pergi…

Sungguh aku merasakan sakit itu lagi, sakit yang teramat sakit. Aku mulai malas melangkahkan kaki menginjak rumah itu. Langkahku gontai. Aku benci dan aku tak suka. Pintu itu kubuka perlahan. Entah, rasanya malas dan teramat sangat malas bertemu dengan wanita paruh baya itu. Mendengarnya berbincang dengan lelaki di seberang telpon, yang membuatku jengah! Melihatnya bersolek berlama-lama di depan cermin, berucap manja sangat memuakkan! Ingin sekali rasanya aku pergi.
Dosakah aku membencinya? Wanita paruh baya itu? rasanya sakit hatiku. Tuhan, berikan jalan yang terbaik untukku. Kenapa semua kurasa semakin hari semakin berubah, belum sembuh sedihku akan takut kehilangan ia, kekasihku yang akan pergi dan harus ku tahu lagi hidup dengan wanita paruh baya yang kini membuatku teramat membencinya! Lengkap, inilah ujian dari Tuhan untukku
Sesak dadaku terasa, ingin ku menahan tangis, namun selalu tak terbendung. Ingin kuberteriak melepasakan rasa yang tertahan. Ah, mustahil takkan bisa ku lakukan, ini bukan alam bebas. Kalau saja aku berteriak, yang ada orang sekampung beramai-ramai membungkam mulutku. Menggeretku naik ambulans dan membawaku secara paksa ke rumah sakit jiwa! Huuh. Mereka pikir aku sudah tidak waras, berteriak-teriak sendiri di antara rumah-rumah penduduk yang padat, bahkan saat aku berbisik saja, mungkin tetangga sebelah akan mendengarnya. Itulah yang membuatku tak mungkin berteriak di tempat ini!
Tuhan, berikan aku kesabaran lebih, agar aku tak selalu mengeluh. Inginku selalu mensyukuri segala yang Kau berikan, karena sesungguhnya, jika aku selalu bersyukur, engkau akan memberikan kenikmatan yang lebih padaku. Tapi, aku hanya manusia biasa, tempatnya berbuat salah. Berikanku kesabaran, Tuhan. Aku hanya tak ingin selalu mengeluh kepadaMu..
Lelahkah aku, Tuhan? Tidak! Aku ingin mampu melewati cobaanMu. Disaat seperti ini, mungkin ini yang akan mampu membuatku lebih dewasa, berpikir rasional, dan tak mengutamakan emosi. Entah, mungkinkah aku bisa. Aku juga tak tahu, aku hanya yakin, aku bisa. Aku bisa tanpa dia dan betah bersama wanita paruh baya itu.
Tanpa dia? Ya, ku rasa aku pasti dan harus bisa! Ingin aku membencinya juga. Atau bahkan, membuat dia membenci ku. Dengan begitu di sini, aku tak perlu memikirkannya. Entah dia mau kembali ataupun tidak! Yang aku rasa hanya kebencian sehingga ikhlas ku melepasnya. Kenapa juga ku tak rela? Aku rela melepaskan orang “SAKIT” itu. ya dia sakit! Sakit jiwa. Arogansinya membuatku muak, egoismenya yang selalu merasa benar! Orang yang sering melukaiku, menghianatiku mungkin nantinya juga, dan yang tak pernah mengenal salah dan maaf! Memuakkan. Ya! Lebih baik dia pergi, semuanya pergi dan aku, di sini berharap wanita itu juga tak membuatku ingin pergi!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s