dengan keajaiban Tuhan melalui senyuman dan persahabatannya dengan kanker yang mematikan.  Aku masih bisa melihatnya tersenyum dan tertawa bersamaku. Kami masih menikmati setiap jilatan ice cream coklat dan blueberry lezat yang ia beli untuk kita di siang yang terik ini….

“Tuhan, terimakasih kau hadirkan Senja untukku. Senja yang selalu menghiasi hariku walau hadirnya hanya sesingkat waktu….”

Ayu Ratu Nagari

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s