ia adalah wanitaku

cinta dalam labyrinth

Wajahnya natural , tak terpoles gincu-gincu wanita jalang yang merombaknya bak pemain sirkus yang dandannya berlebihan. Senyumnya manis, parasnya lembut namun ketika kau melihatnya mendalam dia begitu indah, bola matanya hitam bulat kecil, aku suka memandangnya berlama-lama. Dia sangat sederhana, bukan ketika ia berjalan semua mata akan terarah padanya, tidak. Dia adalah intan dalam tumpukan emas.

Dia sangat berbeda, sikap nya ramah dan apa adanya , aku sangat suka ketika ia tertawa, raut wajah mungil dan ekspresinya selalu membuatku tak jengah memandangnya dari balik punggung-punggung manusia dihadapannya.

Entah, mengapa aku selalu gugup ketika dia menyapa, aku selalu takut bertatap mata dengannya. Bahkan aku takut menyentuhnya. Dia wanita sederhana yang luar biasa. Jantungku selalu berdetak tak keruan saat kita duduk berdua.

Aku tak tahu rasa apa yang menyeringai tajam dibalik punggung kita, aku selalu ingin didekatnya, menjaganya dan menyayanginya. Dia begitu rapuh, aku tau itu. Tapi ia wanita hebat yang selalu ingin tampak kuat.

Hatinya begitu lembut untuk rasa, aku seperti melihat dua sifat didalamnya, anak kecil yang begitu manja dan rasa keibuan di dirinya. Aku tahu dia bahkan sangat keras kepala kurasa, namun aku selalu ingin tahu lebih banyak tentangnya. Wanita itu penuh tanda tanya.

“Namaku Rendra…”, aku berucap gugup dan begitu bodoh sembari mengulurkan tanganku. Klise

“Rara”, jawabnya singkat. Ia tersenyum simpul dan membalas berjabat tangan denganku.

Itu perkenalan singkat yang tak pernah kulupa, kali pertama itu aku gugup dengan wanita yang sangat sederhana dan begitu biasa kau pandang mata. Entah, ada apa dengan rasa di diriku yang selalu ingin mentapnya bahkan tak jemu jua. Wanita itu teman sahabat karibku.

Dunia begitu sempit setelah sekian waktu dan ternyata aku tau, dia teman masa kecilku. Lucu, dan itu awal kedekatanku. Wanita itu selalu mengganggu pikiranku.

“Kau ingat pertama kali kau menjabat tanganku? Kau harus merasakan degub jantungku kala itu”, tanyaku pada wanita itu.

“Bagaimana bisa aku mendengarnya? Berdekatan denganmu aku malu”, jawabnya tersipu dengan nada khas lucu suaranya. Tawa kami berdua berhambur bersama udara, lepas, aku bahagia.

“Kalau saja bisa kuputar waktu, kau harus tau bagaimana aku bersembunyi dari kerumunan hanya karna aku takut kau menatapku ketika aku sedang senyum-senyum sendiri menatapmu dari jauh”. Dia memelukku. Hari itu adalah tepat ke 22 ulang tahun-ku.

Wanita itu, aku mengaguminya, aku menyayanginya, aku suka senyumnya, aku selalu suka apapun tentangnya dan aku suka caranya memperlakukanku, dia jauh dari yang ku kira kala itu. Wanita itu yang membuatku malu ketika pertama kali kita bertemu, wanita yang sangat sederhana itu, ia adalah wanitaku…

———————————–

Ayu Ratu Nagari

Tertulis untuk mu sebuah cerita dari masa lalu. Bersama kenangan ceritamu yang kau ceritakan dengan caramu berulang waktu dulu.

Salam rindu untukmu jurnalis muda tampan berbakat yang selalu hidup di kenanganku 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s