sumpahmu..

cinta dalam labyrinth

 

Ia masih saja terus berucap sumpah untuk meyakinkanku, tangannya menggenggam tanganku seolah merayu. Aku tersenyum sinis meliriknya sepintas. Matanya tak pernah bisa berbohong padaku. Pandangku jauh, pikiranku berjalan jauh. Langkahku masih bersanding langkah lelakiku, lelaki yang selalu saja membohongiku.

Aku serasa geram, ini bukan sekali dua kali dia bersumpah dengan jawaban yang sama padahal ia berdusta. Aku tak ingin membongkar kebohongan yang sudah ku tau sedari awal adanya. Aku hanya menunggu sampai kapan sumpah sampahnya berakhir dalam kejujuran.

Mungkin karena aku terlalu muak dengan tampang lugu yang selalu jadi senjatanya, dengan perhatian, dengan rentan tubuhnya yang sakit-sakitan adalah senjatanya yang ampuh untuk ke-tidak-tegaan yang berkali-kali tak mampu ku kalahkan dengan ke egoisan.

Tak sekali dua kali banyak teman menegurku, “untuk apa kau pertahankan lelaki macam dia, lemah tubuhnya adalah persembunyiannya dari segala masalahnya. Pantaskah dia disebut lelaki?”.

“Dia itu cuma pengecut, kalau dia salah harusnya dia berani mengakui bukan malah lari seperti ini! Mau menghindar kemana ia? Bisa selesai amsalah? Tidak kan? Pikirlah Ta, tak pantas dia untukmu”.

“lelaki kok lemah, lelaki kok banyak dusta. Belum tau karma dia? Sudah ungkap semua, sumpahnya hanya sampah belaka. Jangan kau termakan sumpah-sumpahnya”. Dan selalu saja banyak cerca untuknya yang terngiang di ingatanku setiap kali aku bersamanya dan dia berdusta.

Aku selalu bertanya, untuk apa segala sumpahnya? Bukan hanya makin menambah dosanya? Kenapa dia begitu tenang dengan segala ucapan dan kemunafikannya? Apa dia sudah terbiasa hidup dalam kebohongan? Bahkan ucapan dan perbuatannya saja selalu berlawanan.

Cerca-cerca tentangnya berhambur dalam pikiranku, meklayang-layang membebaniku. Dia kah yang ku cintai? Dia kah yang ku sayangi? Pantaskah ia kudampingi? Lelaki yang penuh dusta ini?

———————————-

                “Sumpah, aku sudah tak ingat lagi sayang, dia masa lalu. Sekalipun aku tak pernah ingin tau tentang dia”, nadanya tinggi namun tenang. Lelaki itu menggenggam tangan wanitanya. Matanya memandang jauh, memikirkan entah..

“Baiklah, aku selalu percaya denganmu”, wanita itu hanya tersenyum simpul, masih tersimpan pertanyaan yang sama dalam benaknya. Keduanya terus berjalan, lelaki itu menggenggam tangan wanitanya. Wanita itu menatap jauh, mempertanyakan entah.

Kemudian bibirnya berucap lirih namun pasti, “kau tahu, sumpahmu adalah kebohonganmu dan dosamu..”

 

Ayu Ratu Nagari

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s