Bagian masa lalu


cinta dalam labyrinth

Segelas coklat panas yang ia berikan padaku pagi ini sepertinya tak semanis semalam saat ia seduhkan untukku. Slow Jam dari Euge Groove menemani perjalanan panjang kita. Ia selalu bisa membuatku mengaguminya. Ia  sangat tampan hari ini, dengan jeans belel, atasan kaos putih yang ia padukan dengan jaket hitam dan sepatu kets denim kesukaannya . Tatapnya selalu tajam dibalik kacamatanya. Aku tak tau mau kemana kita, sepatah kata yang ia ucapkan hanya ia akan membawaku ke suatu tempat, entah.

Tuhan telah mempertemukan aku dan dia pada suatu waktu yang hanya ada aku dan dia. Ya, hari ini hanya ada kita. Ada dingin tersirat sunyi, dia masih sibuk dengan padatnya jalanan sabtu ini. Aku memilih bermain-main dengan benda lipat ukuran 10 inch ini, jari-jariku sibuk menari-nari diatas keyboardnya, otakku masih dengan segala cerita-ceritanya. Sesekali aku melirik ke arah lelaki di kananku, masih sama, matanya masih tetap pada jalanan.

Beberapa lagu sudah berganti-ganti menemani pagi ini. Sudah jam 9 pagi ketika kulirik jam digital yang digantung di mobilnya. Wajahku sudah jemu setelah sedari pagi tadi aku membaca timeline twitterku yang mungkin karena itu coklat manispun terasa pahit olehku.

Aku bertanya padanya mau kemana kita, dia hanya melontarkan senyumnya. Ah, senyumnya selalu membuatku luluh. Bahkan diamnya-pun tak pernah jadi beban untukku. Mataku mulai lelah, tapi aku masih ingin terus bercerita tentang hari ini. Aku mengambil ponsel di tas jinjingku aku tak ingin membuka satupun sosial media, tapi entah aku ingin sekali membuka twitterku dan lagi aku membacanya. Rasanya semakin pahit, ada yang menyesak di dadaku. Kurasa ia menyadari sesuatu yang terjadi padaku, namun aku bersikap sangat biasa dan seolah baik-baik saja.

Mataku mulai lelah menatap layar leptop ini. Ku pejamkan sejenak, ku bilang aku mengantuk dan dia menawariku bahunya. Tidak, aku menolak.dia tersenyum dan mengusap kepalaku. Dia masih sama, seperti dulu di perjumpaan kita yang entah hanya sebatas itu aku bisa mengingatnya, kenapa hanya dia yang bisa mengingat semua lebih utuh daripadaku?

Aku dan dia pernah berjumpa di suatu waktu yang entah selama apa itu, yang ku ingat sepertinya aku pernah bersamanya lebih dekat daripada ini.  Lebih dekat dari sekedar duduk berdua tanpa bicara. Dia selalu mengingatkanku pada sesuatu yang aku bahkan tak sanggup mengingatnya. Hanya beberapa kecil saja yang mampu ku ingat dari kita. Selalu ada tanya besar yang tak terjawab dalam benak. Siapa dia? Siapa aku? Dan siapa kita? Si mata elang ini selalu enggan bercerita. Dia hanya selalu ingin menunjukkan sesuatu agar aku bisa mengingatnya. Ku pikir terlalu bodoh.

Mungkin  beberapa dari kalian ada yang pernah mengalami hal serupa denganku, kau hanya ingat sebagian kecil dari seseorang di masa lalumu, namun kau lupa semua yang terlebih dari itu. Saat waktu mempertemukanmu kembali dengannya, kau hanya mengenal sebatas nama panggilannya saja, sekilas bertatap muka, sekejap berbicara tanpa kau pernah ingat siapa dia dan bagaimana kalian sebelumnya pernah mengukir kisah.

Ini sudah terik , aku berada di suatu tempat ketika ia membangunkanku dari tidurku. Lelah sekali, perjalanan ini terlalu lama dan panjang.  Tempat ini, dimana ini? Rautku menunjukkan ke bingunganku. Dia tersenyum. Dia mengajakku turun. Tangan kirinya menggenggam tangan kanan ku, dia menarikku seolah segera ingin menunjukkan sesuatu padaku. Tempat ini begitu asri, aku bisa menghirup udara bebas disini. Aku bahkan bisa melihat atap sebuah gedung yang sangat tinggi. Disini, di bawah pohon beringin yang sangat rindang ini, dengan pemandangan yang membentang. Dimana ini? Otakku berputar seolah mengais-ngais kenangan silam. Aku ingat pohon ini, aku pernah memendam origami angsa pada sebuah kotak di dekat pohon ini. Tapi, dimana ini? Kenapa lelaki ini mengajakku kemari? Ku rasa aku hanya mengenalnya beberapa hari kemudian aku tak peduli.  Aku mencoba memaksa ingatanku untuk berjalan mundur lebih jauh. Sakit, hanya sakit dikepalaku ketika aku semakin mencoba mengingatnya. Tuhan, mengapa tak bisa aku mengingatnya?

Aku terduduk lemah bersandar pada dahannya dengan kedua kakiku yang ku lipat dan kudekap. Lelaki ini seperti sebuah misteri semakin hari. Aku yang selalu acuh dengannya tiba-tiba kagum tanpa tau mengapa. Sikapnyapun seperti teka teki. Setiap aku bertanya padanya, dia hanya tersenyum dan mengusap kepalaku. Hi, bodoh! Mana mungkin aku mengingat apapun hanya dengan usapan lembut tanganmu di kepalaku dan senyuman termanismu sekalipun, yang ada aku hanya semakin mengagumimu.

Aku mulai lelah, karena tak jua aku menemukan jawaban dari masa lalu kita. Apa susahnya dia bercerita tentang semuanya dengan atau aku tak mengingat lagi, setidaknya aku tau sebuah cerita. Dia hanya berkata, nanti dia akan mengajakku lagi ke suatu tempat. Dia hanya ingin membuatku mengingat sebuah pertemuan dan cerita yang terlupakan. sungguh, bagaimana mungkin aku tak mengingat apapun. Kalau memang tak ada cerita, bagaimana aku ingat aku pernah kesana dan bagaiamana dia tau semuanya?

Sore menjelang, aku mengajaknya untuk pulang. Lelahku di ambang, pikirku gamblang. Seolah sebagian hidupku pernah menghilang. Dia, lelaki yang beberapa kali ku jumpa kenapa begitu menyimpan banyak tanya dalam duniaku seketika?

Aku menyandarkan kepalaku pada sandaran kursi mobilnya. Mataku terpejam, pikirku menerawang masih mencoba mengingat semua kenangan. Sia-sia, aku masih tak menemukan. Ku ambil ponselku, entah kenapa jemariku seolah mendapat syarat dari otakku untuk membuka twitter itu. Lagi-lagi ku dapat-i hal yang sedari pagi membuat pahit coklat panas kesukaanku. Harusnya aku tahu, dia begitu mencintai lelaki yang kini duduk di sampingku.

Aku terkejut tanpa kusadari sedari tadi lelaki ini mengamatiku. Wajahku menyiratkan tanya keheranan. Tangannya menggenggam lembut tanganku, tatapnya tak berpaling dari gelap jalan mala mini.

“Kita pernah ada di suatu waktu yang bisa disebut masa lalu. Bukan hanya sekedar aku dan kamu. Kita pernah membuat cerita yang kemudian hilang bersama waktu”, ucapnya lembut. Masih membuatku tak mengerti. “Aku hanya ingin kau mengingat masa lalu dan aku”, dia tersenyum sangat manis. Sikapnya sangat hangat. Lelaki bermata elang ini, sedari pertemuan kali keduaku dengannya ada sesuatu yang aku tak tahu itu apa.

Semuanya memang semakin membuatku tak mengerti. Apa yang dia maksud dengan : pernah ada, masa lalu, kita dan ingatan? Mengapa sikapnya begitu berbeda? Tiba-tiba aku teringat seorang wanita yang sedang dekat dengannya. Ah, apa jadinya jika wanita itu tau aku sedang bersama lelaki yang dicintainya? Sedari pagi dia berucap cinta tanpa sapa. Aku tau itu untuk dia. Aku hanya membaca twitterku dengan menghela nafas tanpa jeda. Sudahlah, aku tak mungkin mengahancurkan rasa wanita disana yang selalu menemaninya.

Aku memandangnya jelas, dia menatapku dan masih dengan senyumnya selalu. Aku dan hatiku masih beradu. Mungkin aku hanya mengaguminya, aku tak pernah ingat siapa dia. Yang aku tau aku bertemunya pada suatu acara keluarga kemudian kulupa. Aku bahkan acuh padanya, begitu juga sebaliknya. Hingga suatu waktu dia datang tiba-tiba dengan semua sikap yang berbeda. Hanya aku dan dia yang menyimpan cerita.

Kita mungkin memang pernah ada di suatu masa yang aku tak bisa mengingatnya. Biarkan kita tetap ada dalam bingkai cerita masa lalu yang kau selalu ingin aku mengingatnya. Nanti, suatu ketika di suatu masa aku pasti akan mengingat semuanya. Terimakasih untuk perjalanan dan tempat di hari yang indah. Bagaimana-pun aku tak bisa mengingat segalanya sekarang. Masa lalu itu biarkan tetap untuk kita. Berjalanlah dengannya yang sedang menunggumu menemuinya. Mungkin aku hanya mengagumimu semata, lelaki yang aku tak pernah tau sesungguhnya kau siapa…..

Ayu Ratu Nagari

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s