dia dan diamnya..

Image

Dia duduk dan datang dengan acuhnya, tulang pipinya tegas , senyumnya sinis, tatapnya tajam dibalik kacamatanya. Sangat dingin. Malam itu jaket rajut coklat muda membalutnya dengan tampan. Ia bahkan lebih rapi dari biasanya.

Bola mata coklatnya terarah tepat ketika aku manatapnya, seperti panah yang dengan tepat tertancap pada pusarannya. Entah, serasa ada yang menghentak kemudian tatap ku berpaling hilang. Aku bahkan terlalu takut membalas pandang.

Ia berjalan tegap berada di satu ruang yang sama denganku seraya menghampiri, duduk tepat berhadapan denganku. Lagi, matanya bertemu denganku. Jantungku berdetak lebih hebat bersama waktu. Aku mengalihkan pandangku. Kulirik sepintas dia bersua dengan pria disebelah, bergaya sejatinya dirinya. Senyummnya kala itu selaras dengan wajahnya yang tampan untukku.

Kita hanya saling pandang namun terabaikan. Waktu tak sekali dua kali mempertemukan kita dalam satu ruang. Namun, hanya ada bisu yang menjemu diantara kita. Aku tahu, bahkan dia bukan lelaki yang pandai beradu kata dengan lawan jenisnya, dan diamnya adalah caraku memperhatikannya.

Ia menerima secangkir kopi hangat yang ku seduh untuknya, senyumnya mengisyaratkan ucapan terimakasihnya. Aku acuh berlalu kembali pada kursiku. Meliriknya sesekali , dia begitu berbeda malam ini. Aku tak tau apa yang tiba-tiba membuatku tersipu, dia bahkan bukan orang yang aku idamkan dihatiku. Namun entah, sejak kapan dia mulai membuatku mengaguminya.

Seandainya saja hatiku bisa berbicara, mungkin dia sudah berteriak mengaguminya, dia istimewa dengan sikapnya dengan apa yang dia punya dari dirinya. Entah, sejak kapan aku mulai menyimpan rasa, yang jelas malam ini aku tau aku bahkan tak ingin berpaling memandangnya.

Gelap semakin menaung, dingin malam ini ku abaikan. Ia berdiri menghampiri mengajakku pergi, ku ingat sepatah kata darinya yang tak pernah ku duga.

“Sudah malam, aku menjemputmu kesini untuk segera pulang. Gadis kecil sudah harusnya terlelap tengah malam begini”, dia mengusap kepalaku dan tersenyum.

Aku tertegun, aku gugup. Tak pernah sekalipun kuduga ia bisa bertingkah seperti itu, bahkan nadanya berucap padaku, aku hanya bisa terdiam dalam lamunku. Tuhan, lelaki itu membuatku menjadi bulan-bulanan hatiku. Aku tersipu malu. Aku tau, dia tak se-acuh sikapnya itu.

Ia berdiri dengan tegapnya, pancaran lampu kuning di depan gerbang rumah itu membuat pantulan yang indah resonansinya.  Ia bukan lelaki yang terlalu banyak tingkah, ia pendiam yang menyimpan sejuta tanda tanya. Aku bahkan hanya sebatas tau nama panggilannya.

Alunan Silent Night – Kenny G. malam itu mengalun merdu diantara kita, aku duduk menatap jalan dan kerlip lampu temaram. Aku meliriknya sepintas, dia menatap lurus mengemudikan mobilnya. Aku bahkan tak tau harus berbicara apa. Sebelum akhirnya dia mengagetkanku dengan tatapan dan senyumnya yang bertanya-tanya. Dia, lelaki yang membuatku diam seribu bahasa.

Sepertinya waktu berlalu terlalu cepat, aku bahkan masih ingin menghabiskan malam ini lebih lama lagi jika bersandingnya. Dia adalah salah satu kebahagiaan yang tak pernah kutemukan dari lelaki lain disana. Dia lelaki istimewa yang membuatku jatuh cinta.

“Gadis kecil, waktunya kau cuci kaki kemudian pergi tidur. Mimpi indah..”, ucapanya padaku dengan gaya acuh dan senyum simpulnya itu. Sikapnya selalu membuatku bertanya-tanya.

‘Terimakasih”, hanya itu yang terucap dari bibirku yang kelu. Aku tak tau, apa yang menyeruak dihatiku, malam ini aku merindu.

Otakku berputar, menerawang jauh mencari pendar. Yang kutemukan hanya sosok nya dibalut jaket rajutan yang pernah ia pakaikan padaku malam dulu. Itu tak berarti apapun untukku, meliriknya saja aku enggan. Dia terlalu acuh dan tak pernah ingin ku tau, tapi malam ini ia membuatku mengaguminya, membuatku tersenyum dan tersipu malu melamunkannya. Apa aku mulai jatuh cinta padanya? Entah.

Kita memang sering bersama di suatu waktu, namun tak pernah berdua. Kita sering bertatap muka namun tanpa bicara. Kita saling mengenal sebatas nama, namun tak pernah ada tanya. Kita sering bersama, namun hanya diam yang ada. Seandainya saja Tuhan mempertemukan kita lagi dalam satu ruang yang sama, hanya berdua saling bertatap mata, mungkinkah ada bincang yang tercipta begitu ramah? Aku hanya berharap semu semata. Mungkin, tapi aku percaya, nanti ada saatnya Tuhan menjawab semua. Tentang rasa dan rindu yang tak teraba untuknya. Tentang pinta yang mungkin kan tercipta.

Ayu Ratu Nagari

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s