teruntuknya

 

cinta dalam labyrinth

Sudah berhari-hari ia tertidur panjang dalam koma-nya. Aku tak tau pasti bagaimana awal kejadiannya,   siang itu aku sedang di Bandung, mengejar berita untuk salah satu tabloid ternama di Jakarta. Tak biasanya aku menghiraukan panggilan masuk ketika aku sedang bekerja, namun entah apa yang menarikku segera mengangkatnya, bahkan tanganku begitu sigap. Kulihat namanya yang tertera di layar kaca handphone-ku kala itu. Ada sepintas tanya kemudian ku-acuhkan, aku menekan tombol hijau menerima telponnya. Suara disebrang lain, dan aku yakin itu bukan suaranya. Itu suara ibu, namun terdengar begitu serak dan terisak. Tak sempat aku mendengar cerita apapun, aku kacau setelah menerima kabar dari ibu tentang keadaannya.

Siang itu juga kuputuskan pulang, aku menitipkan semua pekerjaan pada rekan jurnalisku, bang Nawang. Lelaki berdarah asli sunda itu adalah partner kerjaku yang paling solid. Aku berpamitan padanya, kubilang aku akan berangkat ke Jakarta siang itu juga. Bang Nawang menitipkan salam dan doa untuknya.

Aku masih menunggunya gelisah, sesekali aku beranjak dari tempat dudukku dan berdiri didepan pintu ruangan tertutup itu berharap segera ada yang keluar.  Satu jam, dua jam, tiga jam… tak kunjung terbuka. Seorang wanita dan pria paruh baya di seberangku terlihat lebih gelisah daripadaku. Seorang lainnya yang duduk tepat di sebelahku, mencoba menenangkanku.

Kakiku terus ku gerakkan, kedua tanganku merapat dengan jari-jarinya yang saling mengisi kulipat menyangga kepalaku, hatiku tak tenang, rasa khawatir yang sangat luar biasa ini membuatku tak karuan. Enam jam sudah, hingga akhirnya kudengar gagang pintu ruangan disebelah kananku tergerak. Seorang pria dengan atasan berwarna hijau panjang dengan penutup kepala dan masker wajah yang berwarna sama keluar dari ruangan itu. Kami semua segera menghampiri lelaki berkacamata itu.

Lelaki yang ku terka umurnya sekitar 35 tahun itu melepas sarung tangan dan masker wajah dari tubuhnya. Senyum simpul terukir di bibirnya, wajahnya terpancar suatu kebahagiaan.

“Puji Tuhan, semua berjalan lancar”, lelaki itu berucap kepada kami lebih dulu, seolah ia tau pertanyaan yang akan kami lontarkan.

“Alhamdulillah..”, ucapku lirih dan lega sembari bersyujud syukur.

“Alhamdulillah….” Semua bersyukur lega.

“Terimakasih dokter”, ucap seorang pria paruh baya itu kepada lelaki berseragam putih didepanku.

“Silahkan masuk, tolong bergantian. Dia masih butuh banyak istirahat. Saya permisi dulu..”, pamit dokter itu. Kulihat ia berjalan tegap, sedikit peluh tampak di dahinya.

“Ibu, bapak, silahkan..”, aku mempersilahkan sepasang suami istri itu terlebih dulu, sudah sepantasnya mereka yang lebih dulu daripadaku. Beliau begitu merindukan darah dagingnya yang terbaring disana.

Aku kembali duduk, kali ini tak lagi gelisah namun aku ingin segera menemuinya didalam. Aku sangat mengkhawatirkan seseorang yang tertidur berlama-lama waktu itu. Kini giliranku menemuinya, dengan segera aku berjalan sedikit tak sabar. Mereka melihatku sedikit geli. Senyum dari wajah mereka membuatku semakin tenang.

Kusingkapkan tirai hijau yang berwarna senada dengan seragam dokter tadi. Aku berjalan menghampiri seseorang yang tengah terbaring lemah di atas ranjang berwarna putih itu. Aku mengambil tempat duduk tepat disebelah kirinya. Tubuhnya lemas, ada selang infuse yang terhubung dengan tubuhnya di bagian punggung tangan kanannya. Tabung oksigen yang sebelumnya membungkus hidung dan mulutnya kini digantikan dengan selang kecil yang dimasukkan kedalam lubang hidungnya untuk emmbantunya bernafas. Wajahnya lesu, matanya sayu, bibirnya pucat. Ia tersenyum lembut menatapku.

“Selamat malam, Jagoan Cantik. Sepertinya kau tidur sangat pulas. Apa kau memimpikanku?”, aku mencoba menggodanya. Tangannya mulai terasa hangat ketika aku menggengamnya perlahan. Ku-usap lembut punggung tangan kirinya. Aku tersenyum bahagia. Hanya senyum kecilnya yang membalas ucapanku.

“Aku menunggu 5 hari tidur panjangmu, kau paling bisa membuatku mengkhawatirkanmu”, ucapku memberitahunya. “Aku mencintaimu”, bisikku ditelinganya. Ku kecup keningnya dan mengusap kepalanya. Ia memejamkan mata dan tersenyum bahagia. Wanita ini adalah kekasihku yang sangat kucintai.

“Aku mimpi indah. Sangat indah”, ia mencoba berbicara, suaranya lirih mencoba menngatur nafasnya. “Kau mengganggu tidurku”, tambahnya bercanda. Ia tersenyum, aku tertawa kecil. Senyum manis yang tersungging diwajahnya yang selalu aku rindukan. Wajahnya lebih cerah sekarang.

“Kau tak ingin makan ice cream blueberry dan bakso berporsi-porsi bersamaku? Yaa.. Daripada kau tidur terus berhari-hari. Apa cacing-cacing diperutmu tak kelaparan?”, aku terus menggodanya, aku tau ia tak mungkin banyak tingkah. Aku hanya sangat bahagia hari ini. Aku ingin selalu membuatnya tertawa dan merasa bahagia.

Kebahagiaan yang paling indah hari ini ketika aku bisa melihatnya tersenyum lagi, melihat matanya yang kecil-hitam dan bulat itu menatapku pasti. Dan kebahagiaan itu dimana aku masih bisa mendengarnya berbicara serta mengingatku tanpa celah. Tuhan, terimakasih, kau sembuhkan ia dari sakitnya. Aku mencintainya . wanita hebat yang apa adanya. Dia, jagoan cantik-ku yang selalu istimewa.

——————————————-

Aku menatap sekeliling, ruangan putih yang tertata sangat rapi. Kulihat seorang wanita muda dengan pakaian serba putih nan rapi, ia menyiapkan makanan dan minuman di atas meja yang berada tepat disebelah kiri-ku. Ia membantuku duduk diatas ranjang putih ini. Memberikanku butiran-butiran lingkaran pipih yang berwarna warni dan segelas air mineral yang penuh terisi.

“Diminum dulu mbak obatnya”, ucapnya sembari membantuku meminumnya.

“terimakasih..”, jawabku singkat dan pasti. Ia tersenyum, aku membalasnya.

Sudah dua hari aku disini, dengan rutinitas yang menjemukan ini, sendiri. Hanya ada dokter Cintya dan mbak Ria, asistennya yang selalu membantu dan merawatku.

“Cukup lama tidurmu, sayang. Sudah lebih baik hari ini?”, tanya seorang wanita berumur 37 tahun yang masih terlihat muda berseragam hitam putih rapi berjalan menghampiriku. Beliau adalah dokter Cintya.

“Tak pernah lebih baik selain hari ini”, ucapku padanya. “Tante, kapan aku bisa pulang?”, tambahku bertanya.

“Besok kamu bisa beraktivitas. Jangan lupa selalu ingat pesan tante”, terangnya. Dokter Cintya sudah lama merawatku, aku terbiasa memanggilnya dengan sebutan tante. Beliau adalah ibu kedua untukku. Beliau yang paling tegas mengingatkanku untuk tak acuh pada benda-benda berwarna-warni serupa permen namun pahit.

Aku terdiam dalam lamunku, mencoba mengingat bunga tidurku. Aku bertemunya dalam mimpiku, dia tersenyum berjalan menghampiriku kemudian berlalu. Aku terbangun dari tidurku, ini mimpi semu. Hadirnya nyata memelukku di dunia mimpi yang aku tau dimana itu.

Sudah 4 tahun sepeninggal-nya, seorang lelaki yang dulu senantiasa ada setiap kali aku membuka mata saat aku tertidur untuk waktu yang lama. Tuhan, aku tau Kau mencintainya hingga akhirnya Kau memanggilnya. Tuhan, terimakasih masih mengijinkanku bernafas hari ini. Terimakasih juga karena Engkau telah hadirkan ia dalam mimpi. Aku tak pernah merasa lebih baik selain hari ini dan tak pernah lebih bahagia selain pernah bersamanya, lelaki yang yang mencintaiku dengan istimewa. Aku menitipkan doa untuknya yang ada disurga. .

Ayu Ratu Nagari

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s