perpisahan dan awal

Esok, hanya senyum datar yang mampu tersungging dari bibir ku, hanya raut terpaksa “bahagia” yang bisa kuberikan pada dunia. Aku hanya ingin tersenyum saat perpisahan, aku sudah berjanji untuk tak menangis saat hari itu tiba. Ya Tuhan, kuatkan aku. Sungguh ini bukan yang kuharapkan, ini sangat menyesakkan jiwaku, tercabik-cabik sakitnya hati ini. Aku merelakan kau pergi, sayang. Esok, sungguh kalaupun aku mampu mengantarkanmu ke bandara itu, aku takkan mau. Bukan aku tak ingin mengantarmu, aku hanya takut seperti dulu. Aku mengantarkan pada sebuah perpisahan yang abadi. Aku ingin kau kembali. Aku tak ingin yang dulu terjadi lagi. Bandara itu selalu memisahkanku dari semua orang yang ku sayang. Dan tak satupun dari mereka yang kembali. Itu sungguh menyakitkanku.
Ingin rasanya sejenak kau tetap disini. Satu jam saja, aku hanya ingin mengenang semuanya. Mengenang apa yang telah terjadi, mengenang kebersamaan kita, canda dan tawa, semua kenangan aku dan kamu yang tak akan pernah terganti karena semua itu sudah tertanam dalam dalam hati ini dan jiwa ini. Ingin aku memelukmu saat ini tapi tak mungkin. Ingin aku melihatmu saat ini berikan aku senyumanmu karena aku akan merindukan itu. Terakhir kali saja aku ingin kau memelukku sebelum kau pergi namun ku takut tak mampu menahan air mataku. Kecup keningku dan ucap cintamu, berjanjilah kau akan kembali, disini aku menunggumu.
Kasih, dengarlah permintaan hati ini, sesungguhnya aku ingin kau jangan pergi. Tetaplah disini tuk temani aku, namun apa dayaku, itu keputusanmu dan aku hanya ingin mengikhlaskan kepergianmu. aku akan merindukanmu dan sangat merindukanmu. Aku merindukan hari-hari bersamamu, dalam pelukmu, canda tawamu untukku dan hadirmu. Haruskah aku menyesal menyianyiakan waktu yang telah terlewati bersamamu dalam amarah? Mungkin aku memang sangat menyesal. Aku ingin kau disini, sayang. Kumohon jangan pergi, aku takut akan kerinduan yang tak tersampaikan, aku takut hanya mendengar suara mu dalam semu.
Ya, Tuhan inilah perpisahan dan awal hidup baruku tanpa dia, dia yang akan jauh di sana. Aku takut tak sanggup tanpanya. Dia adalah semangatku, dia sudah jadi sebagian dari nafasku. Air mata yang sudah mengalir terlalu banyak untuknya, itulah segala ketulusan aku berikan bahkan itupun tak cukup. Semakin sedih rasa hati ini, saat itu akan segera tiba, saat perpisahan. Ijinkan air mata ini mengalir, sudah tak mampu aku membendungnya, saat ini saja. Biarkan aku dalam pelukmu, aku akan merindukan hari-hari bersamamu. Jangan ucapkan selamat tinggal, aku tak kuasa mendengarnya. Katakana dan berjanjilah kau akan kembali sayang, aku tak sanggup berpisah denganmu.
Aku ingin mengenang semua yang tlah kulalui bersamamu. Saat perkenalan, kebersamaan, suka, duka, lara , semua yang telah terjadi, hingga saat esok perpisahan. Sungguh, ku tak inginkan itu. malam ini, aku hanya ingin terlelap dalam mimpi yang indah, berharap saat aku terbangun dia ada disampingku. Aku ingin mimpi indah malam ini, tidur lelap dalam pelukmu, jangan bisikkan aku kata perpisahan. Aku ingin melihatmu esok…
Dengarlah sayang, aku menyayangi mu, aku mencintaimu, kau yang selalu aku harapkan. Ingat aku selalu, aku menunggumu disini. Hati ini akan selalu merindukanmu.. berjanjilah kau akan kembali,
Disini, aku yang selalu mencintaimu……..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s