kau, kenangan dan pelarian

cinta dalam labyrinth

Aku melihat  bias senyum terukir di bibirmu ketika kau bercerita tentang kenangan, aku melihat sinar bahagia dimatamu ketika pikirmu berjalan membayangkan kenangan, aku melihat raut senang tergambar jelas di wajahmu dengan paduan-paduannya bersemangat mengenang kenangan dan aku melihat hatimu memanggil kenangan untuk kau hadirkan.

Aku mengenalmu ketika kau datang padaku dengan luka kenangan, mencoba menarikku dalam kehidupanmu dengan sejuta kebohongan. Iya, kau membohongi hatimu dan mencari pelarian. Aku melihat itu seiring jalan ketika kau berangsur menatap mataku, berucap kata, mencoba aku menggantikan kenangan yang belum bisa kau lupakan.

Kau merayuku dengan jutaan kiasan yang kau tuang dengan nama perasaan. Menghujamku dengan pesona cinta yang kau ucap itu kesungguhan. Tuan, aku bukan jalang yang mudah terbuai rayuan.

Aku melihatmu bak kumbang tanpa sayap. Berjalan dengan enggan berliuk bimbang, mencari-cari cara untuk mulai terbang. Aku mencoba menerimamu dengan sari-sari yang ku tawarkan. Kau kehausan, kau kelaparan.

Aku mencoba mentapamu lebih dalam, mengikuti alur permainan yang kau tunjukkan, perlahan aku menemukan jawaban. Kau masih sama, terus saja membual dengan rayuan. Aku diam, mengimbangi tipuan-tipuan permainan yang kau lakukan.

Sejenak aku menghancurkan permainan yang kau lakukan, mencoba membuatmu geram dan beralih perlahan. Satu persatu dirimu berangsur ku genggam, hingga kau merasa bosan dan ku tau apa yang kudapatkan. aku hanya ingin kau berhenti mencoba pesakitan dengan kebodohan yang kau lakukan. Kenangan itu berlari-lari dalam anganmu yang membimbangkan. Aku tau kau hanya ingin mencari pelarian, kau kelelahan.

Tuan, kini kau berhenti berjalan mencoba bercerita tentang kenangan padaku, aku yang kau jadikan pelarian kegundahan. Ku lihat kau kembali berkejaran dengan kenangan, kau merindukan kenangan. Kubiarkan kau bermain kembali dengan kenangan, aku hanya diam menatapmu dengan senyuman sembari kau menceritakan kenangan.

Aku yang membuatmu mengingat kenangan, aku ingin tau apa waktu berjalan begitu cepat hingga kau bisa menggantikan kenangan? Kau tau tuan, aku hanya tak ingin kau berjalan dengan harapan yang sudah ia hentikan. Namun, aku tak ingin kau mencoba memandang kedepan hanya dengan pelarian dari kenangan yang belum bisa kau relakan.

Tuan, ketika kau belum bisa menempatkan kenangan pada bagiannya, berhentilah mencari-cari jalang untuk kau jadikan sandaran kelelahan untuk sekedar beralih dari kenangan. Tak semua bunga di tepian itu jalang yang bisa kau jadikan pelarian dengan kebodohan rayuan-rayuan dan permainan tipuan yang kau lakukan. Kau tak akan pernah menemukan masa depan dengan terus berputar bersama kenangan dan kebohongan. Terlebih aku, tuan. Aku sangat menyayangkan, karna ku tau kau bisa mendapat yang lebih dari kenangan dan seorang jalang.

Tuan, datanglah kembali padaku ketika kau sudah berjalan menatap masa depan, ketika kau sudah berhenti mengais-ngais masa lalu yang sudah ia terbangkan, biarkan ia hidup abadi bernama kenangan, aku tak ingin kau hanya sibuk berlari mencari pelampiasan karna kelak kau yang jatuh terabaikan oleh tipuan

Ayu Ratu Nagari

listen the poem

https://soundcloud.com/ayuratunagari/kau-kenangan-dan-pelarian

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s