kau tanam rindu dimakammu

 

cinta dalam labyrinth

Ini  masih terlalu pagi, rintik gerimis terdengar sayup menggelitik, aroma tanah sehabis hujan dan dingin pagi ini membuatku malas beranjak. Sepertinya tempat tidurku memiliki gravitasi dua kali lipat dari bumi.

Handphoneku berdering nyaring, aku meraba-raba mencari dengan mata yang kupicingkan. Seketika aku terbangun setelah melihat nama pemanggil yang tertera di layar. Dengan sigap aku terlonjak dengan semangat untuk mengangkat telpon.

“Halo. Selamat pagi  jagoan cantik, apa kabarmu disana?”, tanya suara disebrang yang selalu aku rindu.

“Halo jurnalis tampan, kabar baik diterima. Bagaimana denganmu?”, kita berdua tertawa ringan. “kapan pesawat terbang itu mengantarmu ke negeri ini?”, tanyaku padanya.

“Minggu depan sayang.. Have a nice weekend, i love you”, dia masih sama, suaranya yang bersemangat tiap kali menelponku adalah semangat yang sama untukku.

“Aku menunggu disini, segera. Rindu ini membunuhku”, suaraku manja, aku benar-benar merindukannya. Dia, kekasihku.

“Jaga dirimu, jaga kesehatanmu, jagoan gak pernah cengeng. Aku juga selalu merindukanmu”, suaranya melemah. “Tugas sudah menanti, nanti aku pasti menelponmu lagi. Maafkan aku atas rindumu. Aku menyayangimu.”, tambahnya.

“Siap! Semangat..!”, klik. Telpon kami tertutup. Kulihat kalender di meja samping tempat tidurku. Hari ini sabtu, 7 februari 2009. Aku selalu memberi tanda setiap kali ia menghubungiku. Long distance relationship ini harus kita jalani karena dia harus melanjutkan sekolahnya di negeri sebrang, Aus. Hanya suaranya yang selalu jadi penawar rinduku.

Itu terakhir kali aku mendengar suaranya, mendengar tawanya dan kata cinta darinya. Tak pernah ada lagi yang selalu aku tunggu kepulangannya…

————————

Sore ini sedikit mendung. Daun-daun dan bunga disekitaran mulai berhambur perlahan terbawa hembusan angin yang sunyi. Aroma  wangi bunga kamboja di tempat ini tercium segar. Kulihat ada beberapa orang di sekitaran, ada yang sedang menabur bunga dan ada yang sedang membacakan doa. Kulihat wajah-wajah rindu dan sedih diantaranya. Mataku memandang sekeliling seraya mencari. Langkahku berjalan gontai, terasa berat. Wanita setengah baya disebelahku menuntunku perlahan.

Langkah kami terhenti di suatu tempat. Kaki ku lemah melangkah, seolah semua persendianku lumpuh, aku jatuh bersimpuh. Ada yang menyesak dalam dada, air mataku menetes sendirinya, darahku berdesir dingin, tubuhku lemas, mataku menatap pasti sebuah batu marmer berwarna putih tulang dengan ukiran tinta hitam dibagiannya, kulihat sebuah nama terukir disana. Rendra Ega P.H~

Keranjang bunga yang sedari tadi kugenggam erat terlepas begitu saja. Aku hanya memandang gundukan tanah di depanku dengan linangan air mata yang tak kunjung reda. Jemariku seakan tak sanggup meraba nisannya dan menabur bunga di atas makamnya untuk yang pertama kalinya. Aku terisak, ada sakit yang luar biasa ku rasa, bahkan lebih menyakitkan daripada sakit yang kuderita. Bibirku tak mampu berbicara, hanya sepenggal kata yang mampu ku ucap adalah namanya.

Sebagian orang mungkin pernah mengalami kejadian serupa denganku. Kehilangan orang yang sangat kau cintai dan setelah bertahun-tahun lebih untuk pertama kali kau baru bisa berkunjung ke makamnya. Bagaimana perasaanmu? Hancur, iya aku merasakannya. Sesak, sangat sesak. Mungkin kau akan bertanya, bagaimana mungkin aku tak pernah berkunjung ke pemakamannya? Jarak dan komunikasi yang membuat semua seperti ini adanya. Hingga akhirnya wanita itu menghubungiku dan mengantarku pada rumah abadi putra tercintanya yang semata wayang dan telah tiada. Ada bahagia yang bercampur duka setelah aku tiba di persinggahan terakhirnya.

Kurasa pandangku hilang, tubuhku jatuh ke kuburnya. Ku pejamkan mataku, ingatanku hanya berjalan mencari semua lembar kenangan untuk ku baca ulang. Kenangan tentang kita dimasa silam. Tuhan, aku merindukannya, aku ingin bertemunya sekali saja…

Seorang lelaki dengan pakaian putih dan rapi tersenyum dari jauh memandangku, perlahan ia berjalan semakin mendekat seolah menghampiriku. Lelaki  berwajah oriental dengan mata sipit dan lesung pipit yang sangat ku kenal. Raut bahagia tergambar jelas di wajahnya. Dia berhenti tepat di depanku. Betapa bahagia aku melihatnya. Ia memelukku sangat hangat. Tuhan, Kau tau aku sangat mencintainya.

Kepalaku pusing. Aku membuka mata perlahan. Kulihat sekeliling, ruangan yang aku tak pernah kenal. Seorang wanita sedang mendekapku hangat, ia menangis, air matanya menetes di pipiku.

“Kau sudah bangun sayang?”, tanyanya lembut padaku. Ia sangat cantik walaupun sudah berumur.

“Aku tertidur, ma?”, aku bertanya padanya, jemariku mencoba menghapus air mata yang mengalir di wajahnya.

“Kau pingsan, mungkin kau kelelahan sayang. Istirahatlah dulu”, ia mengusap lembut kepalaku dan mencium keningku. Beliau beranjak mengambikan minuman untukku.

Sikapnya masih sehangat dulu, wajah cantiknya masih terpancar meskipun kulihat kerutan-kerutan yang berumur. Sifat keibuan dan penyayangnya aku tak pernah ragu, ia bahkan masih menyayangiku seperti dulu. Ia menatapku, ada rindu yang ia pendam berlarut-larut waktu. Beliau adalah ibu dari kekasihku.

Kini, tak ada lagi beban di hatiku. Terimakasih Tuhan, Kau mengabulkan satu persatu  pintaku. Mengantarkanku hingga ke tempat itu. Terimakasih, Kau pertemukan kita lagi walau hanya dalam mimpi. Tak pernah lelah kupanjatkan doa untuknya disana. Jaga ia disana, sampaikan rinduku padanya, aku mencintainya.

“Ma, aku ingin kesana lagi esok pagi sebelum kita pulang. Mama mau mengantarku?”, pintaku pada wanita yang sedang duduk disebelahku. Wanita yang sangat merindukan buah hatinya itu.

“ehem”, ia mengangguk. “Tentu, sayang”, ia tersenyum. Aku membalasnya.

Angin pagi ini berhembus lebih lembut, langit sangat cerah, kurasakan embun masih basah ketika kutapakkan kakiku menyentuh rerumputan hijau saat aku memasuki pelataran pemakamannya. Masih ada sedikit sesak di dada, masih selalu ada tangis setiap ku usap nisannya dan meraba ukiran namanya. Aku masih selalu tak percaya ia telah tiada dan kini aku bersimpuh di kuburnya. Aku menangisi-nya untuk yang terakhir kalinya walau aku tau ia tak suka. Ini hanya air mata bahagia saat aku bisa tiba dan menabur bunga di persinggahan terakhirnya.

Aku teringat selembar kertas yang sudah lusuh yang mamanya berikan padaku semalam, surat terkahir darinya yang tak sempat ia berikan padaku. Satu kata yang tertulis di sepucuk surat itu :

 “dimanapun aku, selalu ada rindu dan cinta untukmu”

Air mataku mengalir tak terbendung. Aku mendekat pada nisannya seraya berbisik sangat lirih, “Kini, telah kau tanamkan rindu untukku di makammu…”

Wanita yang sedari tadi bersamaku beranjak menghampiriku dan memelukku. Segenggam bunga ia taburkan di makam anak tercintanya. Bunga yang ia taburkan dengan segala cintanya pada buah hatinya yang telah tiada. Kami adalah wanita yang selalu ingin ia bahagiakan dalam hidupnya…

 

 

 Ayu Ratu Nagari

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s